
Malam itu Alessya tertidur sangat nyeyak, tubuhnya yang lelah karena efek jogging dan dikejar anjing membuatnya tidur dengan lelap tanpa memikirkan kesedihan yang ia alami saat itu. Paginya Alessya merasa tubuhnya sangat segar dan lebih bersemangat. Ketika Alessya membuka mata, Alessya sedikit terkejut karena tiba-tiba ia melihat papanya yang tersenyum menatapnya yang sedang berbaring.
"Papa... kenapa papa disini" Alessya membersihkan belek di sela-sela matanya. Ia merasa malu dilihat papanya dengan kondisi rambut berantakan.
"Papa sudah mengabulkan permintaanmu, ayo sekarang kamu turun kita sarapan" Jordhan mencium kening Alessya, ia baru tahu jika putrinya memiliki kesedihan yang amat dalam namun ia menyembunyikannya dari papanya.
"Makasih paa.. Alessya sayang papa" Alessya memeluk papanya dengan bahagia. Alessya senang karena papanya menuruti permintaannya.
Alessya bangun dan sarapan bersama keluarganya. Setelah itu ia bersiap-siap pergi kekampus. Hari ini jadwalnya akan sangat padat selain kuliah seperti biasa, ia juga harus mengikuti kelas bimbingan kejuaraan. Alessya menuju mobil dan berangkat seperti biasa bersama sopirnya.
Sesampainya di kampus, banyak mahasiswa memperhatikan ponselnya dan bergosip ria. Alessya pun ikut membuka ponselnya dan melihat media sosial kampusnya, ia melihat berita bahwa Rektor dikampusnya sudah dipecat dan diturunkan jabatannya karena terlibat kasus korupsi disisi lain juga terdapat berita jika Prof Albert Wels yang akan menjadi Rektor baru. Alessya bernafas lega karena apa yang dia inginkan sudah terkabul. Alessya berjalan menuju ke ruang kuliah, namun tiba-tiba langkahnya berhenti dan Alessya bersembunyi dibalik tiang besar didepannya.
Alessya melihat Daffa bersama Adinda, namun kali ini terlihat Daffa sangat dekat dengan Adinda. Adinda terlihat menangis sedangkan Daffa mencoba menenangkannya. Ingin sekali Alessya melewati mereka dan menuju ke kelas, namun ia tak tahu harus bagaimana. Tak lama Alessya bersembunyi sambil memperhatikan mereka tiba-tiba Alessya melihat Adinda memeluk Daffa sambil menangis. Seketika hati Alessya merasa sangat sakit melihatnya, ia juga melihat Daffa tidak melepaskan pelukan Adinda.
Alessya mundur dan berbalik arah, ia tidak ingin melihat mereka terlalu lama. Alessya ingin pulang, namun ia menabrak seseorang di depannya.
Jeddugh (Kepala Alessya terbentur)
"Awwww, eh mas kalau jalan liat-liat dong..." Ucap Alessya memegang jidatnya dan mendangak ke atas, ternyata orang itu Alex dan bukan orang lain.
"Mau kemana? kenapa gak masuk, jangan bilang kamu mau kabur karena takut sama Prof William" Alex mengintrogasi Alessya yang mencoba melarikan diri. Alex melihat Alessya yang dari tadi bersembunyi dibalik tiang, dan ia juga melihat apa yang Alessya lihat tentang Daffa.
"Eh enggak kok kak... aku mau pulang ambil buku, buku aku ketinggalan" Ucap Alessya kebingungan.
"Pake bukuku aja, ayo masuk. Nanti telat" Alex menarik tangan Alessya agar mau masuk ke ruang kuliah, namun Alessya menolak dan berusaha menahan diri dari tarikan tangan Alex
"Iyaa kak... nanti aku masuk kok" Ucap Alessya tersenyum mencurigakan dan ia masih menatap Daffa yang saat ini bersama Adinda.
Entah apa yang ada di pikiran Alex tiba-tiba ia menutupi kepala Alessya dengan jaketnya dan kemudian merangkul Alessya sambil berjalan, Alessya yang kebingungan karena tidak bisa melihat apa-apa dan ia takut jatuh.
"Kak, aduhhh aku gabisa ngeliat" Ucap Alessya berusaha menarik jaket yang ada di kepalanya dan menutupi mukanya.
__ADS_1
"Sudah diam, bentar lagi kita deket sama Daffa. Kamu jangan brisik jika kamu tidak ingin dia tahu" Ucap Alex merangkul dan memegang kepala Alessya agar jaketnya tidak lepas dan jatuh.
Alex tersenyum melewati Daffa yang tengah menatapnya, Alex pun menatap Daffa balik dan melambaikan tangan dengan cool. Daffa mengerutkan dahi dan menatap Alex aneh, karena ia melihat Alex sedang menutupi seseorang. Sementara Alex tersenyum karena Alessya diam dan berjalan menurutinya. Kini Alex dan Alessya berhasil melewati Daffa dan Adinda. Alex melepaskan rangkulannya dan jaket yang ada di kepala Alessya.
Ketika jaket itu diambil, Alex terkejut melihat muka Alessya yang manyun dengan rambut yang berantakan.
"hehe sini-sini aku benerin rambut kamu, maaf yaa..." Ucap Alex merapikan rambut Alessya yang berantakan. Sementara Alessya langsung mengikat rambutnya karena ia takut terlihat buruk gara-gara rambutnya yang kusut.
**********
Saat Prof William menjelaskan materi, Alessya tidak bisa fokus mendengarkan dan mengikuti bimbingannya. Pikirannya selalu teringat Adinda yang memeluk Daffa. Tanpa terasa Alessya benar-benar tidak memperhatikan Prof William, buruntungnya Prof William tidak seperti Prof Albert yang suka melempar spidol saat mahasiswanya tidak fokus. Alex yang di sampingnya menyadari Alessya tidak fokus dengan materi yang diajarkan.
"Syuuttt Fokus, Kerjakan Soalnya" Bisik Alex menyenggol lengan Alessya.
Alessya tersadar kemudian menjawab soal-soal yang diberikan oleh Prof William. Alessya mengerjakan soal Prof William dengan perasaan ragu, pikirannya yang kalut membuat ia tidak bisa fokus dan merasa sedikit kesulitan dalam menjawab soal itu. Tak lama Alessya mengerjakan, ia mengumpulkan lembar jawabannya ke depan dan kembali duduk sambil menunggu panggilan Prof William.
Tok Tok ( Alex mengetok meja)
Alessya berdiri dan langsung mengambil jawaban yang telah dinilai. Alessya melihat nilainya lebih baik dari yang kemarin, namun masih tidak sebagus nilai Alex. Entah mengapa Alessya tidak memiliki semangat dan ia merasa biasa saja ketika melihat nilainya.
Alex melirik nilai Alessya, dan ia pun merasa aneh dengan Alessya yang saat ini.
"Loe kenapa sih syaa... kalau loe kayak gini, loe gak akan bisa mewujudkan keinginan loe" Batin Alex menatap Alessya yang menunduk dengan tatapan kosong.
"Nanti ada waktu gak, aku mau berkunjung kerumahmu" bisik Alex.
"Jangan nanti deh kak, aku mau istirahat capek banget sumpah" Ucap Alessya dengan memijat lengannya sendiri.
"Aku gak tau apa masalah kamu sekarang, yang jelas aku cuma mau ingetin tujuan dan keinginan mu bergabung di kelas bimbingan ini, itu semua agar kamu bisa mengikuti IPhO dan berhasil lolos ke London, tapi lihat deh sekarang nilai kamu. Apa nilai itu menurutmu sudah cukup?" Alex menatap Alessya yang tiba-tiba menunduk mendengar nasehatnya.
"Iyaa deh kak ntar aku mau belajar sama kakak, tapi kenapa dirumah? kan biasanya di perpus" Tanya Alessya merasa heran dan ia memiliki rasa curiga jika Alex akan memberi tahu papanya tentang nilai yang ia peroleh.
__ADS_1
"Kan ada papamu, biar kamu fokus belajarnya" Alex tersenyum menjawab dengan santai, ia sudah bisa membaca pikiran Alessya.
"Jangan bilang kak Alex bakal ngaduin nilai aku ke papa" Ucap Alessya memegang lengan Alex dan mulai meremasnya perlahan-perlahan dan semakin keras.
"Tergantung kamu, ntar belajarnya fokus atau gak" Alex menepis tangan Alessya yang memeras lengannya karena ia merasa sedikit sakit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Simak terus kelanjutan kisahnya, jangan pernah bosan dan jangan lupa beri like dan vote author agar author lebih semangat lagi dalam melanjutkan kisah Alessya. Terimakasih atas dukungannya 💗💗💗