Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Menuju IPhO


__ADS_3

"Syaa...kenapa jalannya cepet banget gini sih," ucap Alex kebingungan melihat Alessya berjalan dengan cepat sambil menggandeng tangannya.


"Kak Alex ini gak bisa bedain yaa mana cewek yang genit, mana cewek yang kerjaannya cuma modus trus mana cewek yang bener-bener baik. Diliat dulu dong kak orangnya..jangan langsung gampang ngasih nomor ponsel kayak tadi," ucap Alessya kesal melepaskan tangan Alex.


"Jadi kamu marah cuma karena aku mau kasih nomer ke mbak tadi, itu kan cuma niat promosiin tokonya syaa..aneh kamu ini, udah ayo pulang," ucap Alex tersenyum mencubit pipi Alessya yang sedang cemberut.


"Dihh kak... itu cuma modus, tadi mbaknya sudah mencoba minta nomer kak Alex ke aku, tapi gak aku kasih.. mangkanya mbak itu minta langsung ke kak Alex dengan alasan promosi," ucap Alessya masih kekeh menyadarkan Alex.


"Oke oke... yang tadi itu modus, dan aku memang tidak bisa membedakan mana yang modus dan mana yang genit. Aku hanya bisa melihat mana yang cantik alami dan mana yang cantik buatan," ucap Alex berusaha mengalah dan berusaha mengalihkan pembicaraan agar marah Alessya hilang.


"Mana ada yang kayak gitu," ketus Alessya mulai malas menasehati Alex.


"Ada dong... kamu, aku hanya bisa melihat kamu yang kalau marah tetap cantik, tersenyum tambah cantik dan menangis jadi jelek buahahahha," Alex tertawa ketika melihat ekspresi Alessya yang tambah manyun dan terlihat kesal.


"TERSERAH," ucap Alessya meninggalkan Alex di parkiran dan terus berjalan, sementara Alex masih tertawa di atas motornya dan semakin membuat Alessya kesal.


Alessya tidak memperdulikan Alex yang tertawa di belakangnya, ia terus berjalan dengan perasaan kesal karena Alex tidak bisa diajak serius. Alex terus memanggil Alessya dengan mengendarai motornya pelan meminta Alessya untuk naik ke motornya.


"Syaa... udah dong marahnya, iyaa aku salah... maaf yaa... tapi aku gak bohong kok, aku cuma bisa melihat kamu yang kalau marah tetap cantik, tersenyum tambah cantik dan menangis jadi jelek.. mangkanya aku gak suka kalau kamu nangis," ucap Alex menjelaskan pada Alessya yang terus berjalan dan ngambek.


"Trus maksud kakak, aku cantiknya buatan gitu!" ucap Alessya berhenti berjalan dan menatap Alex disampingnya.


"Alami kok Alami... serius nih, tanpa make up pun kamu tetep cantik. Udah yaa jangan marah... iyaa aku janji gak akan kasih nomer ponsel ke pelayan toko lagi," Alex membelai rambut Alessya yang terkena angin di pinggir jalan.


Tanpa menjawab ucapan Alex, Alessya langsung menaiki motor Alex dengan rasa kesal yang mulai hilang. Alessya menunggu Alex menjalankan motornya namun Alex tidak juga menjalankan motornya.


"Ayo jalan kak, kok diem," ucap Alessya kebingungan


"Pegangan dulu, baru jalan," ucap Alex tersenyum menunggu Alessya memeluknya, namun Alessya hanya memegang jaket di pinggangnya. Muncullah ide gila dipikirannya, ketika Alessya hanya berpegangan pada jaket dipinggangnya, Alex langsung menancap gas tiba-tiba dan motornya langsung berjalan dengan kecepatan maximal. Sontak hal ini membuat Alessya kaget dan memukul Alex sangat keras.


"KAK ALEX !!!" Alessya memukul punggung Alex dengan sangat keras. Alessya terkejut ketika motornya langsung berjalan dengan cepat saat ia belum siap.


"Mangkanya pegangan yang bener... marah mulu dari tadi," Alex tersenyum melihat Alessya memukulnya, dan kini ia merasakan pelukan Alessya yang sangat erat.


Alessya tersenyum dan tak bisa marah lagi dengan Alex, walaupun terkadang Alex sedikit menyebalkan namun bagi Alessya, Alex adalah sosok yang sangat sabar dan selalu ada untuknya. Alessya baru sadar bahwa hanya dengan bersama Alex ia terlepas dari pengawasan para bodyguard suruhan papanya. Alessya melihat sekelilingnya namun kali ini ia benar-benar tidak dalam pengawasan dan itu membuat Alessya penasaran dan ingin menanyakan langsung pada papanya.


Sesampainya dirumah, Alex menyuruh Alessya masuk dan ia tidak akan pergi sebelum Alessya benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Alessya tersenyum ketika ia masuk dan mengintip ke luar jendelanya dan ternyata Alex masih di depan rumahnya hanya untuk memastikan dirinya benar-benar tidak keluar lagi. Alessya tersenyum sambil menaiki tangga menuju kamarnya, tanpa ia sadari papa dan mamanya sedang memperhatikan gerak-geriknya di bawah.

__ADS_1


**********


Paginya Alessya memasuki kelas bimbingan, hari ini ia akan menerima bimbingan terakhir sebelum ia mengikuti tes seleksi untuk IPhO. Mata Alessya sangat berat dan sedikit mengantuk karena ia semalam belajar untuk persiapan tes seleksi. Kali ini Alessya datang lebih dulu dari Alex, ia langsung duduk di tempatnya sambil membaca buku.


"Eh bocah, ambil tuh sampah diatas loe sebelum Prof William liat. Kalau sampai Prof melihat ada sampah di kelas, tahu sendiri loe ntar," ucap Ibel menyuruh Alessya mengambil pesawat kertas dan kemucing yang nyangkut di jendela tepat di atasnya.


Alessya melihat ke atas dan merasa heran bagaimana bisa ada kemucing nyangkut di atasnya. Tanpa berfikir panjang Alessya pun menaiki meja dan berusaha mengambil kemucing yang tersangkut di atas. Namun sayangnya Alessya tidak terlalu tinggi hingga ia harus jinjit agar tangannya sampai. Alessya terus berusaha meraih kemucing itu sampai ia tidak merasa jika meja yang ia naiki bergoyang dan Alessya hampir terjatuh kebawah.


"Gak bisa yaa kalau gak nunggu aku," ucap Alex dengan sigap menahan tubuh Alessya yang hendak jatuh.


"Eh untung ada kak Alex, tolong dong kak ambilin... aku gak sampai hehe," ucap Alessya tersenyum dan setengah kaget karena dirinya hampir jatuh.


"Yaudah turun... awas hati-hati," Alex memegang tangan Alessya dan membantunya turun. Ia pun mengambil kemucing dan pesawat kertas yang tersangkut di atas.


"Makasih kak," Alessya tersenyum dan kembali duduk.


Tak lama kemudian Prof William masuk dan membagikan lembar soal latian terakhir. Alessya pun mengerjakan soal latihan itu seperti biasa, namun kali ini tanpa bimbingan dari Alex. Sesekali Alex melirik Alessya, ia terlihat tengah serius mengerjakan soal latihan yang diberikan Prof William.


"Syuut bisa gak.." bisik Alex dan menyenggol lengan Alessya.


Alex melihat Alessya sangat fokus dan ia terlihat sangat serius dan tidak membutuhkan bantuannya. Beberapa menit kemudian Alessya mengumpulkan lembar jawaban miliknya di depan. Semetara Alex mengambil lembar miliknya karena telah selesai dinilai oleh Prof William.


Alessya melihat wajah Alex yang datar dan biasa saja ketika mendapatkan lembar jawabannya dari Prof William, seketika Alessya langsung melihat hasil yang Alex dapatkan karena merasa penasaran.


"Padahal nilainya bagus gini, tapi kak Alex terlihat biasa aja," ucap Alessya memberikan kembali lembar jawaban milik Alex.


"Lah emang aku harus gimana?" ucap Alex merasa bingung dengan pernyataan Alessya.


"Yaa senyum kek, atau apa taa gitu," ucap Alessya berdiri dan mengambil lembar jawabannya di depan.


Alessya melihat hasilnya belum sebagus Alex, ia hanya mendapatkan poin 95 sedangkan Alex mendapatkan poin 100. Seketika Alessya merasa pesimis dengan hasilnya besok.


"Kenapa syaa..." tanya Alex menatap Alessya yang cemberut.


"Nilaiku jelek kak...gak sebagus nilai kak Alex," ucap Alessya merasa sedih melihat hasil yang ia dapatkan.


"Itu bagus kali syaa... cuma beda dikit dari punyaku, palingan juga banyak yang hasilnya dibawahmu," ucap Alex memasang headset dan mendengarkan music.

__ADS_1


"Masak sih kak... emang siapa coba yang nilainya dibawah ku," ucap Alessya menatap Alex.


Alex pun melepaskan headset di telinganya dan menoleh ke arah Ibel untuk meyakinkan Alessya.


"Bel loe dapet berapa???" tanya Alex pada Ibel yang tengah menatapnya.


"Gue, 100 dong... kan gue mau ke london bareng loe," ucap Ibel tersenyum menatap Alex.


Seketika mood Alessya berubah dan raut wajahnya yang kesal ketika melihat Ibel sangat antusias untuk mengikuti IPhO bersama Alex.


"Berarti kamu harus lebih rajin lagi belajarnya, aku yakin kamu bisa, atau bagaimana kalau nanti kita belajar bareng untuk tes besok," ucap Alex merasa bersalah karena sudah membuat Alessya berkecil hati ketika mendengar jawaban dari Ibel.


Alex menyesal telah bertanya pada Ibel, selama ini ia memang setara dengan Ibel. Selain bersaing dengan David dan Rikky, ia juga bersaing dengan Ibel. Bedanya David dan Rikky tidak pernah tertarik untuk lolos dalam IPhO, sedangkan Ibel sangat antusias untuk mengikutinya.


"Oke, aku akan berusaha mengalahkan Ibel," ucap Alessya bersemangat karena tidak ingin melihat Alex ke London bersama Ibel.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terus dukung Author dengan cara L I K E di setiap episodenya dan V O T E kisah ini agar autor lebih rajin update. Jangan pernah bosan dan ikuti terus kelanjutan kisahnya๐Ÿ˜Š


T E R I M A K A S I H A T A S


D U K U N G A N N Y A ๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—

__ADS_1


__ADS_2