
Jam istirahat telah berakhir, kelas barikutnya adalah materi kuliah Fisika Kuantum yang dosennya adalah Bu Qeila. Bu Qeila orangnya sangat lembut dalam berbicara, kelembutan bu Qeila dalam menyampaikan materi membuat banyak mahasiswa yang memilih tidur, karena merasa di dongengin selama jam kuliah berlangsung. Namun jangan salah... materi yang di berikan cukup rumit. Butuh konsentrasi yang kuat untuk memahaminya. Bergulat dengan rumus yang banyak bukanlah hal yang tabu untuk mahasiswa Fisika Murni. Tak heran jika banyak mahasiswa memilih untuk berhenti dan pindah fakultas dengan alasan tidak kuat dengan materi yang diberikan.
"Coba siapa yang bisa mengerjakan soal didepan, ibu beri nilai plus," ucap Bu Qeila usai menjelaskan materi yang ia berikan.
"Boleh saya mencobanya bu," Alessya mengangkat tangannya sekedar ingin mencoba dan merasa penasaran.
"Tentu boleh cantik, ayo silahkan," jawab Bu Qeila tersenyum, ia terlihat sangat menyukai Alessya yang berparas cantik.
Alessya mencoba mengerjakan satu soal di depan dengan jawaban yang melebihi satu papan. Teman-teman yang lain mengagumi kecerdasan otak yang dimiliki oleh Alessya. Sementara Daffa fokus memandangi Alessya yang sedang menulis dipapan, dengan berharap ada kesalahan yang muncul saat menjawab soal tersebut.
"Paket lengkap banget dah Alessya ini, sudah cantik, mulus, kaya, behhh ditambah otak yang encer," Gilang mengoceh terkagum-kagum.
"Ini jawaban saya bu, maaf kalau ada kesalahan. Saya masih sedikit ragu dengan jawaban saya," ucap Alessya dengan sedikit kurang percaya diri.
"Ini sudah benar sekali mbak.. jawabanmu lebih detail dari jawaban mahasiswa S1 pada umumnya," ucap Bu Qeila yang sejak tadi memperhatikan Alessya menulis di papan.
"Hebat sekali anak-anak teman kalian ini bisa menjawab pertanyaan yang sulit, dengan jawaban yang tak kalah sulit untuk anak S1," ungkap Bu Qeila di depan semua mahasiswa.
Ariyani dan teman-teman yang lain merasa kagum dan bertepuk tangan karena kehebatan Alessya. Berbeda dengan yang lain, Daffa justru terlihat tidak senang mendengarkan hal itu. Melihat Bu Qeila yang sangat membagakan Alessya, Daffa merasa semakin tersaingi. Dirinya tidak menyangka bahwa Alessya lebih pintar dari dirinya.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 Wib. Alessya memasukkan semua bukunya kedalam tas, ia melihat Daffa yang dengan terburu-buru keluar dari kelas.
"Loh, kok aku ditinggal sih," batin Alessya, dengan terburu-buru Alessya mengejar Daffa hingga ke parkiran.
"Daffa.... Daffa... tunggu," teriak Alessya
namun Daffa tidak menggubris panggilan Alessya. Alessya pun berlari terus mendekati Daffa
"Daffa, ih.... kamu kok ninggalin aku," ucap Alessya memukul punggung Daffa.
"Aku mau pulang duluan, aku ada urusan. Kamu pulang sama Pak Ponco aja," ucap Daffa terus berjalan tanpa memperdulikannya.
"Emang kamu mau kemana? apa aku tidak boleh ikut," tanya Alessya kebingungan dengan sikap Daffa yang sangat aneh dari sebelumnya.
__ADS_1
"Aku kan udah bilang kalau aku ada urusan...," jawab Daffa dengan suara yang tinggi membuat Alessya terkejut.
"Iyaa emang kamu mau kemana sih Daff.. aku cuma ingin tahu aja," ucap Alessya semakin ngotot ingin tahu kemana Daffa akan pergi sampai ia semarah itu dengan dirinya.
"Ada hal yang gak perlu kamu tahu, dan gak perlu aku kasih tau ke kamu," jawab Daffa singkat dan ia pun langsung menaiki motornya.
"Aku kan pacarmu Daff, kenapa susah banget cuma mau ngasih tau hal itu?" Alessya merasa sangat heran dengan sikap Daffa yang tiba-tiba berubah.
"Udah deh syaa.. aku malas debat sama kamu. Gak semua hal kamu harus tau," ucap Daffa sedikit emosi menghadapi Alessya yang terus bertanya kemana ia akan pergi.
Daffa menyalakan motornya dan pergi meninggalkan Alessya di parkiran sendiri. Alessya heran melihat perubahan Daffa yang berubah sangat drastis.
"Kalau hal kecil aja gak bisa kamu kasih tau ke aku, ngapain kamu minta aku buat jadi kekasihmu?" batin Alessya seketika merasa sangat sedih melihat Daffa yang sama sekali tidak memperdulikannya.
Alessya mengeluarkan ponselnya dan meminta pak ponco untuk menjemputnya. Tak terasa air mata membasahi pipinya.
Alessya duduk menyendiri di bawah gazebo dengan terus memikirkan perubahan Daffa. Alessya terus memandangi layar ponselnya berharap ada pesan masuk dari Daffa. Namun pesan yang datang bukanlah pesan dari Daffa, melainkan pesan pak ponco yang mengatakan bahwa ia sedang mengantar Papa Alessya keluar kota dan tidak bisa menjemputnya. Seolah alam sudah berencana memberikan situasi yang sangat berat untuknya hari ini, sampai tak seorang pun mau bersamanya. Alessya semakin sedih dan tak tahu harus bagaimana ia akan pulang.
Sementara itu saat Alex berjalan menuju parkiran, pandangannya tertuju pada sosok wanita cantik sedang duduk menyendiri di bawah gazebo. tangannya yang tidak pernah lepas dari kamera yang ia pegang, membuat dirinya kembali memotret Alessya secara diam-diam
Alessya menoleh dengan tatapan sendu. Air matanya yang suda tak bisa tertahankan, akhirnya menetes di depan Alex.
"Kak Alex... hiks hiks hiks," ucap Alessya sambil menangis.
"Hei.. kamu kenapa syaa? Siapa yang buat kamu nangis" tanya Alex kaget melihat Alessya menangis.
Alessya terdiam mengahapus air matanya dan mencoba menenangkan diri.
Alex memberikan sapu tangan miliknya, dan Alessya menerima sapu tangan Alex.
"Coba kamu ceritain ke kakak, apa masalahmu sampai kamu nangis seperti ini," ucap Alex mencoba menenangkan Alessya.
"Aku gak ada tebengan kak...sopir aku tidak bisa jemput hiks hiks hiks" ucap Alessya kembali menangis. Dirinya mengatakan hal itu karena ia tidak mau menceritakan yang sebernarnya pada Alex.
__ADS_1
"Yaa ampun syaa... kalau cuma tebengan kan disini banyak, tuh motor diparkiran juga masih banyak. Disini juga ada aku syaa...," ucap Alex geleng-geleng kepala mendengar hal itu dari Alessya.
"Lagian Daffa kemana? kok kamu ditinggalin, bukannya tadi pagi kalian berangkat bareng," tanya Alex merasa heran mengapa Daffa meninggalkan kekasihnya sendirian.
Alessya kembali menangis dan tak kuasa untuk menceritakan yang sebenarnya. Alex menepuk pundak Alessya agar ia merasa sedikit lebih tenang. Alex berfikir kesedihan Alessya bukan karena sopirnya yang tidak bisa menjemputnya, melainkan hal lain.
"Udah syaa... jangan nangis lagi, yok aku antar kamu pulang, kan kita searah," ajak Alex pada Alessya dengan meraih tangan Alessya agar mau beranjak dari tempatnya.
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan buat cerita, inget kamu tidak sendirian masih ada aku, sahabatmu Ariyani dan yang paling penting masih ada Allah,"
"Beneran kak, aku mau diaterin pulang," tanya Alessya ragu-ragu.
"Beneran dong, tapi bayar yaa," ucap Alex tersenyum menatap Alessya.
"Iyaa kak, nanti aku bayar...," Alessya kembali tersenyum dan merasa sedikit lebih tenang.
"Tapi bukan dengan uang, bayar aku dengan ketulusan" ucap Alex menggoda Alessya agar kembali tersenyum.
Alessya yang tidak paham maksud Alex, ia hanya memandang Alex penuh tanya.
"Yaudah ayok... keburu malem ntar," ajak Alex menggandeng tangan Alessya menuju parkiran.
"Lets Go kak..." ucap Alessya tersenyum mengikuti langkah Alex.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa L I K E dan V O T E untuk memberi dukungan pada Author😉