Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Bathup yang Penuh Air


__ADS_3

Berjalan di belakang dan mengikuti langkahnya, Alessya melihat jelas tubuh lelaki yang baru saja melamarnya. Badannya yang tinggi, tubuhnya yang kekar, bahu nya yang bidang, membuat dirinya tidak percaya jika laki-laki yang saat ini di depannya telah menjadi miliknya. Alessya berlari mengikuti langkah Alex dan memeluknya.


"Eh, kenapa?" ucap Alex yang seketika langkanya terhenti. Pelukan di tubuhnya seolah merasakan seseorang yang melarangnya untuk pergi.


"Gapapa kok, cuma pengen peluk aja,"


"Jangan bilang kalau kamu ingin aku kembali ke kamar tadi," sahut Alex berbalik dan menatatap Alessya dengan senyuman dan mengetuk jembatan hidung Alessya.


"iiiihh apa'an sih," memasang muka cemberut dan melangkah meninggalkan Alex di belakangnya.


Dengan tersenyum Alex mengikuti langkah Alessya di depannya, ia terlihat sangat mungil ketika berada di dekatnya. Dari awal melihatnya, Alex sudah sangat tertarik. Alex merasa sangat ingin berada di dekatnya dan selalu melindunginya. Mungkin itulah alasan Tuhan menciptakan tubuhnya yang kekar karena di masa depan, dirinya akan menjadi sosok yang selalu ada dan melindungi kapan pun dan dimana pun gadis mungil itu berada.


"Tunggu !!! awas hati-hati," Alex berlari mendahului Alessya yang hendak membuka pintu mobil, dengan hati-hati ia melindungi kepala Alessya agar tidak terbentur.


"Terimakasih... calon suami," ucap Alessya tersenyum.


Mendengar hal itu dari Alessya, Alex merasa senang, ia pun menutup pintu mobil dengan tersipu malu. Sambil menyetir, Alex melirik Alessya yang sejak tadi tersenyum menatap cincin di jari manis nya.


"Sesimple itu kah membuat hati wanita bahagia?" celetuk Alex membuyarkan senyum Alessya yang kini menatapnya.


"Maksud kak Alex ???" tanya Alessya menatap Alex yang tersenyum di hadapannya.


"Dari tadi aku lihat, kamu tersenyum melihat cincin itu sampai aku sendiri tidak kamu hiraukan dan sekarang kamu pun tidak sadar kalau kita sudah sampai di depan rumah kamu. Apa sesimpel itu membuat wanita bahagia,"


"Yaa emang, simple banget sih, tapi gak semua cowok mau melakukan hal sesimpel ini. Banyak wanita yang rela menunggu ketidak pastian dari seorang pria yang hanya mengumbar janji," pungkas Alessya menjelaskannya pada Alex.


"Aku bersyukur karena memilikimu yang bukan hanya sekedar mengumbar janji. Dan aku gak akan tinggal diam jika seandainya suatu saat ada orang lain yang membuatmu berpaling dariku" ucap Alessya dengan merapikan rambut Alex yang sedikit acak-acakan.


"Baiklah sayangku yang cantik... Sekarang masuk gih, jangan begadang, besok aku jemput buat pemotretan," ucap Alex tersenyum. Alessya tersenyum dan membuka pintu mobil, dirinya sudah tidak sabar untuk melanjutkan hari-harinya yang akan menuju pernikahan.


Ketika memasuki rumahnya, ia melihat mama dan papanya sudah menunggu di ruang keluarga dengan penuh senyuman.


"Selamat sayang... akhirnya kamu menemukan jodohmu, semoga nak Alex bisa selalu menjagamu," peluk Widhia pada putrinya dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Selama ini papa selalu sibuk di luar negeri dan sekarang papa gak nyangka, bentar lagi kamu akan ninggalin papa dan mama sendiri," ucap Jordhan menahan rasa sedihnya melihat putrinya yang sebentar lagi akan menikah.


"Iiihhh papa...jangan nangis, Alessya gak akan pernah ninggalin papa dan mama. Papa ihh jangan nangis, kan Alessya jadi sedih lihatnya. Walaupun selama ini papa jarang banget sama Alessya, tapi Alessya bahagia punya papa," tangis Alessya pecah ketika melihat papanya menangis.

__ADS_1


"Sudah deh paa... nanti kalau putri kita gak mau nikah gara-gara papa gimana? trus kapan kita bisa punya cucu," sahut Widhia melepaskan pelukan Alessya dengan papanya.


"Yaudah sayang, lebih baik sekarang istirahat," ucap Jordhan sambil mengusap air mata putrinya.


Alessya hanya mengangguk dan pergi ke kamarnya. Dalam hatinya ia masih teringat kesedihan papanya yang harus bersiap untuk melepaskannya untuk orang lain. Alessya berfikir setiap orang tua pasti tidak ingin anaknya meninggalkannya walaupun tujuannya adalah untuk berumah tangga, karena sampai kapanpun dan sedewasa apapun dirinya, ia akan tetap dipandang seperti putri kecil yang sangat mereka sayangi. Alessya berusaha untuk lebih tenang, dan memejamkan matanya.


**********


Samar-samar Alessya merasakan belaian lembut di pipinya, terasa hangat dan sangat nyaman. Namun dengan sekejap Alessya membuka mata ketika dirinya merasa kedua pipinya yang tertekan membuat mulutnya terbuka mirip pantat ayam ketika bertelur.


"BAA NGUN," satu kata yang Alex ucapkan dengan tawanya yang tertahan ketika melihat Alessya terbangun dengan pipinya yang ia tekan karena merasa gemas.


"Kok kak Alex bisa disini," ucap Alessya terkejut melihat Alex kini berada di kamarnya, dan ia pun sontak menutupi tubuhnya dengan selimut karena hanya memakai piyama.


"Kan aku udah bilang kalau mau jemput kamu, udah sana mandi. Keburu siang ntar," ucap Alex beranjak dan duduk di sofa.


"Yaa kak Alex keluar dulu dong, aku kan mau mandi," sahut Alessya masih di ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Emang mandinya disini? kan kamar mandinya disana syaa..." tunjuk Alex ke pintu kamar mandi dan masih merasa heran mengapa dirinya harus keluar dari kamar Alessya.


Sementara Alessya yang merasa bingung harus bagaimana caranya untuk menyampaikan pada Alex jika dirinya saat ini tengah mengenakan baju tidur yang tipis dan merasa malu jika Alex sampai melihatnya.


"Emmpp...bentar lagi yaa kak, oh iya gimana kalau kak Alex tunggu aku di bawah," ucap Alessya mencoba mencari alasan agar Alex mau pergi dari kamarnya.


Merasa Alessya semakin aneh, tanpa basa-basi Alex pun beranjak dari duduknya namun bukan untuk keluar dari kamar Alessya melain menghampiri Alessya yang masih di atas ranjang kemudian mengangkat tubuh Alessya dan membawanya ke kamar mandi. Sontak hal itu membuat Alessya terkejut.


"Iiiihh kak Alex ngapain?" ucap Alessya terkejut dan dengan sigap menutup mata Alex yang saat ini tengah menggendong tubuhnya.


"Eh syaa... aduh, jangan ditutup mataku... aku gak bisa liat," sahut Alex mencoba untuk menggerakkan kepalanya agar lepas dari tangan Alessya, sementara dirinya yang saat ini tengah menggendong Alessya sangat takut jika menjatuhkan Alessya ke lantai karena matanya yang tertutup.


"Mangkanya turunin dulu, baru aku buka..," pinta Alessya berusaha tetap menutup mata Alex.


"Mandi syaa.... Mandi... yaa ampun susah banget sih cuma mandi. Mending kamu minggirin tangan kamu, aku gak bisa liat nih bathup nya," ucap Alex setengah kesal karena Alessya terlalu banyak alasan.


Merasa tak tahan dengan perlakuan Alessya, ia pun mencoba berjalan perlahan untuk menemukan letak bathup di kamar mandi Alessya dengan keadaan matanya yang tertutup. Samar-samar Alex bisa melihat letak bathup yang berada sebelah kanan walau matanya tertutup, perlahan Alex pun melangkah dan ujung jari kakinya kini tengah merasakan bathup di depannya.


"Minggirin tangan kamu syaa... nanti aku bisa jatoh, aku mau turunin kamu nih," ucap Alex dengan menggeleng-gelengkan kepalanya agar lepas dari tangan Alessya. Namun naas, bukannya berhasil lepas, tubuh Alex terhuyung karena merasa pusing dengan kepalanya yang terus bergeleng-geleng. Kakinya pun tergelincir dan membuat dirinya dan juga Alessya jatuh ke tempat yang sama.

__ADS_1


Jeebbbyuuurrr......


"Aaaaaa kak Alex," teriak Alessya ketika tubuhnya jatuh bersamaan kedalam bathup yang berisi air.


"Aduhhh kakiku, kamu gapapa kan?" ucap Alex merasa kakinya sakit karena terbentur bathup dengan sangat keras.


"Jadi basah kan? ihhh lagian kak Alex ngapain sih pake gendong-gendong segala, aku kan bisa jalan sendiri," omel Alessya sedikit kesal karena tubuh dan bajunya kini basah.


"Lagian kamu juga sih gak cepet mandi, udah tau sekarang sekarang ada pemotretan. Kamu juga ngapain pake tutup mata aku segala," pungkas Alex ikut merasa kesal karena dirinya di omelin oleh Alessya.


"Kak Alex gak liat apa, aku tuh lagi pakai piyama. Lagian ngapain kak Alex tiba-tiba masuk kamar aku, kan bisa ketok dulu biar aku bisa bangun dan persiapan ganti pakaian. Aku tuh malu, kak Alex itu cowok...," sahut Alessya dengan suaranya yang menggema terkesan sangat marah.


Mendengar ucapan Alessya, Alex baru sadar ternyata pakaian Alessya sangat tipis dan saat ini dalam keadaan basah terlihat terawang. Dirinya merasa bersalah dan dengan cepat Alex membuka kemeja yang ia gunakan.


"Maafkan aku... aku gak tahu, jujur dari tadi aku gak lihat. Tapi sekarang sudah lihat kok, maaf yaa...," ucap Alex menutupi tubuh Alessya dengan kemejanya.


"huuuumpp kak Alex... kan sama aja ujungnya kak Alex juga ngeliat, padahal aku berusaha menutupinya," Alessya menangis karena merasa malu.


"Maaf sayang... maaf yaa... jangan nangis, aku gak bermaksud apa-apa kok. Lagian kamu gak perlu malu, kamu kan sebentar lagi jadi istriku. Udah yaa... jangan nangis," ucap Alex memeluk Alessya dan mencoba menenangkannya.


Tangis Alessya terhenti ketika mendengar ucapan Alex, ia berfikir ucapan Alex ada benarnya, karena cepat lambat semuanya pasti akan terjadi ketika dirinya nanti menikah dengan Alex.


"Aku keluar yaa sekarang, kamu mandi aja dulu," ucap Alex melepaskan pelukannya dan beranjak dari bathup.


"Di lemari ada handuk kak, tubuh kak Alex juga basah. Jangan lupa untuk dikeringkan," sahut Alessya merasa kasihan melihat Alex yang juga basah dan kini tidak memakai baju, karena kemejanya ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.


"Siap princes...," senyum Alex dan keluar dari kamar mandi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued....


__ADS_2