
Alessya yang saat itu tidak punya pilihan lain, ia terpaksa menyetujui persyaratan yang Alex ajukan. Sebenarnya baginya bukan masalah jika hanya tidur dengan memakai pakaian panjang dan celana panjang, karena dirinya pun tidak akan merasa kepanasan ketika ia menyalakan AC di kamarnya, namun yang membuat dirinya sedikit kesal yaitu, mengapa ia tidak boleh tidur dengan berpelukan? padahal kan sweet dan romantis.
Sementara Alex yang awalnya berniat untuk pulang, ia pun akhirnya berbalik ketika mendengar jawaban Alessya jika ia menyanggupi persyaratan yang telah diberikan. Alex tersenyum dan berbalik dan kini menatap Alessya yang wajahnya di tekuk karena mungkin sedikit terpaksa dan kecewe. Ia berjalan menuju kamarnya dan dengan sangat hati-hati Alex pun mengikuti langkahnya.
"Bener-bener seperti orang penyusup," batin Alex menatap sekeliling dan memperhatikan langkahnya yang takut terdengar orang rumah Alessya.
"Masuk kak.... ngapain berdiri disitu?" ucap Alessya menatap Alex yang terdiam di dekat tangga depan kamarnya.
"Sssstttyyyuuut jangan rame-rame, kalau Om Jordhan tahu, aku bisa dibunuh," dengan sigap Alex membungkam mulut Alessya dengan tangannya.
"Dan aku, akan menyusulmu...," sahut Alessya tersenyum menepis tangan Alex yang telah membungkamnya.
Menatap Alessya yang mengakatakan hal itu membuat Alex geleng-geleng kepala dan tak habis pikir, bisa-bisanya dia tersenyum ditengah waktu yang mungkin akan membayakan dirinya. Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana besok pagi ia akan menghadapi orang tua Alessya.
"Oh iyaa kak, aku ganti baju dulu yaa.. inget !!! jangan pernah kabur," ucap Alessya memperingati Alex, ia pun mengambil satu pasang pakaian yang akan ia kenakan untuk tidur.
"Udah sana cepetan," sahut Alex meminta Alessya untuk segera mengganti pakaiannya. Sementara itu ia berfikir dimana dirinya harus tidur, jika ia memilih tidur di sofa kemungkinan besar Alessya pasti akan marah. Sambil menunggu Alessya keluar dari kamar mandi, Alex menyusun bantal dan boneka Alessya sebagai pembatas untuk dirinya tidur.
"Apa yang kak Alex lakukan?" ucap Alessya yang berdiri di belakang Alex yang sedang memberi garis tengah di ranjangnya.
"Oh ini... aku lagi kasih pembatas, biar aman," sahut Alex tersenyum.
"Aku tahu kok, kak Alex terpaksa menuruti kemauanku. Padahal aku ngelakuin ini, karena aku percaya sama kak Alex. Tapi setelah melihat ini semua, aku sadar bahwa tak selamanya aku bisa memaksa kak Alex dan kak Alex juga tidak begitu mempercayaiku. Jadi lebih baik kak Alex pulang sekarang," ucap Alessya berbalik dan membuka pintu kamarnya agar Alex bisa pergi.
"Maksud kamu apa? aku gak terpaksa... apa pun yang kamu inginkan, asalkan itu bisa membuatmu bahagia, aku akan turuti itu. Dan satu lagi, aku sangat mempercayaimu," sahut Alex melangkah menghampiri Alessya yang terlihat sedih.
"Trus itu apa? katanya kak Alex percaya sama aku, tapi itu... kak Alex ngasih batas kayak gitu apa maksudnya?" teriak Alessya sambil menunjuk ranjangnya yang kini berbentuk wilayah perbatasan. Bonekanya yang semua tertata rapi, kini menjadi batas antara dua tempat,"
"Sssyyyuutt, jangan keras-keras...," dengan sigap Alex membungkam mulut Alessya yang dengan cemprengnya mengeluarkan suara. Sementara Alessya yang mulutnya sedang di bungkam, ia hanya bisa melototkan matanya karena sangat kesal melihat ranjangnya yang saat ini penuh boneka perbatasan, seolah dirinya lah yang akan menyerang Alex terlebih dulu.
"Itu semua bukan karena aku gak percaya kamu, aku takut sama diriku sendiri. Aku takut kalau aku berbuat yang enggak-enggak saat kamu tidur. Please... ada kalanya kamu tidak terus menjadi wanita polos yang tidak takut apa-apa. Aku ini cowok normal syaa... disaat aku khilaf, tindakanku pasti akan keluar batas," dengan jelas Alex memberi tahu Alessya agar ia bisa lebih berhati-hati ketika dalam suasana seperti saat ini.
__ADS_1
"Oke, akan aku buktikan kalau aku bukan wanita polos. Sekarang aku mau kak Alex tidur disitu dan singkirkan boneka-boneka ku," tunjuk Alessya ke ranjangnya dan meminta Alex untuk segera tidur.
"Emmp... bukan itu maksud aku," ucap Alex kebingungan dengan perkataan Alessya yang ingin membuktikan jika dirinya bukanlah wanita polos.
"Udah diam, kalau kita terus berdebat, kapan tidurnya?" dengan sekuat tenaga Alessya mendorong Alex ke atas ranjang.
Melihat Alex yang kini berbaring karena dorongannya, Alessya pun menyusul Alex menaiki ranjang. Tak lupa ia melempar jauh-jauh bonekanya yang menjadi pembatas wilayahnya. Sementara Alex yang melihat Alessya mulai menaiki ranjang, ia pun dengan sigap menutupi semua tubuhnya dengan menggunakan selimut, entah mengapa dirinya sangat ketakutan melihat Alessya yang melempar seluruh bonekanya ke lantai.
"Iiiihhh jangan membelakangi aku," ucap Alessya menggoyang-goyangkan tubuh Alex yang tidur membelakanginya.
"Alessyaa.... tidur gak!!! ini udah malam," sahut Alex berbaring dengan memegangi selimut ditubuhnya dengan sangat erat agar tidak terlepas.
"Aku mau tidur sambil peluk kak Alex, kalau kak Alex gak ngijinin, aku akan teriak biar papa dan mama bangun trus mereka tahu deh kalau aku sekarang lagi tidur sama kak Alex," bisik Alessya di telinga Alex yang kini sedang membelakanginya.
"Alessya.... please jangan bisik-bisik disitu. Ok, kamu boleh peluk aku tapi jangan lepas selimut aku," ucap Alex masih membelakangi Alessya dan mendekapkan diri didalam selimut.
"Oke," sahut Alessya tersenyum memeluk Alex, namun ia tak hanya menggunakan tangannya untuk memeluk Alex, melainkan juga kakinya yang ikut memeluk bagian perut Alex. Tangan Alessya tak mampu menjangkau tubuh kekar Alex, hingga dirinya berinisiatif menggunakan kakinya untuk memeluk tubuh Alex.
"Mungkin memang takdirku memiliki mu gadis polos," senyum Alex menatap Alessya yang kini tertidur di hadapannya.
Dengan perlahan, Alex memeluk Alessya agar ia bisa tidur dalam dekapannya. Memeluk Alessya seperti saat ini, membuat Alex merasa dirinya sangat ingin terus berada di dekatnya, membuatnya bahagia dan membuatnya aman ketika bersamanya.
"Bagaimana bisa aku menolakmu, ketika dalam keadaan apapun, kamu membuatku jatuh cinta," bisik Alex menatap dan membelai rambut Alessya.
"Tapi kak Alex menolakku tadi," sahut Alessya yang sejak tadi dirinya belum tidur dan hanya berpura-pura tidur.
"Jadi kamu belum tidur," ucap Alex panik dan berusaha melepaskan pelukannya.
"Tuu kann... katanya gabisa nolak, tapi sekarang malah gak mau peluk," ucap Alessya menatap Alex dengan sinis.
"Yaudah sini... peluk lagi," merasa tak tega menatap Alessya yang manyun kesal terhadap dirinya, ia pun kembali memeluk Alessya dalam dekapannya.
__ADS_1
"Aku pikir kamu tidur...,"
"Aku gak bisa tidur karena aku gak ingin cepat pagi. Aku takut disaat aku tertidur, kak Alex pergi ninggalin aku," sahut Alessya dengan matanya yang terpejam, sebenarnya ia sangat ngantuk namun ia tidak ingin tertidur dengan cepat.
"Alessya....," ucap Alex dengan menarik nafas.
"Apaa...," sahut Alessya masih dengan mata yang terpejam.
"Bisa tolong minggirin tangan kamu gak," ucap Alex yang merasa sedikit terganggu dengan tangan Alessya yang berada di perut bawahnya.
"Gak mau," jawab Alessya singkat.
"Aku gak akan pergi diam-diam, jadi tolong jangan disitu," ucap Alex dengan berusaha menyingkirkan tangan Alessya yang menggengam erat baju di perutnya. Dirinya sangat merasa tidak nyaman, dan takut jika Alessya menyentuh daerah lain.
"Iiiihh kak Alex mah brisik, OKE aku pindahin tangan aku. Kesini," ucap Alessya tersenyum lebar dengan polosnya meletakkan tangannya di daerah terlarang.
Sementara Alex hanya terdiam berusaha mengendalikan dirinya, ia tidak mungkin marah dan membentak Alessya yang kini tersenyum di hadapannya. Sungguh hal yang sangat sulit untuknya saat ini. Dirinya hanya bisa menahan dan menelan saliva yang terasa sebesar jengkol di tenggorokannya.
"Kalau kak Alex diam, tangan aku juga akan diam disana. Tapi kalau kak Alex bergerak sedikit aja, mungkin tangan aku akan menggenggam. Tau menggenggam kan? Seperti...."
"Cukup, gak usah di praktekin. Aku tau dan aku akan diam. Jadi tolong sekarang kamu tidur dan jangan gerakin tangan kamu disana," sahut Alex memotong ucapan Alessya. Jantungnya kini berdetak sangat cepat, dan suhu tubuhnya kini panas dingin tidak stabil. Ia hanya berharap Alessya cepat tidur dan bisa menyingkirkan tangannya. Sementara Alessya, dirinya kini tersenyum dan mematuhi permintaan Alex yang memintanya untuk tidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be contiuned