
Sejak saat itu Alessya selalu menghargai waktu kebersamaannya bersama Alex, mengingat ia akan segera bepisah selama 2 bulan. Kini setiap pagi Alex selalu menjemput Alessya dan mengantarkannya ke kampus, begitupun ketika kuliah selesai, Alex selalu menjemputnya. Tak banyak kegiatan yang dirinya lakukan bersama Alex, hanya sekedar menonton, belanja, makan dan satu ada hal yang benar-benar harus dilakukan ketika bersama Alex yaitu belajar. Alessya teringat saat dirinya masih menjadi junior Alex di kampus, ia sangat baik dan selalu memberinya semangat dalam belajar. Dulu dirinya sangat takut jika nilai dan hasil ujiannya jelek, namun saat ini ia lebih takut jika pria yang kini di depannya pergi meninggalkan dirinya.
"Sayang...." panggil Alessya pada laki-laki yang kini fokus membaca buku miliknya.
"Hemmp...," sahut Alex sambil membaca buku catatan milik Alessya.
"Aku laper...," ucap Alessya mencoba mencari perhatian Alex agar ia tidak lagi membaca buku miliknya.
"Laper ??? yakin kamu mau pesen lagi, ini baru habis loh..," merasa heran karena Alessya kembali merasa lapar, padahal dirinya baru saja selesai makan dan piring juga gelas pun masih belum di angkut oleh pelayan.
"Ahh males dah, aku mau pulang," ucap Alessya beranjak pergi menuju mobil, dirinya mulai bete dan perasaannya bercampur aduk. Ia bukannya marah melihat Alex yang membaca buku, namun ia hanya sedikit kesal ketika harus teringat besok Alex akan pergi.
Sementara Alex ikut menyusul Alessya yang berjalan menuju mobilnya, dirinya hanya bisa menarik nafas dan sabar dalam menghadapi gadis yang saat ini tengah dalam emosi kurang stabil. Alex sangat mengerti keadaan Alessya, sejak kemarin Alessya sangat terlihat manja. Jika keinginannya tidak dipenuhi, Alessya akan menangis dan tak mau berbicara dengannya. Alex sangat tahu sifat Alessya, dan kali ini memang bukan lah sifat asli Alessya. Beberapa hari ini Alex tetap diam dan berusaha untuk menghibur Alessya walaupun sikapnya terkadang sering berubah tidak jelas yang kadang tiba-tiba menangis, tiba-tiba marah dan tiba-tiba tertawa meski tidak ada yang lucu. Alex sangat paham dengan perubahan sikap Alessya, itu semua karena ia tidak ingin dirinya pergi meninggalkannya.
"Awas hati-hati," membukakan pintu mobil dan melindungi kepalanya agar tidak terbentur.
Melihat Alessya yang kini hanya terdiam di mobil, Alex hanya bisa meraih tangan Alessya tanpa kata. Ia tidak ingin tambah merusak mood Alessya. Begitupun Alessya, ia hanya diam dan sesekali melirik Alex yang menyetir sambil memegang tangannya dan kadang menciumnya.
"Kak....," ucap Alessya memanggil Alex yang fokus menyetir.
"Iyaa sayang...," sahut Alex tersenyum menatap Alessya sejenak dan kembali menatap kedepan karena dirinya masih menyetir.
"Maaf yaa kak, aku suka marah-marah gak jelas," ucap Alessya merasa bersalah ketika melihat kekasihnya yang sangat sabar menghadapinya. Ia teringat ketika dirinya menangis karena suatu permintaan yang tidak dituruti, namun respon Alex sungguh diluar dugaan, bukannya marah dan kesal justru Alex memeluknya dan menuruti apapun yang ia inginkan.
"Gapapa sayang... aku gak marah kok, dengan kamu bersikap seperti itu, aku jadi tahu bahwa menjadi sosok seperti om Jordhan itu tidaklah mudah. Selain beliau harus mengurus perusahaan dan saham-sahamnya, beliau juga harus memahami semua kemauan putrinya. Kalau om Jordhan aja bisa sabar membimbing kamu, kenapa aku harus marah,"
__ADS_1
Kagum, itulah yang Alessya rasakan saat ini melihat Alex yang dengan lembutnya berkata jika dirinya ingin sebaik papanya dalam mengurus dirinya kelak. Seketika mata Alessya berkaca-kaca, ia tidak percaya jika kekasihnya itu benar-benar sosok lelaki idaman.
"Lah kok nangis??? apa aku salah ngomong?" ucap Alex kebingungan ketika melihat Alessya menangis.
"Bisa minggirin mobilnya gak?" sahut Alessya yang kini tak bisa membendung air matanya.
"Oke oke, aku minggirin yaa... tapi jangan nangis," kepanikan Alex semakin menjadi ketika Alessya tiba-tiba memintanya untuk menepi dan menghentikan mobilnya, dirinya takut jika Alessya keluar dari mobil dan tidak ingin bersamanya.
Dugaan Alex ternyata salah, ketika mobil mulai terhenti, Alessya melepas sabuk pengaman dan langsung memeluk Alex dengan sangat erat.
"Kak Alex ini milikku kan?" tanya Alessya sambil memeluk Alex.
"Iyaalah... milik siapa lagi kalau bukan milikmu," ucap Alex kebingungan melihat Alessya memeluknya sambil menangis.
"Aku takut... aku takut dengan kesempurnaan yang kak Alex miliki akan banyak wanita lain yang menginginkan kak Alex. Aku takut kak Alex di ambil orang hummmmmmp,"
"Iyaa lah.... kak Alex ini terlalu sempurna dari banyaknya cowok, coba aja kalau cewek lain dengar kata-kata kak Alex yang sebelumnya kakak bilang, kalau seorang ayah bisa dengan sabar memahami dan membimbing anaknya, kenapa kak Alex harus marah. Pasti dengan sekejap kak Alex akan masuk dalam deretan cowok idaman wanita lain," ucap Alessya menyeka umbel di hidungnya sambil menangis.
"Apa'an sih syaa.... yang ada aku malah yang takut. Aku itu cowok, ngerti banget sama cara dan permainan cowok lain. Lihat aja nanti, ketika aku berangkat ke Inggris, pasti akan banyak cowok yang mendekatimu termasuk Daffa. Aku tau banget sifat seorang cowok, ia akan terus berusaha disaat ada celah dan celahmu itu ketika aku terbang ke Inggris. Bayangin aja gimana takutnya aku," tegas Alex setengah emosi ketika membahas cowok lain apalagi Daffa.
"Ihhhh kak Alex kok malah bahas Daffa... aku kan gak bahas dia," rengek Alessya kesal mendengar pembicaraan Alex yang melenceng.
"Sayang.... intinya itu aku bodo amat sama cewek-cewek lain yang kamu takuti itu. Ngapain aku gubris cewek selain kamu, dapetin kamu aja aku susah, ngapain juga aku harus tertarik dengan yang lain," ucap Alex mengelus kepala Alessya yang kini ada dalam dekapannya.
"Udah yaa.... jangan nangis, aku hanya ingin memilikimu, mangkanya aku berusaha untuk cepat menghalalimu. Semakin jauh aku dari kamu, aku semakin takut ada orang lain yang memanfaatkan jarak antara kita," sambung Alex mencoba menenangkan Alessya yang masih menangis.
"Cium...," ucap Alessya mendangakkan kepalanya dan memanyunkan bibir didepan Alex.
__ADS_1
Alex tersenyum menatap Alessya yang kini bibirnya tengah manyun meminta sebuah ciuman. Cup (satu kecupan mendarat di bibir Alessya) tanpa basa-basi Alex mengecup bibir mungil Alessya. Walau hanya sekedar kecupan, namun bisa membuat Alessya kembali tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued....
PLEASE GUYS... Jangan lupa untuk
L I K E dan V O T E
Terimakasih.....💖💖💖
__ADS_1