
Dirinya yang hanya terdiam dan terpaku di depan sosok wanita yang sebentar lagi akan menjadi mamanya, Alessya tak bisa berkata apa pun. Tatapan yang kosong membuatnya tak habis pikir bagaimana bisa Alex pergi tanpa memberi kabar pada dirinya.
"Alessya??? kamu gapapa kan?? Tante pikir Alex berangkat sama kamu," ucap Niken merasa cemas dan kebingungan dengan apa yang saat ini terjadi antara hubungan anaknya dan Alessya.
"Maaf tante... Alessya tadi ketiduran, jadi Alessya ketinggalan pesawat kak Alex. Alessya pikir kak Alex menunda keberangkatan dan masih disini, jadi Alessya kesini," sahut Alessya berbohong dan mencari alasan logis agar mama Alex tidak ikut panik dan khawatir.
"Owalah... tante pikir Alex yang main berangkat gitu aja. Ya sudah sayang, ditunggu aja... nanti Alex bakal ngabari kamu kok, dia gak akan marah sama kamu," senyum Niken sambil membelai rambut calon menantunya itu.
Dengan tetap tersenyum dan berusaha tenang, Alessya pamit pulang pada mama Alex. Ia tidak ingin menambah beban pikiran dan masalah di keluarga Alex saat ini. Di perjalanan Alessya tidak langsung pulang, pikirannya sangat kalut dan tak tahu harus bagaimana. Ini benar-benar pertama kalinya ia keluar tanpa sopir pribadinya. Alessya tidak ingin pulang, karena ia tau jika ia berada dirumah dirinya pasti akan semakin tidak tenang dan merasa sangat khawatir. Ia menyempatkan dirinya untuk pergi ke perpustakan dekat rumahnya, tempat dimana ia selalu bersama Alex.
"Alessya... kamu harus tenang, kamu hanya perlu mempercayainya," ucap Alessya pada dirinya sendiri.
Sesampainya di perpus, Alessya segera turun dari mobil, dirinya langsung menuju kumpulan buku-buku yang berhubungan dengan materi kuliahnya. Dalam hatinya ia tidak bisa terus-terusan memikirkan hal lain yang bisa mengganggu kuliahnya.
"Jika dipikir-pikir aku sudah lama banget gak pegang buku, kerjaannya keluar mulu sih, pacaran, galau. Hemmp untung aku pinter," senyum Alessya menggrutu tentang dirinya sendiri sambil membuka buku.
Sejenak Alessya mulai lupa tentang apa yang kini mengganggu pikirannya. 2 jam sudah ia menyendiri di depan rak buku-buku sambil membacanya.
"Tumben nangkring disini sendiri," ucap Daffa tersenyum melihat Alessya berada di depannya.
"Gak boleh?" sahut Alessya monoleh ke arah Daffa.
"Syaa... loe sakit? sumpah pucet banget," ucap Daffa menatap heran muka Alessya yang terlihat sangat pucat.
"Enggak kok, aku gak sakit. Cuma lupa makan aja tadi pagi, trus mungkin make up nya udah luntur juga," sahut Alessya yang memang merasa perutnya sedikit perih karena belum makan.
"Yaudah ayo makan sama aku, gilak yaa setelah aku pikir-pikir... semenjak kamu pacaran sama tuh senior, kamu terlihat seperti orang yang gak terurus tauk gak sih syaa... kamu ada masalah yaa sama tuh senior," grutu Daffa merasa kesal melihat Alessya yang sangat mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Diihh apa'an sih, justru saat aku sama kamu berasa gak terurus. Punya pacar tapi gak diperhatiin, giliran dikenalin sama camer eh malah di bilang akunya bakal ngebebanin kamu. Yang jelas aku bahagia sama diri aku yang sekarang," sahut Alessya tak terima mendengar Daffa menjelek-jelekkan Alex di depannya.
"Hmmmp yaudah yaudah... itu kan juga masa lalu, toh aku juga gak jadi sama Dinda. Aku itu jomblo saat ini, mangkanya aku mau mencari celah antara kalian, karena aku masih sayang sama kamu," ucap Daffa sambil mendorong dahi Alessya dengan telunjuknya, karena merasa dirinya sangat gemas pada Alessya yang dulu pernah menjadi miliknya.
"Iiihh Daffa sakit tauk, kebiasaan deh... males ah ngobrol sama kamu," bangkit Alessya meninggalkan Daffa. Saat dirinya hendak melangkahi kaki Daffa, naasnya kaki Alessya tersendung dan terjatuh.
Gubbbraakkk
"Hemmp kan, jatuh deh... tetep aja sih ceroboh. Jadi jatuh semua deh buku-bukunya," ucap Daffa geleng-geleng kepala melihat kecerobohan Alessya.
"Hiiihhh kamu sih, kakinya gak minggir. Dari dulu mah kebiasaan kakinya gak pernah baik," grutu Alessya sambil memegang lututnya yang sakit.
"Mangkanya sayang... hati-hati... mungkin memang sudah takdirmu jatuh karena aku, jadi inget waktu masih MABA," senyum Daffa membantu Alessya bangun.
"Hiiih males ah ngobrol sama kamu," ucap Alessya kesal mendengar Daffa menyebutnya sayang dan ia pun langsung pergi meninggalkan Daffa. Namun dengan tersenyum Daffa tetap mengikuti Alessya yang mulai bad mood. Baginya itu terlihat lucu dan menggemaskan.
"gak mau," jawab Alessya dengan mempercepat langkahnya menuju mobil. Semakin dekat dirinya dengan mobil, semakin cepat langkanya. Dirinya sangat ingin menjauh dari Daffa, karena topik pembicaraannya sudah terdengar tidak nyaman didengar.
Ting (Bunyi Ponsel)
Saat hendak membuka pintu mobil, Alessya mendengar ponselnya berdering, dengan cepat ia membuka dan membaca pesan masuk di ponselnya.
Kak Alex : Jangan terlalu dekat dengan Daffa, aku cemburu lihatnya.
"Hah, apa'an??? bukannya kak Alex di Inggris, kenapa dia bisa tahu kalau aku lagi sama Daffa," ucap Alessya kebingungan sambil melihat sekitar dan ia pun segera membalas pesan Alex.
Alessya : kok kak Alex tahu?? kak Alex dimana? kenapa gak balas pesanku.
__ADS_1
Sambil menunggu balasan Alex, Alessya menatap layar ponselnya yang terlihat Alex sedang mengetik. Ia hanya terdiap di depan pintu mobil tanpa membukanya.
Kak Alex : Maaf... tadi masih di pesawat, kamu langsung pulang yaa. Makannya dirumah aja, jangan sama Daffa !!! inget !
Alessya: Iyaa sayang...😊
Melihat pesan dari Alex yang sangat cemburu membuat dirinya sangat senang, ia pun tak peduli dari mana Alex bisa tahu jika dirinya kini beesama Daffa, karena baginya sejauh apapun Alex saat ini, dirinya akan tetap setia dan akan menuruti ucapannya.
"Ooo lagi chattingan sama senior toh...," ucap Daffa yang tiba-tiba mengejutkan Alessya.
"Dihh apa'an sih, udah ah aku mau pulang. 1 lagi, jangan pernah ganggu aku. Inget aku sudah punya kak Alex," sahut Alessya membuka pintu mobil dan langsung masuk.
"Yang penting janur kuning belum melengkung kali syaa...," jawab Daffa dengan tersenyum menatap Alessya yang raut wajahnya sangat masam.
Tanpa menggubris ucapan Daffa, Alessya pun menutup pintu mobil dan pergi pulang meninggalkan Daffa. Dirinya tak habis pikir, mengapa sikap Daffa sangat berubah lebih friendly dari pada yang dulu sangat cuek. Namun Alessya tidak ingin menggubris sedikit pun tentang Daffa, karena di hatinya kini hanya ada Alex seseorang. Orang yang selalu ada untuknya kapan pun dan dimana pun.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be contiuned