Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Kesalahan Dokter


__ADS_3

Ponsel Alessya terus berdering hingga membuat Alessya merasa tak nyaman pada Alex yang dari tadi menatapnya curiga, Alessya pun menerima panggilan yang sejak tadi ia acuhkan.


Alessya


Halo...


Daffa


Kenapa dari tadi kamu gak angkat telfonku?


Alessya


Maaf aku tadi sibuk dan gak sempat pegang ponsel.


Daffa


Kamu Dimana sekarang, aku ingin bertemu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan.


Alessya


Maaf aku gabisa, aku sekarang lagi diluar kota sama keluargaku.


Daffa


Oke baiklah


Panggilan pun langsung ditutup oleh Daffa, kini Alex menatap Alessya dengan perasaan curiga karena sikap Alessya yang aneh dan berbohong pada Daffa. Alessya tersenyum dan melanjutkan kegiatan sebelumnya.


"Pulang yuk, aku antar" Alex menutup buku dan menumpuk buku-buku yang ada di depannya.


"Loh, kenapa kak..." Tanya Alessya kebingungan melihat Alex tiba-tiba mengajaknya pulang.


"Berbohong itu gak baik, kalau seandainya dia melihat mu disini tapi kamu berbohong, dia akan sangat kecewa denganmu" Alex bangun dan meletakkan buku-buku yang ia pinjam di rak.


Alessya hanya terdiam dan mengikuti kata-kata Alex untuk pulang bersamanya. Alessya belum bisa memberitahu masalah yang terjadi pada hubungannya dengan Daffa. Alessya tak banyak bicara di dalam mobil, begitupun Alex. Alessya menatap kearah samping dan melihat toko di jalanan.


"Tunggu kak, bisa putar balik gak" Ucap Alessya tiba-tiba meminta Alex untuk menghentikan mobilnya dan memintanya putar balik. Alex yang terkejut langsung menginjak rem dan berhenti kemudian menuruti kemauan Alessya.

__ADS_1


Alessya meminta Alex untuk berhenti disebuah tempat barang-barang berbahan keramik. Alessya berniat membeli keramik-keramik lucu untuk diberikan pada seseorang. Alex mengikuti Alessya yang memilih barang yang akan ia beli, setelah Alessya selesai memih barang, Alessya menuju ke kasir.


"Permisi, maaf bang mau nanyak.. untuk harga 1 barang ini berapa yaa?" Alessya menunjukkan sebuah keramik kelinci yang pegang


"Oh yang itu harganya 82 ribu neng" Ucap abang-abang penjual.


"Oke kalau begitu berikan aku harga 256 ribu untuk 3 barang" Ucap Alessya tersenyum percaya diri pada abang penjual, sontak Alex dan abang penjual terkejut mendengar ucapan Alessya yang meminta harga 256 ribu.


"Maaf neng, kamu membuatku menjualnya lebih mahal dari harga awal" Ucapnya sambil tersenyum kebingungan menatap Alessya. Alessya pun baru sadar jika harga seharusnya adalah 246 ribu.


"Maaf bang, pacar saya dulu sempat operasi usus buntu tapi dokter mengambil otaknya juga, maka dari itu dia meminta harga yang salah ahahhaha" Ucap Alex tertawa terbahak-bahak dan abang penjual pun ikut menertawakannya. Alessya langsung mencubit perut Alex karena malu, namun Alex masih saja ketawa


Alex masih tidak bisa menahan rasa ingin ketawanya walau sudah di mobil, Alessya menatap Alex dengan tatapan sinis. Alex menyadari jika Alessya sedang menatapnya dengan penuh kebencian, hingga ia berusaha untuk tidak tertawa dan fokus menyetir.


"Terus aja ketawa sampai kenyang" Ucap Alessya masih menatap Alex dengan tatapan tajam.


"Maaf syaa... lagian kamu kenapa sih, masak anak fisika murni bisa salah ngitung gitu. Aneh kan, atau jangan-jangan ucapanku bener waktu kamu operasi usus buntu dokternya melakukan kesalahan" Alex tersenyum tak habis pikir jika Alessya yang ia kenal sangat pintar ternyata bisa salah menghitung di depan orang asing


"Tauk ah, aku tuh lagi banyak pikiran... kalkulator di otakku itu juga lagi lemmot gak ada baterai. Ini tuh butuh istirahat dan liburan juga, kak Alex malah ngajakin belajar" Alessya mengomel di dalam mobil, ia merasa sangat malu karena ia tidak fokus ketika menghitung harga.


"Yaa biar kamu malunya gak sendirian lah, lagian mana ada cowok yang mengakui kalau pacarnya itu gabisa hitung-hitungan, pastinya kalau itu orang lain dia akan tetap diam atau hanya ketawain kamu" Ucap Alex dengan tatapan fokus kedepan karena ia sedang menyetir.


Alessya tersenyum menatap Alex yang sangat bijak dan sangat peduli dengan dirinya. Ia beruntung bisa mengenal Alex sangat dekat.


"Oh iyaa... kalau kamu besok bisa lulus dengan nilai yang lebih baik dari kemarin dan Prof William bisa memberimu pujian, aku kasih kamu hadiah liburan deh.." Ucap Alex mencoba membangkitkan semangat Alessya untuk belajar dan terus berusah.


"Okay, aku akan buktikan" Jawab Alessya dengan semangat.


Alex mengantarkan Alessya hanya sampai depan rumah, masih seperti biasa ia tidak ingin orang tua Alessya salah paham dengan kedekatannya dengan Alessya walaupun orang tua Alessya sangat baik terhadapnya. Alex menunggu sampai Alessya masuk ke dalam rumahnya, ia hanya memastikan Alessya benar-benar pulang dengan selamat.


**********


Seperti biasa Alessya berjalan dengan penuh percaya diri di kampusnya, ia tidak ingin masalahnya mengacaukan masa depannya.


Alessya tersenyum melihat Adinda yang berdiri di depan seraya menunggu Alessya yang mendekat ke arahnya, Alessya terus berjalan dengan sangat tegar dihadapannya kemudian melewatinya.


"Memang gadis bermuka tebal" Celetuk Adinda saat Alessya melewatinya.

__ADS_1


Alessya mendengarnya namun tak ingin membalasnya, saat ini Alessya hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan kehidupan Adinda dengan bukti-bukti yang sudah ia terima dari papanya. Alessya terus berjalan menjauhi Adinda, namun ia melihat sosok yang saat ini tidak ingin ia lihat. Daffa saat ini sudah berdiri di depan menunggu Alessya. Alessya berjalan dengan melihat sekeliling dan bersiap untuk menghindari Daffa, andai saja ia melihat pintu atau lorong mungkin ia akan langsung belok namun ia hanya melihat tembok disisi kirinya, tidak mungkin jika Alessya menembusnya karena Alessya bukan kuntilanak, sedangkan sisi kanannya pagar batas balkon karena dirinya berada di lantai dua, ia juga tidak mungkin terjun kebawah untuk menghindari Daffa. Alhasil Alessya terus berjalan lurus tersenyum semakin mendekati Daffa, Daffa berjalan menghampiri Alessya dan semakin dekat kemudian memeluknya.


"Maafkan aku.." Ucap Daffa memeluk erat. Alessya berusaha melepas pelukan Daffa namun Daffa memeluknya sangat erat hingga menjadi pusat perhatian mahasiswa.


"Kita bicarakan dulu yaa... jangan kayak gini, tolong lepasin dulu" Alessya melepas pelukan Daffa dan mencoba membicarakannya. Daffa pun melepas pelukannya.


"Aku gak mau syaa hubungan ini berakhir hanya karena mama aku mau menjodohkanku dengan orang lain" Daffa menatap Alessya dengan tatapan serius.


"Mama kamu tidak menyukaiku dia hanya menyukai Adinda, aku gabisa memaksa kemauanku dan menyakiti hati seorang ibu" Ucap Alessya berusaha menahan air mata yang akan menetes.


"Aku akan berusaha membujuk mamaku, aku harap kamu mau sedikit berjuang untuk hubungan kita. Aku akan mengatur pertemuan selanjutnya, aku ingin kamu sedikit bersabar" Daffa memegang tangan Alessya dan berusaha meyakinkan Alessya.


Sementara Alessya yang tak kuasa menahan air matanya pun akhirnya ia lepas, sangat berat hatinya untuk melepaskan Daffa yang sangat ia cintai. Melihat Alessya yang menangis Daffa segera memeluk Alessya kembali


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mau menunggu... maaf jika author lama update. Terus ikuti kelajutan kisahnya.. jangan pernah bosan dan jangan lupa like serta komen.


Terimaksih💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2