
25 menit waktu perjalanan akhirnya Daffa dan Alessya sampai dirumah Alessya dengan selamat. Alessya pun turun dari motor Daffa dan mengajak Daffa untuk masuk kedalam rumahnya.
"Makasih ya Daffa, kalau gak ada kamu mungkin aku masih dikampus sekarang," ucap Alessya tersenyum sangat berterimakasih sudah mengantarnya pulang.
"Oke," ucap Daffa singkat.
Lagi-lagi Daffa sangat cuek terhadap Alessya.
"Yaudah Daff, ayo masuk. Kita makan dulu di dalam," ajak Alessya agar Daffa mampir terlebih dulu ke rumahnya.
"Gak usah deh syaa, aku mau ke perpus deket sini," ucap Daffa menolak ajakan Alessya karena merasa sungkan untuk mampir kerumahnya.
"Perpus? Kamu sering ke perpus deket sini, kapan? kok aku gak pernah ngeliat kamu," tanya Alessya merasa heran karena selama dirinya di perpus, tidak pernah sesekali dirinya melihat Daffa.
"Sering, aku sering kesitu dan aku sering ngeliat kamu" Daffa tak habis pikir dengan Alessya yang tidak menganggapnya ada, padahal dirinya selalu melihat Alessya di perpus.
"Yaudah yaa, biar gak kemaleman aku ke perpus dulu," ucap Daffa pamit untuk segera pergi ke perputakaan dekat rumah Alessya.
"Eh, aku ikut dong... aku juga biasanya jam segini ke perpus, kenapa kita gak bareng aja," sahut Alessya meminta Daffa juga ikut membawanya.
"Heeeuuh yaudah deh," Daffa dengan kepalanya yang geleng-geleng, masih heran mengapa ia seharian ini harus terus bersama dengan Alessya.
"Ayoow masuk dulu, soalnya aku masih mau mandi dan ganti baju" Alessya menarik lengan Daffa agar segera masuk ke dalam rumahnya.
Daffa pun menuruti kemauan Alessya dan masuk kerumahnya. Daffa bersikap sopan ketika bertemu dengan mama Alessya.
"Eh Alessya bawa temen... cowok lagi," sapa Widhia tersenyum pada Daffa. Baru pertama kalinya ia melihat putrinya membawa teman cowok main kerumahnya.
"Kenalin maa ini Daffa temen satu kampus aku, namanya Daffa. Daffa yang nganterin Alessya sekalian bentar lagi mau ke perpus," ucap Alessya memperkenalkan Daffa pada mamanya.
"Saya Daffa tante, temannya Alessya," sapa Daffa memperkenalkan dirinya, tak lupa ia melakukan tradisi yang biasa ia lakukan pads orang yang lebih tua yaitu mencium tangan Widhia.
"Makan dulu yaa nak Daffa, tante sudah masak buat makan malam," ucap Widhia senang melihat Daffa yang sangat sopan dan tampan, dirinya ingin lebih dekat dan lebih mengenal Daffa.
__ADS_1
"Terimakasih tante gak usah repot-repot saya tadi sudah makan di kampus," jawab Daffa menolak tawaran mama Alessya dengan santun.
"Udah... gak ada yang repot, disini pembantu tante ada 5 orang, ayo gak usah sungkan-sungkan," kata Widhia menarik lengan Daffa menuju meja makan.
Daffa tidak bisa menolak, dan ia pun memakan masakan Widhia yang sangat lezat. Widhia terus memandang Daffa, ia sangat senang jika putrinya punya temen sebaik dan sesopan Daffa. Piring Daffa terus ditambahkan daging, udang dan lauk yang lain oleh Widhia hingga Daffa merasa sangat kenyang sekali. Selesai makan Daffa kembali mengucapkan terimakasih pada Widhia dan bangkit dari duduknya. Daffa membawa piring dan gelas bekasnya ke wastafel dekat dapur meski Widhia melarangnya.
"Gak usah dicuci nak, biarkan disitu saja. Nanti biar bi Tuya yang cuci piringnya," ucap Widhia melarang Daffa mencuci piring.
"Gak papa tante, sudah kewajiban saya kalau selesai makan langsung mencucinya," sahut Daffa sambil mencuci piring kotornya.
Lagi-lagi Widia dibuat senang dengan perilaku Daffa yang sangat sopan itu. Widia tersenyum tiada hentinya. Dirinya benar-benar berharap putrinya bisa jadian dengan Daffa.
"Yuk Daff, aku sudah siap ke perpus," ucap Alessya yang baru keluar dari kamarnya.
"Kamu gak makan dulu, kalau kamu mau makan dulu gak papa deh aku tunggu kamu disini,"
Mendengar hal itu, Widhia merasa bahwa Daffa adalah sosok yang pas untuk putrinya, Daffa sangat memperhatikan keadaan Alessya putrinya.
"Nanti aja deh Daff, aku masih kenyang," ucap Alessya menepuk-nepuk perutnya yang memang masih sangat kenyang.
"Tante, saya pamit mau ke perpus dulu," ucap Daffa pamit dan dirinya kembali mencium tangan Widhia.
"Iyaa... pulangnya jangan terlalu malam yaa, Daffa tante titip jagain Alessya yaa," ucap Widhia tersenyum.
"Inggih tante," ucap Daffa mengeluar logat jawa nya.
******
Sesampainya di perpustakaan mereka berpisah untuk mencari buku yang akan mereka baca. Alessya menemukan buku yang ia butuhkan dan ia memilih tempat duduk dekat jendela.
"Daffa... duduk sini," ucap Daffa pelan dan melambaikan tangannya. Daffa pun menoleh
__ADS_1
"Kenapa sih dia selalu memilih tempat duduk dekat jendela," batin Daffa merasa heran. Daffa melihat Alessya melambaikan tangannya sambil tersenyum seolah-olah ia sedang memanggil kekasihnya untuk duduk di tempat itu bersamanya.
"Mau gak mau harus duduk disana deh kayaknya" batin Daffa
Daffa pun menghampiri Alessya dan duduk di depan Alessya dengan posisi berhadapan. Alessya dan Daffa tak banyak mengobrol, mereka fokus dengan buku yang mereka baca. 1jam berlalu, mata Daffa sudah mulai mengantuk. Daffa berniat mengajak Alessya pulang. Daffa menatap Alessya yang sedang membaca buku di hadapannya
Seketika Daffa merasa hilang rasa kantuk, dan matanya terus menatap Alessya yang masih fokus terhadap bukunya.
"Cantik" Batin Daffa, tanpan ia sadari dirinya tersenyum ketika menatap Alessya.
"Alessya sangat cantik dengan rambut seperti itu," batin Daffa sambil tersenyum.
Daffa masih heran mengapa hari ini ia bisa bersama gadis cantik yang polos dan selalu menguji kesabarannya. Daffa tersenyum dan tiba-tiba Alessy melihat Daffa yang tersenyum dihadapannya. Alessya merasa aneh melihat Daffa tersenyum
.
.
.
.
.
.
.
.
Simak terus kisahnya... jangan pernah bosan dan jangan lupa likr disetiap episodenya sebagai bentuk dukungan kalian untuk Author😊
__ADS_1
Terimakasih...💗