Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Dia Kekasihku


__ADS_3

Alessya bergegas siap-siap ke kampus, ia tak mau sahabatnya menunggu lebih lama. Dengan pakaian yang sederhana namun sedikit terbuka, membuat dirinya sangat cantik. Bajunya yang lebih memperlihatkan lengannya yang putih bersih membuat aura Alessya sangat terpancar. Alessya menuruni anak tangga dirumahnya dan siap untuk berangkat bersama Pak Ponco supir pribadinya. Hari ini Daffa tidak bisa menjemput karena Alessya melarangnya, ia tak ingin jika Daffa kelelahan dan memakan angin lebih banyak karena menempuh jarak yang sangat jauh.


"Terimakasih pak...," ucap Alessya turun dari mobil.


"Nggeh non," jawab Pak Ponco.


Alessya berjalan menuju kelas dan ia melihat sosok wajah sangat tampan dari kejauhan yang semakin mendekat.


"Daffa... mau kemana dia," batin Alessya ketika melihatnya dari kejauhan.



Daffa yang semakin dekat menghampiri Alessya membuat jantungnya berdegup kencang, entah mau sampai kapan ia merasakan gugup melihat pacar sendiri 😁


"Aku pikir kamu gak kuliah," ucap Daffa meraih tangan Alessya dan menggenggamnya.


"Eh kok gak kuliah sih, yaa kuliah dong.. Lagian kamu mau kemana? kok keluar kelas," tanya Alessya merangkul lengan Daffa sambil berjalan.


"Mau jemput pacarku karena dianya gak kunjung datang sih," sahut Daffa tersenyum membelai rambut Alessya.


"Hehe maaf..," Alessya menarik pelan jaket Daffa dengan senyuman.


Alessya dan Daffa berjalan menuju kelas. Masih seperti biasa mereka berdua menjadi pusat perhatian mahasiswa lain. Sesampainya dikelas Alessya duduk bersama Ariyani, namun kali ini Alessya duduk paling depan, sedangkan Daffa duduk di belakang Alessya. Banyak teman-temannya yang merasa heran melihat Alessya dan Daffa saat dikelas tidak pernah duduk berdua.


"Daff, mau tuker tempat duduk gak? Kasian aku sama kamu terpisah mulu sama Alessya," ucap Ariyani sadar diri merasa dirinya seolah menjadi tembok penghalang hubungan mereka.


"Gak usah deh, lebih baik duduk terpisah dari pada barengan," jawab Daffa dengan tegas.


"Why Beb..." tanya Alessya heran mengapa Daffa tak mau duduk bersama dengannya.


"Aku gak mau kita bekerja sama dalam hal tugas kuliah, aku mau kita sama - sama mandiri" ucap Daffa sambil membuka bukunya, ia tidak ingin sampai ada saling kerja sama dalam mengerjakan soal karena hal itu nantinya akan membuat saling bergantung satu sama lain.

__ADS_1


"Eh Daff... kalau kamu ga mau duduk sama Alessya ya udah biar aku aja, lagian aku juga bisa nyontek tugas ke Alessya," ucap Ariyani blak-blakan karena dirinya sedikit kesal dengan sikap arogan Daffa yang terlalu sok kepinteran.


"Heran aku tu, yang lain pada ingin banget duduk bareng Alessya biar ketularan pinter, lah kamu malah menjauh," Ariyani mulai nyerocos dan emosi menatap Daffa.


"Yaudah... kalau itu mau kamu, tapi kalau misal kamu merasa ada kesulitan dalam mengerjakan tugas, jangan pernah sungkan untuk bertanya" ucap Alessya tersenyum.


Daffa hanya tersenyum, namun senyum itu terlihat tidak ikhlas. Kuliah pertama telah dimulai, masih seperti biasa mahasiswa diberi bekal ilmu yang penuh dengan rumus oleh dosennya. Kali ini dosen yang mengajar cukup menakutkan. Prof Albert adalah dosen fisika murni yang mengajarkan tentang Fisika Inti. Kuliahnya sangat menegangkan dan tak banyak mahasiswa bicara.


"Ada yang bisa menyelesaikan soal ini," Prof Albert mencari mangsa untuk membuat mahasiswa nya ketakutan.


Alessya menoleh kearah Daffa, ia ingin memberinya kesempatan untuk mengerjakan. Namun lagi-lagi ia terbuai melihat ketampanan Daffa saat fokus ke papan.



Sementara mahasiswa yang lain menunduk karena takut ditunjuk oleh Prof Albert, namun tidak untuk Alessya. Alessya masih terbuai melihat pacarnya yang sangat tampan.


"Dia pacarku kan? Ganteng banget sih," batin Alessya yang masih menoleh kebelakang merasa sangat kagum memiliki kekasih yang sangat tampan.


"Hussst syaa.. ngapain sih, diliat Prof loh kamu," bisik Ariyani menyenggol lengan Alessya, namun Alessya tidak menghiraukan Ariyani.


Jedddhuk (suara spidol mengenai kepala Alessya)


"Awww sakit..," ucap Alessya menoleh kearah depan, ia melihat Prof Albert yang mulai marah dengan tatapan yang tajam seakan ingin menerkamnya.


"Cepat selesaikan soal ini, Sekarang!" bentak Prof Albert dengan suara sangat lantang membuat mahasiswa lain terkejut seketika.


Alessya merasa kesal dan terus menatap Prof Albert. Alessya maju ke depan untuk mengerjakan soal dipapan, ia akan membuktikan jika dirinya mampu mengerjakan soal yang menurutnya tidak terlalu susah.


"Ayo cepet kerjakan, awas aja kalau salah. Dosennya menjelaskan kok kamu malah menghadap kebelakang," ucap Prof Albert mengomel di depan.


Alessya tidak membalas perkataan dosennya. Alessya merasa soal yang diberikan oleh dosennya itu tidak terlalu sulit, karena Alessya sudah mempelajarinya semalam.

__ADS_1


Alessya mengerjakan tugas itu dengan santuy di depan, Prof Albert memandangi Alessya yang begitu lancar mengerjakan soal di papan.


"Sudah prof, silahkan prof periksa jika jawaban saya salah," ucap Alessya dengan percaya diri.


"Bagaimana kamu bisa mengerjakan ini, padahal kamu tidak memperhatikan saya. Dan soal ini menurut saya tidak akan ada mahasiswa yang bisa mengerjakannya," ucap Prof Albert berusaha memeriksa kembali jawaban Alessya yang semuanya benar.


"Maaf prof jika saya tadi kurang memperhatikan, tapi saya bersyukur Tuhan memberikan otak pada saya sehingga saya bisa menjawab soal dari Prof. Jadi tolong lah Prof, kalau mengajar jangan terlalu tegang karena belum tentu yang lain bisa menjawab seperti saya," ucap Alessya menasehati dosennya karena dirinya sedikit kesal telah di lempar spidol.


"Nama kamu siapa?" tanya prof Albert penasaran mengapa ada seorang mahasiswi yang sangat berani dengannya.


"Alessya Amekha Jordhan" jawab Alessya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Jordhan? ayah kamu Jordhan pengusaha kaya itu?" Prof Albert masih tidak percaya jika anak pengusaha terkenal bisa kuliah di tempat yang sangat jauh dari kota.


"Iyaa prof," jawab Alessya singkat.


"Ok silahkan duduk," ucap Prof Albert tidak banyak bicara karena dirinya sudah sangat tahu tentang keluarga Alessya.


Temen-temen Alessya merasa bangga jika dikelasnya terdapat putri konglomerat yang pintar dan cantik seperti Alessya. Mereka semua merasa tertolong dari tunjukan para dosen untuk mencari mangsa mengerjakan soal di papan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tunggu terus kelanjutannya, jangan pernah bosen😁


jangan lupa like yaa guys... biar Autor lebih semangat lagi😘


__ADS_2