
Pagi itu Alessya bangun dan melihat sebuah buku yang terletak di sampingnya. Alessya tersenyum dan membuka kembali buku milik Alex. Alessya masih benar-benar tidak menyangka jika selama ini Alex mencintainya.
"Bodoh banget aku, kenapa mataku bisa gak liat sih ada cowok yang sangat perhatian dan sangat mencintaiku selama ini," gemming Alessya tersenyum malu.
Ia pun beranjak dan mengambil ponselnya, Alessya melihat pesan itu belum juga Alex baca. Alessya semakin gelisah dan khawatir, ia pun mencoba menelfon Alex kembali namun tetap sama seperti kemarin tidak tersambung.
"Ini kenapa sih..., mengapa Kak Alex belum juga bisa dihubungi," ucap Alessya gelisah menatap ponselnya.
Alessya melirik jam yang saat ini sudah hampir ia terlambat kuliah, sontak Alessya melempar ponsel di kasur dan bergegas mandi. Selesai mandi ia langsung bersiap-siap berangkat kuliah dengan ponsel yang masih ia genggam berusaha untuk menghubungi Alex.
Alessya turun dari mobil dan berlari kecil menuju kelas, ia lupa jika hari ini dirinya masih ada kuliah bimbingan untuk mengikuti IPhO berikutnya. Nafasnya yang mulai sesak karena berlari membuat Alessya sangat lelah dan langsung duduk di tempat biasa ia duduk dikelas. Beruntungnya Prof William masih belum memasuki kelas. Alessya melihat Ibel duduk dengan memainkan ponselnya, Alessya ingin menanyakan sesuatu padanya, namun Alessya masih ragu-ragu dan malas. Alessya terus berfikir sambil menatapnya sampai beberapa menit kemudian Ibel sadar jika dari tadi Alessya telah memperhatikannya.
"Heh Dekil, ngapain loe liat-liat gue," ucap Ibel menatap Alessya merasa aneh karena tidak biasanya Alessya memandangnya.
Alessya memberanikan dirinya untuk menanyakan sesuatu dengan Ibel, ia pun berjalan menghampirinya dan duduk di depan Ibel.
"Aku boleh nanyak gak," ucap Alessya berusaha sabar.
"Mau nanyak apa loe? Soal? Kasian banget sih loe, udah gak ada Alex jadi gak ada yaa yang mau ngajarin," ucap Ibel dengan senyuman sinis.
"Huhuhuu sabar syaa... sabar... tahan bentar, pengen ku jitak pala ni orang," batin Alessya mulai kesal menatap Ibel dari dekat.
"Bukan itu... aku mau nanyak, kamu bisa ngubungin kak Alex gak. Atau mungkin kak Alex pernah menghubungi kamu gak," ucap Alessya penasaran karena sampai detik ini ia belum bisa menghubungi Alex.
"Ohhh itu... gue waktu Alex di London sempat nelfon dia sih,"
"Trus trus... diangkat gak" tanya Alessya semakin penasaran.
"Enggak, eh loe belum tau yaa kalau Alex itu jarang banget nerima atau ngangkat telfon dari cewek. Gue aja nih... yang udah 3 tahun sekelas sama Alex, masih di cuekin apalagi loe. Jangan loe pikir Alex sama kayak Daffa yang awalnya dingin trus bisa loe dapetin gitu aja," ucap Ibel nyrocos berubah haluan ghibahi Daffa.
"Sumpil nih cewek ngomongnya kemana-kemana gajelas gini," batin Alessya
"Tapi gue chat Alex bisa kok," Ibel tersenyum pada Alessya.
__ADS_1
"Trus Trus... dibales gak," tanya Alessya kembali penasaran.
"Di bales dong.... nih liat aja," Ibel menunjukkan chatnya pada Alessya.
"Alex, di Landon lagi ngapain sekarang?"
"Lagi Sibuk"
"Ooo Lagi sibuk... jangan lupa makan yaa"
Alessya geleng-geleng kepala ketika membaca pesan singkat di ponsel Ibel.
"Bales cuma seupil gini doang bisa buat kamu seneng, hmmp payah," pungkas Alessya bangkit dari duduknya dan kembali ke tempat.
"Eh dasar, gue ini bersyukur karena chat gue udah di bales sama Alex, dari pada loe telfon gak diangkat chat gak dibales, Iyaa kaann...." ucap Ibel kesal
Alessya yang malas meladeni ucapan Ibel memilih untuk diam dan membaca buku yang ia punya, Prof William pun datang dan memberikan bimbingan pada mahasiswanya.
*********
"Woy loe kenapa sih, gak biasanya loe kayak gini," ucap Reza menyenggol Alex
"Kepikiran sama dompet gue," sahut Alex lesu.
"Huuhhh hilang dompet aja kayak gini, apalagi hilang pacar," Reza menatap Alex dengan heran dan baru tahu jika Alex memiliki sisi lain.
Alex tidak menanggapi ucapan Reza, ia hanya berusaha fokus mendengarkan penjelasan dosen di depan walaupun sebenarnya pikirannya sedang tertuju pada ponsel dan dompetnya.
Saat perkuliahan selesai Alex mulai mencarinya kembali di sisi taman kampus, dimana ia sering menghabiskan waktunya untuk tidur. Namun karena sudah malam pencarian Alex belum bisa dilakukan sepenuhnya, selain penerangan yang kurang, Alex juga lagi-lagi digigit serangga hingga ia tak tahan dengan bercak gatal di tangan dan kakinya.
Alex tidak tahu harus mencari dompetnya kemana lagi, jelas-jelas dirinya tidak sedang dicopet namun kemana pergi dan hilangnya dompet beserta ponselnya.
"Woy bujang, disini loe ternyata," teriak Reza memanggil Alex.
__ADS_1
"Alex... what are you doing here?" ucap Monicha menghampiri Alex
"Ngapain loe bawa-bawa bule ini, jangan bilang loe mau berbuat mesum disini... waa loe gue aduin nyokap loe ntar," ucap Alex terkejut melihat Reza membawa bule ke taman.
"Ehh ngaco loe kalau ngomong, monic kesini ini mau ngasih barang yang loe cari-cari sampek mau gila," uap Reza kesal karena sudah berhari-hari sikap Alex berubah.
"Yes that's right, I want to return your handphone and wallet left in my apartment," Monica memberikan ponsel dan dompet pada Alex.
Dengan sigap, Alex langsung menerima ponsel dan dompetnya. Ia segera membuka dompet dan memastikan itu tidak hilang. Alex bersyukur karena tidak ada satupun yang hilang, namun Alex sedikit kecewa karena melihat ponselnya yang tidak ada pesan masuk atau kabar dari Alessya.
"Thank you monic, this is very valuable to me," Alex tersenyum dan bersyukur karena dompet dan ponselnya sudah ditemukan dan tidak hilang.
Sambil menatap ponselnya yang terpampang jelas foto Alessya sebagai foto profilnya, ia berfikir mungkin saat ini Alessya sudah benar-benar tidak membutuhkan dirinya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued....
T E R I M A K A S I H A T A S
__ADS_1
D U K U N G A N N Y A 💗💗💗