Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Alessya pulang dengan keadaan menangis, ia bahkan melewati kedua orangtuanya yang sedang duduk bersantai di ruang utama. Sontak hal itu membuat Jordhan dan Widhia merasa kebingungan ketika melihat putrinya tiba-tiba menangis. Widhia yang merasa khawatir dengan keadaan putrinya langsung mengikuti Alessya yang masuk kamar dengan menangis.


"Alessya kamu kenapa sayang? Cerita sama mama, apa pertemuannya tidak berjalan lancar" Tanya Widhia membelai rambut putrinya yang berbaring membelakangi mamanya. Alessya bangun dan memeluk mamanya sambil menangis.


"Maa orangtua Daffa tidak menyukaiku, mereka sudah memiliki pilihan sendiri untuk Daffa. Apa yang harus aku lakukan ma?" Alessya menangis menceritakan kesedihannya, ia tak tahu harus berbuat apa. Hatinya sakit dan kecewa.


"Semua keputusan ada ditanganmu, kamu harus memikirkan itu baik-baik. Mama cuma ingin berpesan kalau hubungan itu tidak bisa diteruskan jika tanpa restu orang tua. Kamu bisa bayangkan seandainya kamu tetap bersama Daffa dan kamu bahagia dengannya, tanpa kamu sadari kamu sudah menyakiti hati seorang ibu. Hati ibunya akan sakit ketika melihat seorang anak lebih memilih kekasihnya dibanding ibu yang melahirkan dan membesarkannya" Widhia menasehati Alessya agar ia lebih mengerti perasaan orang lain, ia tahu putrinya akan mengambil keputusan yang benar.


Mendengar nasehat dari mamanya, Alessya tahu apa yang harus ia lakukan. Pertemuan itu sudah memberi petunjuk jika hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan.


"Maa aku akan mengalah, tapi aku tidak ingin jika hanya aku yang bersedih. Mama tau kan kalau hubunganku ada orang ketiga, ketika aku melepaskan orang yang aku cintai maka orang ketiga itu akan senang. Maa.. apa boleh Alessya membuat dirinya juga memiliki kesedihan" Tanya Alessya pada mamanya. Ia berniat memberi pelajaran pada Adinda yang sudah berani mengambil kebahagiannya.


Widhia mengangguk dan memberikan senyuman pada putrinya. Widhia sangat mengenal putrinya, selama ini ia tidak pernah meminta apapun pada mama dan papanya. Widhia meminta Alessya untuk beristirahat dan menyuruh Alessya untuk membicarakan pada papanya besok pagi.


**********


Pagi itu Alessya membuka matanya yang sangat berat, ia berjalan dan melihat dirinya di cermin. Sisa tangisan itu membuat matanya sedikit sembab, namun Alessya sudah membaik dan lebih tenang dari sebelumnya. Alessya turun dan ikut bergabung sarapan bersama papa dan mamanya.


"Pagi sayang...hari ini kamu cantik sekali" Ucap Jordhan yang melihat putrinya masih baru bangun dan masih berpenampilan acak-acak. Baginya Alessya akan tetap cantik dalam keadaan apa pun.


"Pagi paa..." Jawab Alessya duduk disamping papanya dan mulai mengambil beberapa masakan di meja.


"Paa.. kalau Alessya minta sesuatu yang sedikit rumit, apa papa akan menuruti permintaan Alessya?" Tanya Alessya menatap papanya sambil memakan sayur.


"Apapun yang kamu minta, papa akan memberikan apa yang kamu mau" Ucap Jordhan menatap putrinya. Ia merasa sedikit terkejut karena Alessya selama ini tidak pernah meminta apapun dari papanya.


"Paa.. aku mau rektor dikampus ku diganti dan diturunkan jabatannya. Dan papa kenal Prof Albert kan... beliau sangat baik pada Alessya, Alessya ingin Prof Albert yang menjadi rektor di kampus Alessya" Alessya tersenyum santai sambil menyantap brokoli kesukaannya.


"Hemmp...papa akan mencari alasan yang tepat untuk mengganti rektor di kampusmu, tapi kamu jangan khawatir papa akan menuruti permintaanmu" Jordhan tersenyum pada putrinya dan membelainya. Pasti ada alasan dibalik Alessya meminta hal itu pada dirinya.


Alessya senang mendengar ucapan papanya, selain itu untuk membalas Adinda, namun hal yang penting adalah rektor kampus Alessya selalu menyalah gunakan jabatan pada bawahannya dan seringkali melakukan korupsi. Bahkan Alessya pernah melihat Rektornya tengan memarahi Prof Albert, dan Alessya berfikir kini waktunya untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang hidup semena-mena dan merusak kebahagiaan orang lain.

__ADS_1


Alessya kembali kekamar dan sedikit bersantai karena ia hanya memiliki kelas di jam 2 siang. Alessya berbaring dan malas mandi, ia ingin bermalas-malasan seharian.


Ting (Bunyi Ponsel)


Alessya meraih ponselnya dan melihat notif pesan masuk. Iya kembali duduk dan membaca pesan.


"Katanya mau belajar???" Alex


Alessya baru ingat jika dirinya memiliki janji pada Alex dan meminta Alex untuk mengajari dirinya.


"Emang kak Alex dimana?" Send


"Di perpus, buruan kesini mangkanya.." Alex


"Oke aku mandi dulu, bye" Send


Alessya bergegas mandi dan bersiap-siap untuk ke perpus. Awalnya ia ingin libur belajar namun semuanya gagal karena Alex berniat menemaninya. Alessya bersiap-siap dan berangkat.


"Kak, akhirnya ketemu. Aku pikir kak Alex pulang..." Ucap Alessya mengagetkan Alex yang sedang membaca buku.


"Lama banget syaa... emang ngapain aja sih dikamar mandi" Alex berjalan mencari tempat yang pas dan nyaman untuk mengajari Alessya, karena itu akan memakan waktu yang sangat lama.


"Yaa mandi lah, beraks juga hehe" Alessya mengikuti langkah Alex dan duduk di depan Alex.


Alex memberikan buku pada Alessya untuk Alessya pelajari. Seperti biasa ketika keduanya di perpustakaan mekara akan sangat serius, dan tidak ada pembicaraan yang tidak penting. Alex mengeluarkan potong kuku di sakunya, ia lupa akan memotong kukunya dirumah dan akhirnya ia membawa potong kuku itu di sakunya. Selagi menunggu Alessya yang menulis, Alex memotong kukunya yang sudah terlihat memanjang. Namun siapa kira jika suara dari potongan kuku itu membuat Alessya tidak fokus dan melihat kearah Alex.


"Kak, mau dong..." Alessya menjulurkan tangannya dan meminta Alex memotongkan kukunya.


"Hmmp Dasar" Ucap Alex memegang tangan Alessya dan memotongkan kuku Alessya.


Alessya pikir Alex akan marah dan menyuruhnya untuk kembali mengerjakan soal di buku, ternyata ia salah. Alex justru menerima permintaan Alessya dan memotongkan kuku Alessya. Alessya tersenyum melihat Alex yang sedang memotong kukunya dengan pelan.

__ADS_1


"Kak" Panggil Alessya.


"Hemmp" Jawab Alex masih fokus dengan tangan Alessya yang kukunya ia potong dengan sangat hati-hati.


"Gajadi deh" Ucap Alessya mengurungkan niatnya untuk bertanya sesuatu pada Alex. Alex yang merasa dirinya dikerjain langsung mengacak-acak rambut Alessya agar sama berantakannya dengan rambutnya. Alex menyelesaikan pekerjaannya dan menyuruh Alessya kembali fokus pada bukunya. Alex melihat ponsel Alessya berdering karena seseorang berusaha menghubungi Alessya, namun Alessya tidak menerimanya. Alex merasa hari ini Alessya sangat aneh.


"Kenapa gak diangkat? siapa tau penting" Ucap Alex menatap Alessya.


"Nanti aja deh kak, kan aku lagi belajar" Jawab Alessya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya, ia tidak ingin mengangkat panggilan ponselnya karena itu dari Daffa.


Alex merasa ada yang aneh dari Alessya, sikap Alessya tidak seperti biasanya. Ia tersenyum namun terlihat seolah-olah ada kesedihan dibalik senyumnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kalau kalian di posisi Alessya, apa yang akan kalian lakukan? Memperjuangkan orang yang kalian cintai atau melepaskannya untuk orang lain?

__ADS_1


Simak terus kelanjutan kisahnya, jangan pernah bosan dan jangan lupa beri like dan vote author agar author lebih semangat lagi dalam melanjutkan kisah Alessya. Terimakasih atas dukungannya 💗💗😊


__ADS_2