
Siang akan berganti malam, langit yang mendung tentu akan berganti cerah. Begitupun sebuah pertemuan pasti akan berganti menjadi perpisahan. Tak terasa sudah 1 minggu Alessya tinggal bersama Alex di Inggris, hanya tersisa 3 hari lagi waktu untuknya bisa bersama Alex. Semakin mengingat waktu yang berjalan sangat cepat membuat Alessya semakin sedih, karena ia akan berpisah dengan Alex. Saat ini Alex benar-benar menunjukkan jika dirinya sangat menyayangi dirinya, bahkan Alex dengan jelas menampakkan kecemburuannya ketika dirinya sedang di dekati pria lain.
"Kok bengong... mikirin apa sih," tanya Alex mentoel pipi Alessya.
"Hemmp gak ada, kita mau kemana lagi nih kak?" ucap Alessya tersenyum.
"5 menit lagi aku ada kuliah, yaudah ayo aku antar kamu ke Apartemen," Alex beranjak dan menggandeng tangan Alessya.
"Gak mau... aku mau ikut kak Alex aja, ntar kak Alex kuliah trus aku di perpus. Boleh kan?" memasang mata gennit dengan kedipan maut dan senyuman manja.
"Emmp... oke," angguk Alex menyetujui ucapan Alessya.
Perubahan itu kini sangat terasa dan berbeda dari sebelumnya, seperti halnya memeluk Alex saat sedang menyetir motornya, kini tak ada lagi rasa sungkan dan malu untuk memeluknya. Alessya memeluk Alex dengan sangat erat dan terkadang jika Alessya melonggarkan pelukannya, Alex selalu meraih tangan Alessya untuk kembali memeluknya dengan erat. Hal kecil yang bisa membuat keduanya bahagia dalam menjalin hubungan memanglah sederhana.
"Kamu duduk sini... kalau ada yang gangguin cepat telfon aku," ucap Alex memilihkan tempat duduk di perpustakaan.
"Iyaa kak... udah sana kuliah, ntar telat loh," Alessya mendorong Alex agar segera pergi dan masuk kelas. Alex hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Alessya dan kemudian pergi meninggalkan perpus dengan melambaikan tangan.
Alessya tersenyum melihat kepergian Alex, ia pun mencoba membaca buku-buku yang sudah Alex pilihkan untuknya. Saat Alessya mulai membuka buku tiba-tiba Alex kembali menemuinya dan duduk di depannya.
"Loh kok balik?" tanya Alessya menatap Alex heran.
"Iyaa bentar ada yang lupa," ucap Alex mengeluarkan pulpen dari tasnya.
"Sekarang, aku mau kamu tutup mata," Pinta Alex dengan memegang sebuah pulpen di tangannya
"Mau ngapain kak...," Alessya merasa bingung dan sedikit curiga pada Alex karena mengingat kejadian sebelumnya yang sungguh di luar dugaan.
"Udah deh... merem aja dan gak usah mikir yang aneh-aneh," ucap Alex terburu-terburu karena waktunya sangat mepet.
__ADS_1
Alessya pun memejamkan matanya dan kemudian Alex meraih tangan Alessya.
"Kak Alex ngapain sih..," ucap Alessya merasa geli di sekitar tangannya.
"Sekarang buka mata, ingat yaa... kalau ada yang gangguin atau cowok duduk disini sok-sok'an mau nemeni kamu, kamu harus tunjukin ini ke dia," ucap Alex memegang tangan Alessya.
Alessya membuka matanya dan melihat punggung tangannya tertulis Alex's girlfriend.
"Haahhh apa'an sih kak... emang harus yaaa di stempel kayak ginian," Alessya tersenyum melihat tangannya sendiri.
"Disini itu yang namanya Alex cuma aku, jadi mereka akan tahu kalau kamu punyaku. Ingat jangan di hapus sebelum aku kembali," kata Alex mencubit pipi Alessya dan bersiap masuk kelas.
"Iyaa sayang... udah sana pergi," Alessya melepaskan tangan Alex yang mencubit pipinya.
Alex tersenyum dan pergi berlari meninggalkan Alessya, ia pun kini merasa tenang karena sudah memberi tanda di tangan Alessya.
"Ada-ada saja kak Alex," batin Alessya geleng-geleng kepala melihat tulisan di tangannya.
"Perubahannya kelihatan banget yaa kalau punya pacar, dulu rajin banget ke kampus, lah sekarang suka telat," sindir Reza pada Alex.
"Yaa emang, dan perubahan loe sekarang juga kelihahatan, dulu suka ngebacot, sekarang suka nyinyirin orang," sahut Alex membalas sindiran Reza.
"Hahaha ya kan saudara sendiri gapapa dong, lagian loe sih lama banget," tawa Reza menggelegar di kelas yang pada saat itu belum ada Profesor di kelas.
"Gue abis ngasih tanda di Alessya, biar orang tau kalau dia milik gue," jawab Alex sambil mengeluarkan buku-buku di tasnya.
"What !!! Tanda.. Gilak loe yaa baru juga jadian udah main ngasih tanda sembarang ke anak orang," matanya yang membelalak karena Reza terkejut dan tak habis pikir dengan perbuatan Alex yang berani memberikan tanda merah di leher Alessya.
"Lah kenapa... kan cuma tanda doang," Alex bingung menatap Reza yang terlihat emosi padanya.
__ADS_1
"Loe gak kasihan apa Alessya di lihatin lehernya sama orang trus ada bekas merah-merah karena ulah yang loe buat," ucap Reza sambil menunjuk lehernya sendiri dan menurunkan kerah bajunya.
"Wah, saraf loe fungsi gak sih Zaa.. Gilak pemikiran loe mesum *****. Gue ngasih tanda ditangan Alessya bukan di leher, dan tanda itu gue buat dengan pulpen yang gue tulis kalau dia milik gue," ucap Alex emosi meladeni pemikiran sepupunya yang terlalu mesum.
"Oh, sorry gue salah," Reza memalingkan mukanya dan membenarkan posisi duduknya yang semula menghadap ke Alex disampingnya, kini menghadap ke depan.
Alex geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan otak yang ada di dalam kepala Reza, bisa-bisanya ia berfikir jika dirinya membuat tanda di leher Alessya. Tak ingin melanjutkan pembicaraan Alex kembali membuka bukunya.
**********
Sementara Alessya menunggu Alex sambil membaca buku di perpustakan, tiba-tiba ada seorang pria bule yang meminta izin untuk duduk bersama Alessya.
"Hi honey, may I sit here?" tanya seorang pria pada Alessya
"Sorry, this place is for my boyfriend and I are waiting for him," ucap Alessya sambil menunjukkan tanda di tangannya dan berkata jika ia sedang menunggu pacarnya.
Meski terkesan konyol namun Alessya merasa Alex berkata benar, dan dengan begitu ia tidak lagi di ganggu oleh bule-bule cowok. Alessya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kepergian bule itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continued....