Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Sticky Note Membuatnya Marah


__ADS_3

Dengan cepat Alex kembali ke kampus untuk menyelesaikan permasalahan yang kini menimpa kekasihnya. Sebelumnya saat dirinya masih di pesawat, ia bersama dengan rekan-rekannya yaitu David dan Rikky sudah menyusun rencana untuk membongkar kejahatan ayah Adinda yang sebelumnya menjabat sebagai dekan di kampusnya. Rencana Alex yaitu, meminta seluruh mahasiswa dari angkatan yang telah lulus sampai angkatan Alessya untuk mengisi sebuah petisi dan quesioner secara online yang nantinya akan Alex buktikan kepada media jika apa yang Alessya lakukan tidaklah salah.


Setibanya di kampus, Alex melihat banyak wartawan yang tengah berkumpul di depan kampusnya, mereka terlihat sedang mewawancarai Prof Albert selaku Dekan kampus saat ini. Alex mencoba masuk kedalam dan ia melihat temannya tengah menunggunya di depan ruang dosen. Ia berjalan dengan mengepalkan tangan dan merasa emosinya sedang tidak stabil, namun ia mencoba menahannya.


"Sudah beres bro... gue sudah mengunggah semua kebusukan Pak Bram di media. Ternyata ayah dan anak sama aja," ucap David merasa heran ternyata di dunia ini masih ada seseorang yang ingin menang dengan cara apapun.


"Oke, thank vid.... tanpa loe gue gabisa berbuat banyak," Alex merasa lega karena sedikit demi sedikit masalahnya akan selesai.


"Gak usah terimakasih, lagian disini yang berperan aktif membantu Alessya itu dosen killer kita.. hahha," David tertawa benar-benar tidak menyangka jika dosen yang sangat terkenal galaknya ternyata mau membantu muridnya yang sedang dalam masalah.


"Siapa? Prof Albert? kalau itu mah gue gak kaget, dia kan dari dulu emang sangat menyukai Alessya. Yahhh selain pinter katanya Alessya juga cantik, mangkanya beliau sangat menyukai Alessya" ucap Alex.


***********


Sementara Alessya yang saat ini masih dirumah sakit terlihat sudah sadar. Sadarnya Alessya ternyata berbeda dengan pasien lainnya, dimana jika pasien biasa mungkin akan membuka matanya pelan-pelan dan menanyakan Aku Dimana? pada orang di sekitarnya. Namun kenyataannya tidak untuk Alessya. Saat Jhordan tengah menunggu putrinya bangun, ia mengupas buah apel dan tiba-tiba...


"Oh tidak !!! Aku bermimpi....," ucap Alessya spontan langsung bangun dan duduk seolah tidak sedang dalam keadaan sakit.


Melihat putrinya yang tiba-tiba terbangun dengan sangat mengejutkan, hampir membuat tangan Jhordan teriris pisau. Bagaimana tidak, Alessya yang tersadar setelah beberapa menit yang lalu pinsan, kini terbangun seolah sedang bermimpi buruk saat tertidur.


"Papa baru tahu kalau ternyata anak papa benar-benar tidak anggun disaat tidur," ucap Jhordan geleng-geleng kepala.


"Eh papa..... tau gak paah, Alessya tadi mimpi kak Alex, bahkan mimpi itu terlihat nyata dan di mimpi itu Alessya menyentuh pipinya," Alessya menceritakan mimpinya dengan penuh semangat pada papanya.


"Hmmmp itu kan cuma mimpi, lagian kamu sendiri kan yang minta break sama nak Alex, jadi gak mungkin jika nak Alex bertemu kamu di dunia nyata," ucap Jhordan pura-pura mengikuti alur cerita Alessya tentang mimpinya.


"Aaa papa... lakukan sesuatu pada putrimu ini....," rengek Alessya menyesali keputusannya yang ingin break dengan Alex.


Jhordan tersenyum melihat tingkah putrinya yang benar-benar menggemaskan. Ia tidak menyangka jika putrinya sangat mencintai Alex, firasatnya dari awal sudah benar menilai Alex yang ingin dijadikannya sebagai menantunya kelak.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Merasa tak dihiraukan oleh papanya Alessya pun kembali tidur, sementara papanya memilih membukakan pintu dari pada menanggapi rengekan putrinya itu.


"Alessya.... Lihatlah, papa sudah melakukan sesuatu seperti apa yang kamu pinta," ucap Jhordhan memanggil Alessya yang tidur dan membelakanginya.


"Ahh males ah, paling juga mama bawain makanan," ucap Alessya tanpa berbalik.


"Hai...apa kabar....," sapa seorang pria yang suaranya terdengar familliar di telinga Alessya. Mendengar suara itu, dengan sigap Alessya bangun dan menoleh ke arah suara.


"Papa... apakah aku bermimpi?" tanya Alessya merasa aneh ketika melihat sosok pria yang terlihat seperti Alex kini datang menjenguknya.


Alex tersenyum melihat Alessya yang menganggapnya mimpi, ingin rasanya Alex mendekat dan mencubit pipinya agar Alessya merasakan sakit yang membuat tersadar jika dirinya tidak sedang bermimpi.


"Kamu gak mimpi....dan yang tadi kamu ceritakan juga bukan mimpi, nak Alex datang saat kamu hampir di keroyok masa," ucap Jhordan menjelaskan kebenarannya pada Alessya.


Alessya terdiam dan mengalihkan pandangannya, kini dirinya merasa sedikit gugup bertemu dengan Alex secara langsung. Melihat keadaan yang terlihat canggung antar keduanya, Jhordan meminta Alex untuk menemani Alessya dan berbicara dengannya, ia pun meninggalkan putrinya agar bisa lebih leluasa mengobrol dengan Alex.


Alessya hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, ia tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Alex. Dirinya sangat malu bertemu dengan Alex dengan keadaan yang sangat kacau.


"Mau makan buah gak? aku kupaskan yaa...," ucap Alex mengambil buah apel di sampingnya.


Respon Alessya tetap sama, ia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali tidur membelakangi Alex. Hal ini tentu membuat Alex bingung dengan sikap Alessya yang sangat cuek dan dirinya tak tahu harus berkata apa lagi pada Alessya.


"Eh... ada nak Alex toh....," ucap Widhia sangat senang melihat Alex yang kini sedang bersama putrinya.


"Iyaa tante, baru aja sampai," Alex menghampiri Widhia dan mencium tangannya untuk memberinya salam.


"Oh iyaa... kata dokter Alessya sudah boleh pulang, jadi sekarang nak Alex bantu Alessya ke mobil yaa...," ucap Widhia tersenyum.

__ADS_1


"Baik tante...," sahut Alex yang dengan sigap hendak menggendong Alessya yang tengah berbaring dan akan membawanya ke mobil.


"Aku pake kursi roda aja," ucap Alessya menepis tangan Alex yang sudah siap menggotongnya.


Berasa tersengat setrum, Alex merasa hatinya sakit dan kecewa melihat sikap Alessya yang seolah jijik ketika akan di sentuh olehnya. Dengan menghela nafas, Alex membawakan kursi roda untuk Alessya dan tanpa di bantu Alessya duduk di kursi roda itu. Alex berusaha menahan amarahnya, karena ia tahu dirinya saat ini sedang berhadapan dengan seorang pasien yang sangat beruntung karena terlihat masih cantik walau sedang sakit. Alex mendorong kursi roda Alessya menuju mobilnya.


Masih dengan suasana yang hening, Alessya masih tidak berbica sedikitpun dengan Alex walaupun hanya berdua di mobil, sementara papa dan mamanya pulang dengan mobil lain. Tak ingin membuat Alessya semakin bad mood, Alex pun memilih untuk ikut diam.


Sesampainya dirumah, seperti biasa Alex membukakan pintu mobilnya dan melindungi kepala Alessya dengan tangannya agar tidak terbentur, namun respon Alessya tetap sama yaitu hanya diam tanpa senyuman. Ingin rasanya Alex berteriak sekuat-kuatnya merasa tak tahan berada di bumi yang terasa sangat dingin.


Alex mengikuti langkah Alessya yang masuk ke rumah dan menuju kamarnya, ia khawatir jika Alessya tiba-tiba pingsan saat menaiki tangga. Masih dengan mulut yang terkunci rapat, Alex berusaha sabar dan membantu Alessya yang menaiki tempat tidurnya.


"Mau sampai kapan diemnya? kamu gak suka yaa aku datang kesini," ucap Alex menatap Alessya yang raut wajahnya cemberut.


"Ngapain juga kesini, gak ada yang nyuruh juga," ketus Alessya menjawab perkataan Alex.


"Hemmpp yaudah aku pergi aja kalau begitu, lagian kedatanganku juga gak ada artinya. Mungkin tempatku lebih cocok di Inggris," ucap Alex beranjak dari duduknya


"Iiiihhh tauk ah sebel, yaudah sana kalau mau pergi. Sana kumpulin sticky note yang banyak," ketus Alessya merasa kesal melihat Alex yang beranjak pergi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To Be Continued....


__ADS_2