Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Hukuman


__ADS_3

Hanya sekejap Alex merasakan yang namanya tidur, ia pun kembali terbangun ketika dirinya merasa sebuah dorongan kaki di pantatnya. Alex berbalik dan melihat ke arah Alessya yang kini sedang pulas tertidur dengan pose yang benar-benar membuatnya ingin tertawa. Kaki dan tangannya seolah ingin menjaungkau seluruh tempat tidurnya. Perlahan Alex menggeser kaki Alessya agar tidak terlalu lebar terkangkang.


"Hmmmp untung kamu cantik syaa...," bisik Alex memandang wajah Alessya yang terlihat menggemaskan walaupun sedang tertidur.


Entah mengapa berjam-jam sudah waktu berlalu namun, dirinya belum juga merasa ngantuk. Sejak tadi Alex hanya memandang wajah Alessya dan membelai rambutnya. Ketika tangan Alessya mulai bergerak dan memeluknya, dirinya mencoba bergeser lebih dekat agar Alessya bisa merasakan kenyamanan dalam tidurnya. Namun disisi lain kaki Alessya pun juga ikut memeluk tubuh Alex, seraya memeluk guling. Alex pun Berkali-kali mencoba menurunkan kaki Alessya dari pinggangnya.


Tanpa ia sadari waktu sudah mendekati fajar, perlahan Alex melepaskan pelukan Alessya dari tubuhnya. Dirinya harus bersiap pergi sebelum orang tua Alessya bangun. Walaupun merasa tindakannya tidak benar, namun itu semua demi keselamatan dirinya, karena tidak ada seorang ayah yang akan mau melihat putrinya tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya.


Kecupan demi kecupan mendarat di tempat tersendiri, yaitu pipi dan bibir. Tempat itu adalah tempat yang sangat Alex sukai. Bibir yang mungil dan pipi yang kenyal membuat Alex sangat menyukai tempat itu untuk menjadi sasaran kecupannya. Usai mencium Alessya, perlahan Alex membuka pintu kamar Alessya dan keluar diam-diam. Dengan penuh keraguan dan rasa takut, Alex memberanikan diri untuk turun tangga menuju ruang tamu. Naasnya, nasib dan waktu yang tepat tidak memihak pada Alex. Terlihat seorang laki-laki sedang menatap layar laptop duduk di sofa.


"Mau kemana?" suara Jordhan yang dengan seketika mengehentikan langkah Alex.


Tanpa berfikir panjang, Alex pun menghampiri Jordhan yang tengah menatap layar laptopnya dan ia pun duduk bersimpuh di bawah Jordhan.


"Maaf Om, saya sudah sangat lancang berada di kamar Alessya. Tapi saya berani bersumpah bahwa saya tidak melakukan apa-apa dengan Alessya di kamar," ucap Alex dengan perasaan yang sangat takut dan resah.


"Jadi, kamu bermalam di rumah saya atas kemauan sendiri atau kemauan Alessya?" sahut Jordhan yang dengan santainya tetap mengerjakan tugas perusahaannya tanpa memperdulikan Alex yang sedang bersimpuh di bawah.


"Duh kalau gue ngomong Alessya yang minta, trus Om Jordhan marahnya ke dia, kan kasihan Alessya nya," batin Alex menggrutu mencoba memikirkan jawaban yang pas.


"Kenapa gak jawab? Sudah bosan hidup?" ucap Jordhan membuka kacamatanya dan menatap Alex yang memikirkan sesuatu.


"Atas keinginan saya om, saya yang salah. Saya akan tanggung semua konsekuensi hukuman yang mau om berikan pada saya," dengan spontan Alex menjawab pertanyaan Jordhan yang membuatnya jantungan.

__ADS_1


"Oke, Om ingin kamu secepatnya menikahi Alessya. Dari awal Om sudah bilang kalau Alessya tidak ternilai harganya, dan dalam satu malam kamu coret batasan itu. Om kasih waktu kamu tiga hari, jika dalam waktu tiga hari kamu belum juga menikahi Alessya, maka jauhi dia. Satu lagi, Om akan putus hubungan bisnis dengan papa kamu," ucap Jordhan kembali menatap layar laptopnya.


"Baik Om, sekali lagi saya minta maaf sebesar-besarnya," sahut Alex dengan menundukkan kepala dengan perasaan sangat khawatir dan was-was. Dirinya berfikir bagaimana ia harus menikahi Alessya dalam waktu 3 hari, sedangkan S2 nya akan selesai dalam 2 bulan.


Melihat Jordhan yang diam tak menjawab, dengan perlahan Alex pamit dan meninggalkan rumah Alessya. Pikirannya kalut, dan tak tahu harus bagaimana.


*********


Sementara itu Alessya yang sejak tadi mendengar percakapan antara papanya dan Alex merasa sedih, karena permintaan papanya pasti akan sangat memberatkan Alex.


"Papaaa... papa kok jahat banget sama kak Alex. Itu semua bukan kemauan kak Alex pah.. Alessya yang minta dia nginep," rengek Alessya menghampiri papanya.


"Loh, itu kan salahmu. Suruh siapa ngajakin anak cowok nginep tanpa izin papa dulu," sahut Jordhan tersenyum melihat putrinya yang sedih karena dirinya telah berlaku tidak adil dengan Alex.


"Ihh papa mah jahat, dulu aja mama ngijinin Daffa nginep disini karena Alessya sakit, tapi gak ada hukuman apa-apa tuh. Lah giliran kak Alex aja, hukumannya berat banget sampai dikasih waktu 3 hari aja," nyrocos Alessya dengan perasaan kesal pada papanya.


"Tapi kan paa... kasihan kak Alexnya," walaupun ucapan papanya ada benarnya, namun dirinya tetap tidak ingin Alex merasa beban berat karena papanya.


"Sudahlah... papa yakin nak Alex bisa diandalkan," ucap Jordhan percaya diri.


Merasa bersalah yaa pasti, namun dirinya kini tidak bisa berbuat apapun. Membujuk papa sendiri saja sudah tidak berhasil. Entah apa yang harus Alessya lakukan, ia hanya bisa berdoa semoga Alex bisa mewujudkan apa yang papanya minta.


Telfon yang sejak tadi Alessya pegang tak mampu menghubungi dirinya dengan Alex. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Alex namun tidak ada jawaban. Bahkan sampai saat detik ini pun ia tidak tahu keberadaan Alex dimana, apakah sudah di di bandara atau masih dirumah.

__ADS_1



Alessya yang mencoba memikirkan cara sambil menatap layar ponselnya, ia sudah beberapa kali menghubungi Alex dengan mengiriminya pesan dan menelfonnya, namun tidak ada sedikt respon dan jawaban darinya.


"Hih dasar cowok, apa gini caranya kalau cowok nyelesain masalah. Seenak jidat aja langsung ngilang," grutu Alessya merasa sangat kesal.


Tanpa berfikir panjang Alessya langsung pergi menemui Alex dirumahnya berharap hari ini juga Alessya bisa bertemu dan berbicara dengan Alex. Untuk pertama kalinya Alessya keluar dengan mobil yang ia kendarai sendiri, tanpa sopir pribadinya. Walau pun sudah memiliki SIM namun rasanya sedikit aneh ketika ia harus menduduki bangku sopir yang selama ini selalu bersamanya. Namun meski dirinya tidak biasa menyetir, dengan sangat semangat Alessya untuk pergi menemui Alex, tanpa ragu-ragu ia menggunakan kecepat tinggi di mobilnya.


Perasaan yang kalut dan kian tak nyaman membuat Alessya semakin terperangah ketika dirinya sampai dirumah Alex dan hanya menemui calon mertuanya itu.


"Loh, Alessya.... Alexnya sudah berangkat sayang tadi pagi," ucap Niken menatap Alessya kebingungan.


Mendengar hal itu seketika Alessya tak tahu harus bagaimana lagi, kepanikannya kian membuatnya resah. Berharap tidak terjadi apapun antara dirinya dan Alex.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be contiuned


__ADS_2