Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 45 Pertarungan pria sejati


__ADS_3

Hallo pembaca setia CDH, maaf yaa otornya baru bisa up tengah malam.. selain baru sampai habis perjalanan seribu kilometer, otor juga mengejar up untuk Detektif Muda dulu yang konon wajib dengan status kontrak.. Mohon doanya agar CDH ini mendapatkan kepastian juga dari entun ini yaa.. kalau tidak jelas juga, mungkin CDH pindah lapak aja... oleh karena itu minta dukungan para readers yaa..


********************************************


"Usaha yang kita lakukan saat ini harus mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya. Agar nanti saat hari dimana dia harus dibawa oleh pihak berwajib, dia tidak bisa mengelak lagi."


Anggi tampak berpikir cukup panjang, "Nanti kalau butuh bantuan, gue siap 86.. Kapan pun dan dimana pun, pasti gue susul. Apalagi untuk memberikan pelajaran pada cowok brengsek itu.."


"Oh iya, tadi pagi Yukita udah pulang ke rumah. Jadi kalau mau menengok dia, lu bisa langsung datang ke rumahnya aja."


Wajah Anggi tampak ikut bahagia, meski belum bisa dibilang sembuh ya tota, setidaknya kalau di rumah sendiri bisa mengingatkan dia akan pertumbuhan nya hingga di usia sekarang. Siapa tahu terselip potongan-potongan ingatan yang hilang, sedikit demi sedikit bisa kembali, itu harapku.


"Bagaimana Yukita diajak masuk kuliah sekalian?" usul Anggi.


"Tapi sanggup nggak ya dia jalani kuliah lagi? Saat ini mungkin daya berpikir nya tak lebih dari anak kelas tiga atau empat esde."


"Ya eelah.. malah di usia itu daya tangkap anak dalam belajar lebih tinggi kan. Kalau kita yang udah dewasa gini malah bagai menulis di atas air, alias mudah lupa.."


Benar juga ya, yang dikatakannya. Tapi tunggu dia sembuh dan berjalan dengan baik dulu. Saat ini tubuhnya masih belum cukup kuat untuk berjalan sendiri. Tiba-tiba aku ingin lihat reaksi anak kecil di tubuh dua puluh tahun itu jika diajak ke tempat ini..


Syukurlah kali ini dia lebih menerima ku dengan baik, sebagai pacar dari sahabat nya. Tak lama kami membahas masalah Yukita, tampak dosen yang akan memberi materi datang diikuti oleh mahasiswa yang belum berada di ruang kuliah seperti kami berdua.


Kuliah kali ini cukup menguras emosi dan pikiran. Kembali yang terbayang gadis itu jika diajak kuliah kembali. Bisa nggak ya? Pasti lucu sekali kalau semua kawan di kelas ini dipanggil kakak olehnya.


Nanti sepulang kuliah mampir ke sana dulu aah.. tiba-tiba kangen suara nya manggil aku Aa..

__ADS_1


Kuliah terakhir beres pukul setengah lima. Tanpa berpikir lama-lama, langsung menuju parkiran. Ketemu lagi dengan beberapa teman yang aku kurang hafal. Kenapa sampai lupa terus nama mereka? karena isi kelas kami yang sangat banyak, dan sejak awal kuliah, aku hanya sibuk memerhatikan Yukita.


"Akel..." ku toleh ke arah orang yang menyapaku tadi. Hanya Yukita yang memanggilku dengan nama Harry di sini. Tidak apa lah, nama Akel juga keren kedengarannya.


"Bagaimana keadaan Yuki sekarang Kel?" sambung nya.


"Ooh.. Alhamdulillah saat ini dia sudah pulang ke rumahnya.."


"Waah.. padahal kami mau menengok nya ke rumah sakit. Kapan dia keluarnya Kel?"


"Tadi pagi."


"Oh, karena itu kamu tidak masuk kuliah pertama?" timpal yang lain dan aku lirik lagi orangnya, yang ini namanya siapa ya? Ternyata mereka sangat mengenal ku. Padahal selama ini aku tak peduli dengan mereka.


"Iya, tadi bantu-bantu beresin balik.."


"Tunggu Kel," pinta salah satu dari mereka yang tampilannya cukup mencolok. Kucoba kembali mendengar apa yang akan mereka ucapkan.


"Hubungan kamu sama Yuki itu bagaimana sih? kok tiba-tiba pacaran aja? Padahal sebelumnya tak pernah terlihat bersama.."


Hmmm.. pertanyaannya ke arah yang sama dengan yang kemarin.. jawab nggak ya.. Nggak usah lah.. nanti malah dijelaskan, malah tambah banyak pertanyaan.


"Saya pergi dulu ya.. Yukita mungkin sudah nunggu.." jawabku asal, ya kali ditunggu.. ingat saja kagak. Lalu mereka melepaskan ku untuk naik ke atas motor dan berlalu. Terlihat mereka kembali sibuk dengan gibahan sesama mereka.


Saat sudah keluar dari gerbang kampus, Anggi juga mengiringi laju motorku. Kami jalan beriringan, dan entah sejak kapan, ternyata kembali ada beberapa motor mengikuti kami, maksudnya mungkin aku yang diburu. Kenapa langsung ketemu ya? Apa mereka terus menunggu sejak tadi?

__ADS_1


Anggi membuka helm full face yang tadi menutup seluruh bagian wajahnya. Seolah menanyakan siapa orang-orang yang mengikuti kami ini. Aku hanya menggeleng kepala mengode bahwa aku juga tidak tahu. Kemudian aku kode Anggi untuk mempercepat laju motor kami. Aku dan Anggi menaikkan kecepatan, sebisa motor kami mampu. Aku mengungguli Anggi, kulihat dari kaca spion Anggi mulai menyusul di belakang.


Anggi memberi kode untuk berhenti di sebuah lapangan, yang biasanya digunakan untuk bermain bola oleh anak-anak sekitar. Dan kami belokkan motor tersebut masuk ke lapangan yang belum digunakan saat ini.


Kami berdua turun dari motor, menanti para cecunguk sialan ini. Apakah kecurigaan ku benar adanya? Orang-orang yang terdiri dari enam motor ini, adalah orang-orang dia. Aah.. sial, kayaknya kacamata ini akan mengganggu saja. Lebih baik sementara disimpan. Moga tidak salah pukul nantinya.



Kita lihat mau apa mereka..ku lipat lengan panjang baju kemeja ini, tiba-tiba terasa tidak nyaman jika diajak untuk bertarung. Mau nantangin ya.. hmm.. Kita lihat siapa yang akan menang dalam pertarungan pria sejati ini.


"Njirrr.. tampang Lu kok makin ngeselin kalau buka kacamata..." celetuk Anggi.


"Apaan sih Kampret..." umpatku sambil melepas hetset dan melempar tas yang berisi peralatan kuliah. Anggi juga melakukan hal yang sama.



Anggi juga sudah di posisi siaga, bersiap dengan apa yang akan terjadi ke depannya.


Keenam motor itu telah berada tepat di hadapan kami. Mereka berhenti dan turun dari motornya. Tanpa melepaskan helm, dengan membabi buta mulai menyerang kami.


Dengan kakinya yang panjang, cukup melayangkan tendangan di dada, salah satu mereka tumbang oleh Anggi. Sementara aku sibuk mengurus orang yang sedari tadi terus mengarahkan pentungan nya kepadaku. Dengan gesit pula akhirnya pentungan itu berhasil berpindah ke tanganku. Ku lempar benda itu jauh-jauh, aku lebih suka bermain dengan tangan kosong.


Kulakukan semua yang aku pelajari di taekwondo, memberikan pukulan dan tendangan di titik lemah yang rata-rata manusia miliki. Ada yang kuberi tinju di bagian ulu hati, ada yang kusikut bagian bawah tengkuknya, ada yang ku tendang bagian tepi dadanya. Mereka semua cetek bagiku. Belum apa-apa udah pada sok semua.


Anggi masih dalam perlawanan, mendapat serangan sekaligus oleh dua orang. Bagianku telah jatuh semua, dan aku harus membantu Anggi. Dengan jarak yang lumayan aku lari dan memberikan tendangan yang cukup keras. Salah satu mereka langsung terjatuh mendapatkan kaki yang mendarat di dadanya.

__ADS_1


Anggi mulai bisa mengendalikan keadaan dan kembali menghajar makhluk-makhluk yang tidak mau melepaskan helm nya itu. Mereka semua tumbang, Kupaksa melepaskan helm mereka.


*bersambung*


__ADS_2