Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Bab 35 Terlambat Bangun


__ADS_3

Waduh… aku telat? Bentar lagi bis kami akan berangkat, sedangkan aku masih berada di rumah.


“Bu… Yuki berangkat dulu ya? Doakan Yuki dan yang lain selamat hingga tujuan ya BU?”


“Ki… nggak usah ikut saja gimana?”


“Bu… kapan lagi Yuki bisa jalan-jalan? ini saja udah Yuki bayar lhoo Bu . kan sayang duitnya. sekarang tugas ibu mendoakan Yuki selamat ya Bu?” ku cium tangan Ibu dan Ayahku.


Rasanya tak sabar jantungku menunggu angkot menuju simpang Anduring ini, datang sebuah pesan dari Mili.


Ki… buruan!!! Kami udah PW di Bis nih.


Ternyata, Mili ikut juga studi banding karena biayanya lebih murah dari yang direncanakan dulu. Karena penginapan dan makan beberapa hari di sana telah disediakan oleh pihak Unpad-Undip setelah musyawarah dengan pihak Unand.

__ADS_1


Iya… ini aku lagi nunggu angkot


Tadi malam setelah menyiapkan perlengkapan, aku benar-benar tak bisa tidur. Otak ku berkelumit memikirkan sebentar lagi akan bertemu Harry. Harry… Harry… Harry..


Aku sibuk memikirkan bagaimana wajahnya. Yang ku bayangkan orangnya tidak cakep sih, paling yang terbayang olehku seperti wajah pelawak yang terkenal dari Bandung.


Entah kenapa aku bisa berpikir dia seperti pelawak itu? Tapi aku harus siap menemui dia sejelek apapun dia. Namun jika dia lebih baik dari bayanganku alias ‘ganteng’ itu lebih bagus.


Tapi, jika dia sudah punya pacar aku harus lapang dada. Yang penting ketemu dulu dengannya…


Lalu ku tengok jam dinding yang ada dalam kamar yang menunjukkan pukul dua dini hari dengan remang-remang dan mungkin pada waktu itu aku bisa terlelap.


Aku terbangun dengan sendirinya waktu Azan Subuh bergema, langsung aku bangkit, mengambil wudhu dan melaksanakan sholat.

__ADS_1


Sama sekali aku tak ingat akan ada perjalanan jauh hari ini dan langsung mengulang tidur karena aku merasa sangat lelah dan mengantuk.


Tak ada yang membangunkan aku, dan aku terbangun sendiri jam delapan pagi. Aku masih linglung dalam hati bertanya kenapa ada ransel ada di depan lemari pakaianku. Dengan santai ku cuci muka dan sarapan pagi walaupun belum mandi.


Bukankah saharusnya sekarang Ibu harus pergi mengajar? Oh mungkin lagi libur. Tapi Ibu tak mengatakan apa-apa padaku. Selesai makan, aku baru ingat bahwa jam setengah sepuluh kami sudah harus berangkat.


Ku lihat jam dinding telah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.


Aku merasa Ibu sengaja tidak membangunkan aku, karena Ibu sangat berat hatinya membiarkan aku melakukan perjalanan jauh.


Tapi Ibu memberiku izin kok, karena beliau tahu seberapa besar perjuanganku untuk bisa ikut perjalan ini dan mengerti kenapa dulu aku diserang Tipes.


Tapi Ibu berusaha dengan jalan yang halus membuatku tidak jadi ikut dengan cara membuat itu seolah kesalahanku sendiri, yang dipikirkan cukup menyakitkan jika aku tidak jadi ikut studi banding itu.

__ADS_1


Tapi sepertinya Tuhan-lah yang mengizinkanku mencari Harry, dan bertemu dengan orang yang ku cintai dalam hati yang terdalam.


Lamunanku dibuyarkan angkot yang berhenti di hadapanku, Tampa mikir panjang langsung kunaiki dan duduk dengan perasaan gregetan ingin segera sampai.


__ADS_2