
Selama liburan dan jadwal kerjakupun satu hari penuh, dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya gajiku untuk kerja selama liburan ini dua kali lipat tiap minggunya. Pas minggu pertama aku diberi lebih dari seharusnya.
“Da, ini kebanyakan..”
“Tidak apa, ini gaji ketika ujian, kan belum Uda beri?”
“Makasih ya Da…”
“Ya, sama-sama…”
Gaji bonus ini akan kumanfaatkan untuk mentraktir Anggi, dia sering menemaniku bahkan rela pulang malam untuk mengantarkanku. Kadang ada rasa tidak enak dan menyuruhnya langsung pulang, tapi dia tidak mau dan terus menantiku dan mengantarkanku pulang.
💖
Akhirnya kuliah juga… aku rindu pada semua teman kelas. Ada yang kebingungan mencariku karena tak bisa menghubungiku.
“Yuki, saat mencoba menghubungimu, kenapa telpon kamu tidak aktif sih?”
“Oh, maaf… Aku mengganti nomor hape. Sini hape mu!” langsung kusalinkan nomor baru padanya.
Tak kuduga, hampir semua teman kebingungan karena nomorku tak pernah aktif. lalu kami memutuskan untuk membuat grub kelas, agar lebih mudah saling berkomunikasi. dan kuberikan informasi kontak yang baru lewat grub chat kelas.
Akel belum tampak sejak aku sampai di kampus tadi, ini membuatku semakin yakin bahwa kampung Akel di ujung timur negara ini.
Setelah urusan kampus selesai meski pun tidak terlalu penting, hendak menuju kios bareng Mili aku bertemu dengan Akel, “Haaaai, gimana liburan di kampungnya?”
__ADS_1
“Biasa aja” dan berlalu.
“Akel itu pendiam sekali ya?” celetuk Mili.
“Iya, melebihi kamu.. hehehe”
“Yee, tak enak kalau terlalu pendiam”
“Toh kamu juga pendiam”
“Iya, tapi kan tak terlalu pendiam?”
“Iya iya tapi tetep saja pendiam.” haha… aku seneng membuat Mili merajuk seperti itu, biar dia mencoba lebih terbuka lagi. Dia juga aneh? Masa bisa bilang orang lain pendiam? Padahal dia sendiri juga pendiam, sekarang memang ada sedikit kemajuan. Syukurlah dia mengerti jika terlalu diam, akan sulit berkomunikasi dengan yang lain.
semester kedua ini mata kuliah wajib kami sebanyak 21 SKS, dan aku akan ambil kuliah wajib kekhususan Hukum Tanah Adat dengan beban 2 SKS. Jadi beban semester ini 23 SKS. Sementara Mili dan Anggi mengambil kuliah kekhususan yang berbeda denganku.
💖
Nilainya sempurna… dari atas hingga ke bawah berjejer nilai “A” di hasil studinya. IP nya empat… tapi… itu… karena sifatnya yang cuek, temen-temen lain banyak bilang dia anak yang sombong dan angkuh. Padahal aku tahu… dibalik itu semua tersimpan sifat yang penuh perhatian. Buktinya dia tahu seluruh gerak-gerikku, bahkan waktu aku jadwal kerja pagipun dia hafal..
Di rumah, orang yang pertama kali ku beri tahu nilaiku adalah Ibuku… aku sangat menyayangi beliau, beliau begitu bangga dengan nilai yang ku peroleh. Aku juga bersyukur karena dengan ini akan mempermudahku meraih mimpi, mendapatkan beasiswa untuk biaya study banding ke Bandung, dan mudah-mudahan aku bisa bertemu dengan Harry.
''
Kesibukan semester ini tak jauh berbeda dengan semester lalu. Apakah ini yang namanya jodoh aku selalu dipertemukan dengan Akel saat kuliah khusus kali ini.
__ADS_1
Pulang kuliah aku tetap langsung menuju tempat kerja. Aku juga masih sering minta tolong pada Nova untuk memasukkan karyaku ke Tabloid bulanan milik kampus kami Genta. Ada yang dipublikasikan, ada yang tak masuk hitungan, dan ada yang hilang awan karena tak ada kabar berita gimana dengan karya itu, mungkin tercecer, mungkin dijual jadi kertas kiloan, atau mungkin sengaja dibuang masuk tong sampah karena karya yang tak bermutu.
Berbeda dengan puisi karya Mili, karyanya selalu dimuat di kolom sastra, dia selalu kreatif dengan ide penciptaan puisinya yang eksotik,
Perang dalam oleh Milyantika
Gerilya tombak berlafazkan parang
Menghujam-hujam setiap yang ada
Butir-butir beningnya nafaz
Terbiaskan suara-suara
Hatiku terkulu seperti tak ada esok
Mengaum-aumkan caci makian
Kaki-kakipun tak sanggup jadi penopang
Ketika dada semakin membuncahkan arang
Sampai terjaga dua peri hingga habis perang ini
Habislah parit jadikan percik-percik hujan
__ADS_1
Dalam tiap detak nyawa hidup perisai*