
Aku mungkin tertidur sangat lama, bahkan terasa tidur lebih lama dibandingkan putri tidur yang tidur selama seratus tahun, dan terbangun oleh sebuah kecupan yang diberikan pangeran gagah dan rupawan. Namun aku, tak akan ada pengeran apapun yang mengecup keningku untuk membangunkanku… tak ada.
Tiba-tiba aku merasa hangat oleh sebuah pelukan yang penuh kasih dan sesuatu yang keras membentur hidungku, dan masih tak dapat ku buka. Terdengar sebuah bisikkan “bangunlah dari tidur panjangmu…” dan terasa sebuah butiran hangat jatuh di pipiku. Siapakah gerangan yang selalu ada di sisiku ini?
Akhirnya aku mampu membuka mataku sedikit demi sedikit, dan sebuah sinar yang menyilaukan membuatku memicingkan mataku kembali. Lalu sedikit demi sedikit ku buka kembali mata dan tampak sebuah cahaya yang datang dari lampu rumah sakit yang menyilaukan.
“I… i… bu…”
Ibu langsung mengelus rambutku dan tersenyum. Ku ingin bertanya pada Ibu, kenapa aku berada di sini? Jangankan itu… membuka mulut saja aku tak bisa, dan aku hanya bisa memandangi ibuku….ibu… apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa begini?
Benar juga kata orang-orang. Kontak batin antara Ibu dan anak sangat kuat, sehingga ibu tahu semua isi hatiku “sabar ya Nak… kamu harus kuat… kamu di rawat di rumah sakit karena positif terkena penyakit Tipes. Sekarang kamu istirahat saja!”
__ADS_1
Mendengar itu, aku merasa lebih tenang. Aku mengira akan begini terus, dan mengalami kelumpuhan hingga tua. Dari cerita Ibu juga aku tahu sudah lima hari sejak aku pingsan di kampus, dan baru bangun setelah lima hari dirawat. Ini untuk kedua kalinya aku diserang penyakit yang sama, waktu itu aku masih kelas empat SD. Yang aku ingat, aku benar-benar sadar waktu teman-teman sekelas datang membesukku yang kalau tidak salah itu setelah enam hari dirawat di rumah sakit.
Ini hari kelima aku baru saja bangun dari tidur yang panjang. Aku lihat di tangan kiri terpasang jarum infus dan di kotak infus tertulis “Asam Laktat” dan itu membuatku mengerti mengapa setiap menggerakkan tangan kiri selalu terasa sakit dan ngilu. Di nakas samping ranjangku, tampak banyak sekali buah dan roti yang tersusun dengan tidak rapi.
“Banyak yang datang kesini untuk melihatmu, namun kamu tak kunjung bangun juga”
Aku hanya mengedipkan mata mendengarkan ucapan Ibu barusan. Lalu ibu melanjutkan kegiatannya, Ibu… Ibu pasti sangat sibuk.
Kembali terpikir olehku… siapakah yang berada di sampingku saat aku tertidur? Siapakah yang menangisi keadaanku? Ku rangkai mutiara kata dalam relung jiwa;
Tetesan embun menyiram sukma
__ADS_1
Angin mana…
Yang datang padaku?
Rasa hangat yang menyelubungi hati
Begitu dekat, namun nyatanya jauh
“I… i… Ibu” ibu langsung berdiri di sampingku “Ibu istirahat saja…” aku hanya sanggup menghembuskan bisikkan.
“Iya… bentar lagi… masih ada yang harus Ibu kerjakan” mengelus rambutku dengan lembut, dan aku merasa nyaman diperlakukan seperti ini, seperti kembali ke masa-masa balita.
__ADS_1