Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 18


__ADS_3

Kembali ke hiruk pikuknya dunia perkuliahan, menatap wajah itu kembali. Kembali dalam diam terus mencintainya.


Memperhatikannya, menyadari aku bahwa ternyata hubungannya dengan Aldi itu hanya sebuah permainan. Aku tahu Aldi itu memiliki kekasih lain, sepertinya Yukita juga mengetahui hal tersebut. Jika Yukita benar mencintainya, pasti tidak akan menerima cinta yang menghianatinya.


Hanya saja aku tak sabar dia untuk mengakhiri permainan yang tidak berguna itu dan lebih fokus pada kuliah saja.


Aku juga merasa lega, semester ini dia tidak perlu pontang-panting bekerja paruh waktu. Sejak sakit kemarin, dia sepertinya gampang lelah. Mungkin sistem imunnya menjadi lemah pascatypes kemarin.


Tapi, sebelnya Anggi terus saja mengekori dan memberi perhatian padanya. Aku sadar sejak awal bahwa Anggi sebenarnya sangat menyukai Yukita. Tapi dia gadis yang tak peka, benar-benar polos menganggap Anggi sebagai sahabat. Yang penting aku tahu, dari sorot matanya, dia sama sekali tak ada cinta untuk Anggi.


Waktu terus berlalu dan aku mendapat kabar bahwa dia termasuk orang yang mendapatkan beasiswa dan beberapa lainnya. Sementara, tentu aku juga mengajukan untuk beasiswa prestasi, ternyata malah jebol di supersemar yang nominalnya cukup gede.


Ujian akhir pun diakhiri, liburan semester tiga datang. Dan sekarang adalah waktu yang ditunggu Yukita sejak dulu yaitu Studi Banding ke Unpad dan Undip.


Sudah banyak yang datang dan duduk di bangku bis yang disediakan. Tapi batang hidung anak itu masih juga belum tampak. Mili sudah datang, tampak Anggi memilih duduk di sampingku.


Tapi kuusir, sehingga akhirnya dia duduk bersama Mili. Kenapa? Biar aku bisa dapat sebangku berdua dengan Yukita. Setiap orang yang ingin duduk di bangku itu, aku bilang sudah ada orang. Tapi dia ada di mana? Kenapa lama? Terdengar, supir mulai menghidupkan mesin, dia masih juga belum sampai. Waduuh, dia belum juga sampai?


“Yuki… kok telat sih? Wah… kamu keringetan?” akhirnya dia sampai juga.


“Iya ni… tadi Ibu nggak banguni aku. Aku duduk dimana?” sepertinya Mili menunjuk ke arahku.


“Eh… sebelahmu kosong ya? Boleh aku duduk di sana?” ini memang tempat untuk kamu kali.


Kuberi ia jalan, ternyata dia masukin tas ke kabin bis, malah jatuh. Langsung kusambut dan masukkan ke dalam rak yang tersedia. Dia masuk mengambil posisi jendela, dan aku cukup di sini sebagai penjaganya.


“Kok telat? Pakai acara perpisahan segala dengan ‘nya’?”


“Haha… perpisahan apa coba? Toh kami udah putus”


Putus? “Akhirnya kamu putus juga dengan orang yang tak setia seperti itu. Bukannya aku jelek-jelekin dia, aku sendiri pernah lihat dia dengan cewek selain kamu.”


“Hehe… aku udah lama tahu kok, dia punya pacar yang lain.”


“Kenapa tidak langsung kamu putuskan?”


“Hemmm… yang jelas sekarang aku sudah putus dengan dia kan?”


“Apa kamu nggak sedih putus dengannya?”


“Sedih? Ngapain juga aku sedih putus dengan orang yang sama sekali nggak ku sa-yang?”


“Tapi kenapa dulu kamu tetap mau balik dengannya lagi, jika kamu tidak ada rasa padanya?”


“I…ih… kamu banyak tanya juga? Pertama kali ku terima dia karena kasihan saja, waktu balik dulu juga karena kasihan padanya, makanya ku terima lagi”


Tapi kenapa kamu tidak kasihan padaku? Menghargai perjuanganku untuk menemukanmu? Hanya bisa mengatakannya dalan hati.

__ADS_1


Bis mulai berjalan, dan matanya seperti berbinar bahagia. “Kenapa? Sepertinya kamu seneng gitu?” dia hanya memberiku senyumannya itu lagi. “Eh, aku masih penasaran dengan cerita yang tadi nih”


“Cerita apa?”


“Dengan mantanmu”


“Oh… itu… yang jelas hubunganku dengan Aldi telah berakhir. Aku bahagia bisa terlepas dari orang yang tak kusayang. Oh iya… kamu sendiri gimana? Gimana kabar ‘ayank’ mu itu?”


“Maksudmu?”


“Itu lho… ku lihat di buku telponmu ada ‘ayank’ itu cewek kamu yang ada di asalmu kan? Apa kamu nggak kangen dengannya?”


Haha, itu... dia saat ini di sebelahku “Oh… dia”


“Iya… ‘dia”


“Dia adalah orang yang paling ku cinta hingga saat ini”


“Waah… gimana nih ceritanya?”


“Walaupun dia menghilang, aku berhasil bertemu dengannya”


“Lalu… kalian jadian?”


“Ah… jangan tanya lagi!”


Kemudian kami diam dan memandangi pemandangan kota ini dari dataran tinggi. Ternyata, kota ini tampak sangat indah dilihat dari sini. Kemana saja aku selama ini?


“Aku baru tahu kota kecil ini bisa tampak begitu indah dari sini” waduh, ternyata dia memperhatikanku, membuat jantung berdebar saja. Komik mana komik?


Beberapa waktu, dia mulai terlihat gelisah. Apakah dia mulai merasa mabok perjalanan?


“Kamu mual ya?” dia mengangguk.


Oh iya “nih…!!!” aku punya permen buat jaga-jaga “dalam perjalanan, kita harus banyak ngomong, biar nggak mabok”


“Gimana juga caranya ngomong? Kan kamu yang larang aku banyak tanya”


“Jadi karena itu kamu ngambek?”


“Aku nggak ngambek”


“Baguslah…” kembali kubuka komik, ternyata kulihat dia terus memperhatikanku, wajahnya tampak menggemaskan, anak kecil di sebelahku ini selalu saja membuatku luluh.


“Udah deh! Jangan manyun gitu! Oke deh… kamu mau nanya apa?”


“Hehe… aku penasaran pengen tahu tentangmu. Tapi kamu janji cerita sama aku!”

__ADS_1


“Kalau tidak terlalu pribadi, akan ku jawab”


“Kamu ulang tahun tanggal berapa sih?”


“Pas tahun baru” masa dia tidak tahu?


“Kel…”


“Hemmm”


“Kacamatamu ada embunnya tuh” kubuka, kubersihkan sejenak, ternyata dia memperhatikan gerak-gerikku.



kami dalam aksi tatapan yang cukup panjang. Kemudian tampak sedikit memerah meski samar. Lalu kupasang lagi kacamata agar bisa melihat wajahnya lebih jelas.


“Kel, kamu anak keberapa?”


“Sulung”


“Baca komik apa sih? Serius banget?”


“Ini masih banyak, kamu mau minjem? Daripada nanya melulu?”


“Oke… aku baca komik aja” ternyata tak lama kemudian dia melemparnya kembali padaku. Ya udah, kalau ngga suka mah.


Setelah enam jam perjalanan, kami beristirahat di Dharmasraya. Usai istirahat, ternyata Yukita sudah duduk di bangku depan bersama Mili. Kembali dia memilih duduk di dekat jendela, aku ikut duduk tepat di belakangnya, di sebelah jendela.


“Emangnya tadi di belakang kenapa?” tanya Mili.


“Waduh, gila? Bosen banget aku… dia menyebalkan” Mili tertawa. Waduh, gimana ya caranya agar lebih luwes mengobrol dengan Yukita? Jadi nyesel sendiri, karena tidak meladeninya dengan baik.


Malam semakin larut, semua penumpang sudah tertidur mengikuti liukan gerakan bis. Ternyata, gadis di depanku ini masih terlihat gelisah. “Kamu nggak bisa tidur?”


“Iya… aku pusing dan lelah di atas bis ini. tak bisa baca, tak bisa tidur, dan tak bisa ngapa-ngapain”


“Gini… aku punya tips buat kamu. Bayangin aja gerakan bis ini merupakan alat pijat refleksi. Kamu harus tenang, jangan panik! Pikiranmu harus santai! Dan dengerin musik instrumental yang slow!”


“Tapi batraiku abis, lupa tadi ngechas gara-gara buru-buru. Lagian aku tidak punya musik instrumental yang kamu bilang itu.”


Oh iya, langsung kuserahkan hape yang kumiliki yang sebelumnya sudah kucarikan musik yang tepat,


“Pasang headset! Tinggal denger aja kok.”


Makin lama, dia makin tenang, dan tertidur. Kulihat Anggi sudah sangat pulas, yang lain juga. Ku usap rambut panjangnya, kenapa aku tak bisa lebih dekat dari ini dengan gadis ini? refleks, kuberdiri dan mengecup kepalanya.


Tersadar, kulihat sekeliling, huuufftt...semua sudah lelap. Ini adalah gerakan tanpa sengaja, jadi ingat kembali dulu memeluknya saat dia sakit. Aah, kenapa hanya bisa jadi lelaki seperti ini? Main belakang...

__ADS_1


__ADS_2