Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-4


__ADS_3

"Aa, ayo buruan! Kepala Yuki pusing. Pokoknya Yuki gak mau sekolah lagi! Sekolah yang ini bikin Yuki sakit kepala!" ucapnya melipat kedua tangannya.


"Tunggu, sedikit lagi selesai!" Aku mengerjakan dua catatan sekaligus. Satu milikku dan satu lagi miliknya. Dia tidak mau mencatat materi yang disampaikan dosen tadi. Katanya, dia tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh dosen itu.


"Padahal tidak ada pelajaran matematika, tapi Yuki tetap aja tak bisa. Kepala Yuki jadi pusing. Ayoo A' kita keluar. Kita pulang..." rengeknya.8


"Iya, iya... Ini Aa udah beres. Punyamu juga ini," kuserahkan buku itu dan dia seperti tak mau menerimanya.


"Ayo ambil! Simpan dulu!"


Dia mencabikan bibirnya. Menerima buku dan segera memasukan ke dalam tas. Aku gandeng tangannya, tanpa rasa malu dia hanya mengikutiku. Sebelum kejadian kecelakaan kemarin, mana mau dia bergandengan seperti ini saat di kampus. Ini kah yang namanya hikmah di balik kesusahan? *bagiku.


"Nah, ayo naik!" Posisiku sudah siap sebagai pilot yang akan membawa penumpangnya terbang mengelilingi dunia.


"Akel...!!!"


Terdengar sebuah suara memanggilku dari seorang perempuan. Ternyata dia lagi. Dia yang mengatakan bahwa pacarku ini gadis cacat.


"Lusi!" ucap Yukita.


"Kamu ingat namanya?"


"Tadi aku simpan satu-satu dalam catatan. Jadi nama dia Lusi."


Aku acak gemas rambutnya, "Kalau begini kamu pinter yaa..."


"Kenapa?" tanyaku kepada gadis yang ternyata bernama Lusi.

__ADS_1


"Aku harap kamu mau berbicara denganku sebentar."


"Tentang?"


"A' pergi lah ke sana! Kata ibu Yuki, kalau ada yang bicara, harus kita dengarkan." ucap gadis polos yang sudah duduk di belakangku.


"Kayaknya gak penting Yang."


"Gak boleh gitu Aa...!!! Ayo ke sana!"


"Kita pulang saja."


"Aa' ngga boleh gituuu...!"


"Akel...," kembali dia memanggilku.


"Buruan!"


Akhirnya aku turuti juga permintaannya. Hufft, aku mah apah atuh? Hanya budak cintanya gadis bernama Yukita Marsya. Cewek bernama Lusi itu tampak memiliki gelagat yang aneh.


"Ada apa?"


"Apa kamu yakin, akan berpacaran dengan gadis pincang itu? Kamu sadar nggak sih? Di sini banyak sekali yang nungguin dan nyumpahin kalian putus secepatnya. Lihat tuh!" Dia menunjuk ke arah suatu tempat. Aku ikuti arah yang ditunjuk. Tampak beberapa orang cewek yang berkumpul melihat ke arah kami.


"Kenapa mereka?"


"Mereka itu cewek-cewek yang nggak setuju kalian berdua pacaran. Miris banget tau nggak? Mau-mau aja pacaran sama cewek yang kakinya tidak sgempurn."

__ADS_1


"Mulut lu pedes juga? Gue cabut!"


Dari pada aku menjadi emosi, lebih baik kutinggalkan. Tiba-tiba aku merasa kelakuan dia menjadi mirip Popon. Apa semua cewek kayak gitu ya? Ah, sudah lah. Mending aku menikmati waktu dengan pacarku yang imut. Sepertinya aku harus mencari ahli, untuk memperbaiki kaki Yukita. Biar dia tidak jadi bahan bulian bagi mereka.


"Yang, kita cari terapis yuk?"


"Terapis itu apa?"


"Yang bisa bikin kamu berjalan dengan baik."


"Sakit?"


"Enggak, enak kok."


"Ayok-ayok..." ucapnya dengan semangat.


Lalu kami melesat. Mumpung belum malam, aku mencari referensi terapis tulang kaki dulu di internet. Setelah ketemu, ternyata lokasinya lumayan jauh dari lokasi kami saat ini. Tanpa banyak basa-basi, langsung aku tuju tempat itu. Aku ingin membungkam mulut-mulut mereka yang meremehkan pujaan hatiku ini.


Sekitar setengah jam perjalanan, dengan mengikuti Map, akhirnya kami sampai. Terlihat antrean yang sangat ramai. Banyak pengunjung yang membutuhkan bantuan terapis ini. Semoga kondisi Yukita menjadi lebih baik. Namun, ternyata, sebelum dilakukan terapis menggunakan alat, dia harus melakukan peregangan terlebih dahulu dengan pijitan.


"Aaaarrrggghhhttt..."


"Aaaaarrrrrggtttttt..."


"Ibuu ... Ibu ... Ibu!!!" begitu lah tangisnya.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2