
Melihat Anggi yang begitu, membuat aku semakin gencar untuk mengejarnya. Bicara agak satu jam saja, tidak! Setengah jam saja! Bukan-bukan, lima menit saja itu sudah cukup buatku. Setiap melihat keberadaannya, kutinggalkan Harry lalu mengejarnya agar tidak hilang lagi.
“Ang...!” dia hanya menoleh sebentar dan pergi menghilang lagi dariku. Hal itu sudah sering terjadi, sehingga semua kawan yang melihat kejadian itu heran.
“Yuki? Ada apa kamu dengan Anggi?”
“Yuki? Bukannya kamu pacarnya Akel? Masa kamu kejar-kejar Anggi terus?”
“Yuki, tadi kulihat Akel kesel gara-gara kamu tinggal saat mengejar Anggi.”
Begitulah tanggapan sekedar bicara dari teman-teman. Harry adalah kekasih, sementara Anggi adalah teman baik. Aku ingin semuanya tertata di posisi seharusnya. Aku ingin itu bisa sesegera mungkin. Hatiku getol kalau terus menunggu waktu yang tidak pasti itu. Aah, itu Anggi. Langsung ku kejar, dan dia balik kanan hendak meninggalkanku. Kutarik bajunya, dan dia berhenti..
“Apa lagi?” bentaknya.
“Ang, aku mohon.. kamu jangan seperti ini!”
“Emangnya aku kenapa? Aku memang seperti ini sejak dulu!”
“Kamu tidak seperti Anggi yang aku kenal! Kembali lah seperti dulu, yang selalu ceria dan lucu!”
“Hah? Ceria? Lucu? Suruh saja Akel yang begitu untuk kamu!”
“Ang, apa di antara kita tidak bisa lagi menjadi sahabat seperti dulu?”
“Sahabat? Seperti dulu? Mimpi!” dia tersenyum sinis lalu meninggalkan ku. Kenapa rasanya sangat sakit? Penolakan ini membuat luka yang berbeda di dalam dada? Apakah benar tak ada persahabatan sejati antara pria dan wanita.
Tanpa kusadari air mataku menetes dengan sendirinya. Rasanya sama sakitnya saat jauh dari Harry. Ku terduduk di bangku yang tersedia di koridor yang panjang ini.
“Yukita! Sampai kapan kamu akan begini?” ternyata Harry sudah berdiri di koridor mungkin memperhatikan kami sejak tadi.
“Tak pernah kah kamu memikirkan perasaanku melihatmu begini? Mengejar lelaki lain, di depan mataku? Aku ini kekasihmu!”
“Maaf! Aku hanya tidak sabar ingin melihat dia seperti yang dulu lagi.”
“Lalu? Aku ini apa artinya untukmu? Lebih memilih dia, dibanding aku yang saat ini tepat berada di sampingmu?”
“Harry, jangan bicara begitu. Posisi kalian berdua itu tidak sama. Kamu, adalah orang yang aku cinta, sedangkan dia sudah kuanggap sebagai saudara.”
“Jadi aku tak cukup untukmu? Tak bisa sekaligus menjadi sahabat ataupun saudara bagimu?”
“Bukan gitu... jangan ngomong seperti itu! Aku cinta sama kamu.”
Dia mendekat, mengusap rambutku dengan lembut, “Jika kamu cinta padaku, jangan pernah menangisi laki-laki lain, apalagi itu di depan mataku!” aku mengangguk dan dia duduk di sampingku.
Kembali dia menggenggam jemariku, “Kamu tahu? Aku merasa sakit saat kami menangis, apalagi itu karena orang lain. Cukup pikirkan saja aku, tak usah pikirkan yang lain!”
__ADS_1
“Maafkan aku,” kugenggam juga tangannya terbawa suasana. Sementara di sekitar kami mahasiswa yang lewat melirik sambil bisik-bisik, seketika kulepaskan tangannya karena malu.
“Ssst... jangan minta maaf mulu! Yuk, kita pergi dari sini!?” lalu kami melangkah cepat, meninggalkan tempat itu.
***
Setelah itu, hari-hariku selalu diisi bersama Harry, apa pun kami lakukan berdua. Tak ada bosannya bersama dia. Hubungan kami semakin dekat. Tak ada lagi rasa canggung seperti saat bertemu lagi dengannya sebagai Harry. Sehingga aku berani candain dia, niru gayanya memasang wajah dingin. Dia tertawa, benar-benar jarang kulihat dia tertawa.
Akhir-akhir ini hanya sering melihat dia tersenyum, tapi tertawa terpingkal-pingkal itu sangat jarang sekali. Tanpa sadar, kami jadi perhatian orang, karena dia terus saja tertawa.
“Sudah-sudah! Kamu jangan pasang muka aneh gitu mulu! Hahaha..”
“Yeee... itu tampang wajah kamu kali? Berarti kamu itu aneh.. weekk..!!”
“Idiiih... melet-melet...!” seketika kami berdua terdiam. Semua orang melihat kami heran. Kembali, tawa di wajahnya berganti tatapan datar.
“Tadi asik bener?” celetuk Chika.
“Iya, sampai ketawa ngakak gitu Akelnya. Sepertinya kita tidak pernah lihat dia tertawa begitu ya?” tambah yang lain.
“Hehehe, dia emang gitu orangnya teman-teman. Sok jaim...” tambahku. Semua tertawa dan wajah Harry tampak merah, mungkin dia malu.
“Udah..udah!! bubar! Bubar!” kusuruh yang lain bubar. “Tuh kan, kalau saja kamu lebih terbuka dengan yang lain, pasti semua ingin menjadi temanmu!” bisikku. Dia hanya tersenyum, dan senyumannya seketika berubah kembali saat melihat sosok yang berdiri di pintu kelas.
“Pasangan ini makin hari makin mesra aja?” sindirnya dengan senyuman sinis.
“SSsstt.. nggak usah dilawan!” kuguncang tangannya. Aku bangkit dari duduk, “Maaf Ang, apa kami mengganggumu?”
Dia menatapku dengan sendu, berganti menatap dengan nanar pada Harry, “Ya, akhir-akhir ini melihat kalian seperti merusak pemandangan. Bisa nggak, kalian tidak usah pamer kemesraan begitu? Ini ruang kuliah!” suaranya makin lama makin tinggi. Sehingga membuatku sesak. Sebelumnya, tak pernah sekalipun dia berkata kasar padaku.
“Maafkan a....”
“Yukita! Buat apa kamu minta maaf pada dia?” tanya Harry.
“Aku...aku...”
“Sudah lah! Aku muak!” Anggi menuju bangku belakang, namun kerah bajunya sudah ditarik Harry.
“Hey! Lu berani membentak Yukita barusan?”
“Lalu masalahnya apa buat lu?”
Kepalan Harry sudah kuat siap untuk meninju Anggi. Namun ku tahan dan menggelengkan kepala. Anggi dilepas dan didorong.
“Hah, cemen!” celetuknya, dan tak bisa kutahan lagi. Bogem mentah sudah melayang di pipi Anggi.
__ADS_1
“HARRY...” teriakku. Langsung ku kejar Anggi, memastikan dia baik-baik saja. Namun aku didorong hingga terjatuh olehnya. Tangan Harry meraihku dan membantuku bangkit. Suasana kelas sudah sesak oleh semua makhluk penasaran. Harry kembali menarik aku keluar dari kelas.
“Kenapa kamu memukul Anggi?”
“Aku tak rela dia terus memojokkanmu!”
“Iya! Aku tahu! Tapi mengapa kamu pukul dia?”
“Jadi kamu membela dia?”
“Aku bukan membelanya, bukan menyalahkanmu! Tapi aku sedih, mengapa kamu memukul dia?”
“Aku hanya tidak rela dia membentakmu.”
“Nanti dia terluka bagaimana?”
“Dia lelaki, masa pukulan kecil itu saja dia terluka?”
“Pukulan kecil? Gampang sekali kamu bilang pukulan kecil?” dia diam, “Jika itu terjadi pada kita, apa kamu juga akan bilang itu pukulan kecil?”
“Yukita, kamu jangan membanding-bandingkan situasinya dengan kita. Jelas berbeda! Kamu adalah orang yang kusayang, tak mungkin aku memukulmu?” mendengar ucapannya barusan, membuatku tersadar. Itu dilakukannya untuk melindungiku. Tapi entah kenapa rasa sakit yang diberikannya pada Anggi juga membuatku ikut merasa sakit. Aku tak ingin kami bertengkar, kucari botol air dalam tas dan minum. Ini sedikit membuat perasaan jadi tenang.
Kuperiksa pergelangan tangannya, “apa ini sakit?” kuusap dan kutiup.
“Kumohon padamu, bisakah kamu untuk tidak menghawatirkan pria selain aku? Ini tidak sakit,” lalu tangannya memegang dada, “Yang sakit itu di sini!” meraih tanganku, dan meletakkan di dadanya.
“iiih, apaan kamu ah! Malu dilihat orang!”
“Biarin! Tapi aku serius! Kamu jangan terus mengkhawatirkan dia!”
“Iya..! iya..!”
Kami kembali ke kelas, semua mata panjang melihat ke arah kami. Kucari Anggi tadi sudah tidak ada dalam kelas. Kemana dia, ku pilih kembali duduk dekat Mili. Dan Harry seperti biasa memilih duduk bangku paling depan. Dari sisi ini, banyak sekali terlihat yang membisikkan kami.
“Kamu jangan masukin ke hati ya Yuki! Yang salah memang Anggi kok. Dia duluan yang mulai!” ujar Mili menenangkanku.
“Anggi ke mana?”
“Nggak tahu juga, tadi sehabis kalian keluar dia juga keluar.”
“Semoga dia baik-baik saja.”
“Moga dia nggak makin aneh saja,” bisik Mili.
__ADS_1