
Aku tak sempat ceritakan pada teman-teman karena aku harus menuju gedung kuliah bersama, dan aku kuliah di Gedung D untuk kuliah Hukum dan HAM.
Berjalan kaki dari Fakultas Hukum sendiri ke gedung D… panas gini? Jauh lagi? Ma…les… oh iya… itu ada Akel? Mending bareng dia aja?
“Kel… mau ke gedung D ya? Kita barengan ke atas ya?” pintaku agak-agak takut, takut dicuekin, takut dijutekin, seperti yang sudah-sudah, lihat ekspresinya lebih bersahabat, membuat takut nya tiba-tiba hilang.
“Hemmm” jawabnya.
Akhirnya aku berjalan berdua dengannya. Hingga depan fakultas Sastra, aku dan dia masih saling berdiam diri. Aku masih trauma untuk mengajaknya ngobrol, takut diperlakukan seperti yang sudah-sudah… padahal aku sering mencoba memulai pembicaraan terlebih dahulu, paling dia jawab “iya” singkat “hemmm” kalau tidak dia Cuma mengangguk atau menggelengkan sedikit kepalanya.
“Eh… tadi kamu denger Bu Danti ngomong apa nggak?” Lagi-lagi hal yang tidak terduga.
Ternyata dia yang mengajakku bicara? “Eh iya… tapi apa ya?”
“Eh… kamu itu ada di sini karena orangtuamu mengharapkan kamu bisa kuliah dengan benar. Tapi… sejak tadi aku lihat kamu chat terus sambil senyum-senyum kayak orang gila?”
Apa? Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapnnya seorang Akel yang dikenal sebagai seorang yang pendiam, si jenius, si kacamata, si jutek, si ngebete’in, si nyebelin, si dingin dan si sombong, mengatakan itu padaku? Aku tak berkutik dengan ucapannya barusan. Kenapa dia sampai tahu aku selalu sibuk dengan hape? Apa dia selalu memperhatikan gerak-gerikku?
“Eh maaf… bukannya aku bermaksud jahat.” Tambahnya.
“Iya… aku tahu…” jawabku memelas.
__ADS_1
“Kamu udah tahu belom? Yang disampaikan ibu Danti tadi?”
“Ya… aku nggak tahu. Emangnya apa?”
“Nanti… semester tiga, anak-anak Hukum angkatan kita akan Studi Banding ke Unpad dan Undip” jelasnya dengan nada bicara terkesan dingin, menurutku.
“Benarkah?” lonjakku mendekati Akel seolah tak percaya “ke Bandung?”
“Bukan hanya ke Bandung saja, juga ke Semarang. Kalau mau ikutan, sediakan biaya dulu, kayaknya lumayan gede!”
“biaya gede?” mendengarnya aku jadi lemes.
“Uangnya banyak kali mungkin ya Kel? Pasti Ibu tak akan izinkan aku ikut. Padahal… aku ingin sekali ikut ke Bandung. Tapi…”
Dia memperhatikanku, dan wajah dinginnya agak sedikit mencair “Ya belajar donk?”
“Belajar? Aku kan belajar tiap hari? Lagian apa hubungannya dengan biaya study tournya?”
“Aku lihat hingga saat ini kamu masih main-main, kamu belajar tidak maksimal. Aku sering lihat kamu selalu keluyuran dengan Anggi”
“Bukan selalu yaaaa, tapi sesekali kalau pulang kuliah” ralatku “Mili juga ikutan” tambahku.
__ADS_1
“Sama saja… kamu sering keluyuran dan belajar tidak maksimal”
“Terus kalau seandainya maksimal, apa hubungannya dengan biayanya?”
“Ya elah… kamu mahasiswa apa bukan sih? Cari beasiswa donk! Apalagi PPA, Supersemar, Djarum, aku denger beasiswa BBM juga naik. Kamu bisa ikutan dengan beasiswa itu!”
“Bener juga? Tapi… aku nggak yakin bisa mencukupi biaya perjalanan?”
“Ya udah… jangan pikirkan dulu! Mending kamu konsentrasi dengan kuliah semester ini! Jika nilai semester pertama bagus, kamu bisa mengurusnya semester dua nanti!”
Laki-laki apa sih Akel itu? Dibalik sifatnya yang dingin itu, ternyata dia sangat perhatian… aku ikuti dia hingga masuk kelas di gedung D. Tidak seperti biasanya dia mau duduk di sebelahku? Di sisi yang lain, duduk uda Rendra senior yang kerjaannya meminjam catatanku terus.
Duduk di sebelah si kacamata ini, membuatku sedikit tahu bahwa dia orang yang rapi. Itu dibuktikan dengan catatan dan cara berpakaiannya. Catatannya sangat rapi berbanding terbalik dengan catatanku. Itu membuatku malu membuka catatanku di sebelahnya.
Dosen kali ini selalu memberikan catatan, terpaksa ku buka juga catatanku ini dan melanjutkan mencatat di halaman berikutnya. Sepertinya dia melihat catatanku yang penuh dengan coretan; di sisi atas ku beri judul Catatan Hukum dan HAM dengan tulisan ala gayaku, dikelilingi oleh bunga-bunga yang ku lukis dengan berbagai warna menggunakan pena warna-warni yang selalu ku sediakan, di sudut kanan atas ku tulis tanggal setiap perkuliahan, di setiap baris aku gambar seperti hati bewarna merah muda.
Tapi… isi nya amburadul minta ampun dibandingkan catatan Akel. Jika terjadi kesalahan, langsung ku coret dengan tidak rapi, kadang-kadang ku silang begitu aja. Jadi… tampaklah catatan Yukita yang super-amburadul.
Setiap kali dia melihat catatanku, di bibirnya tersungging 'senyuman smirk-nya dia' aku seperti disindir meski tak diucapkan langsung.
Beda sekali dengan Uda Rendra, dia menganggap catatanku sangat rapi. Rendra menyalin catatanku ke lembaran catatanya, dan itupun dengan sangat tidak rapi. Entah apa yang dikatakan Akel jika dia melihat catatan Rendra itu? Rendra itu tingkatnya lebih dulu satu angkatan dari kami. Berarti seangkatan tamat SMA denganku. Karena dia berpikir aku junior, Dengan seenaknya dia ber “Uda” pada dirinya sendiri. Gak apa lah, toh umurku memang lebih muda, Jadi aku iku panggil dengan Uda Rendra.
__ADS_1