Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-16


__ADS_3

Hanya satu ya? Berarti dugaanku salah. Padahal sudah terlanjur berharap Yukita hamil, meski keadaan tengah sulit dan berat.


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, dia pamerkan satu garis merah yang ada pada terst pack. Entah kenapa sebuah rasa kecewa menggelantung pada diriku. Aahh, padahal sempat khawatir juga kalau beneran hamil. Aku belum memiliki dana untuk membiayai segala kebutuhan anakku. Lalu hasil test itu kubuang ke tong sampah.


Mungkin memang belum rezeki. Kami masih dalam perjuangan mencari pekerjaan. Tapi perasaan kecewa tak.bosa dipungkiri. Aku merasa gagal menjadi seorang pria.


💖


Waktu terus berjalan, aku lihat wajah Yukita semakin hari semakin pucat. Dia sering mual.


"Apa istrimu sudah hamil?" tanya mamaku.


"Belum sih Ma. Sudah lakukan tes tapi baru satu garisnya."


"Terus kenapa akhir-akhir ini dia sering mual? Dia terlihat lesu, tapi malah nyari kerjaan melulu. Bagaimana kalau orang menyangka Mama menyiksa menantu? Padahal Mama tidak pernah menyuruh dan memaksa istrimu membereskan rumah ini."


"Gak apa Ma. Dia hanya lagi bersemangat menjadi ibu rumah tangga yang baik."


"Ibu rumah tangga apaan? Udah lebih dua bulan menikah belum hamil juga. Jangan-jangan dia mandul?"


...plak...

__ADS_1


Kami lihat ke arah suara. Sebuah tangkai sapu yang terjatuh ke lantai dari tangan istriku. Matanya terlihat berkaca-kaca. Lalu pergi masuk ke dalam kamar.


"Masa gitu aja dia sudah nangis? Mama tidak ngapa-ngapain lho?" ucap Mamaku.


Aku kejar dia, ternyata pintu kamar dikuncinya. "Sayang ... buka pintunya!" Kutunggu beberapa saat, namum tak ada jawaban.


Ponselku bergetar, sebuah email masuk. Aku lihat pesan itu dari firma hukum yang aku lamar beberapa waktu lalu. Dengan segera aku baca, dan aku dinyatakan lolos. Aku akan diikutkan dalam pendidikan menjadi pengacara dalam beberapa waktu.


Kembali kuketuk pintu kamar. Dengan segera ingin membagikan kabar bahagia ini kepada istriku. "Sayang ... Sayang ... Yukita! Buka pintunya! Aa mau ngomong!"


"Hah, dasar manja. Masa begitu saja udah nangis?" Mamaku berlalu bersiap menuju ke kantor Papa mengantar bekal. makan siang. Dari dulu memang seperti itu.


"Howeek ... howeeek."


Terdengar suara pintu kamar mandi di dalam terbuka. Setelah itu pintu kamar ini juga dibuka. Terlihat wajah sedih istriku yang pucat dan terlihat lesu. Dia menangis sesegukan di dadaku.


"Maafkan Yuki ya Aa, Yuki belum kasih anak juga." ucapnya seolah memberi anak semudah memberi permen kepada seseorang.


Dia memelukku dan menangis dalam dadaku. "Kamu tidak apa sayang?" Dia mengangguk, "Kamu sudah makan?" Dia menggeleng. "Ayo kita makan siang dulu." Dia kembali menggeleng. "Kenapa?"


"Lagi nggak pengen."

__ADS_1


"Aa suapin?" Dia kembali menggeleng.


Aku tarik ke meja makan. Dia melihat menu yang ada, lalu menggeleng lagi. "Kamu mau makan apa sekarang?" Dia menggeleng lagi. "Ayo dimakan dulu. Aa suapin."


Dia berpangku tangan, menopang dagunya di tangan itu. Tanpa menunggu aku ambil makanan dan menyuapinya. Dia kembali duduk dengan baik. Menerima suapan ku dan makan tanpa selera.


"Aku boleh cerita sesuatu?" tanyaku pada Yukita yang tampak lemas.


"Apa Aa?"


"Aku udah dapat pekerjaan."


"Oh yah?" Seketika wajah Yukita berubah sedikit cerah.


"Iya. Besok aku harus ke kantor. Ada pelatihan untuk menjadi pengacara dulu beberapa waktu."


Yukita bangkit dan memelukku. "Asik. Setelah dapat gaji kita pindah yuk Aa?"


"Kamu udah nggak betah tinggal di sini?"


"Hmmm ... kayaknya akan lebih enak kalau kita berdua dulu."

__ADS_1


"Apa mamaku suka berkata-kata aneh padamu?"


__ADS_2