Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 2


__ADS_3

“Ah, yok lah? Kita pulang yok!” ajakku.


“Waduh, kenapa cepet bener? Nanggung nih?” Dirga masih asyik dengan permainan nya, menyodok bola dan goooll...masuk pool...


“Bosan,” padahal aku ingin segera pulang. Pengen coba menelepon Yukita ah. Bener-bener kepikiran terus sama dia. Gimana orangnya ya...


Dirga mengikutiku di belakang, dan nahasnya ketemu lagi dengan cewek tadi dan dia bersama mantanku dulu, Tika. Aku dan Dirga bingung, kenapa mereka bisa bersama. Tapi ku memilih melihat tanpa komentar.


“Hey, mantanku yang irit ngomong,” sapa Tika dan Vony ikut tertawa.


“Tapi dia Cuma mantan lu kan Ka?” celetuk Vonny memastikan.


“Iye, mantan doank!”


“Boleh donk?” Vonny memberi kode yang tak kupaham pada Tika.


“Iye..iye. ambil aja. Tapi nanti lu jangan nyesal!” ku masih diam memperhatikan mereka.


“Emangnye nyesel kenape?”


“Hahahah, lu bakal dikekang terus sama Samapi empet sama dia! ditambah lagi, lu bisa seperti orang gila? Nanya sendiri, jawab sendiri!” memonyongkan bibirnya ke arahku.

__ADS_1


“Ah! Apaan sih? Kalau hanya ingin membuatku sakit hati mending jangan muncul di hadapanku!” ternyata hanya itu yang dipikirkannya tentangku. Lalu bagaimana dengan semua pengorbanan anku? tak pernah dipikirkannya kah?


“Tuh kan Pon, dia itu orangnya jutek. Tahan ngga lu hadapin dia?”


Vonny malah tersenyum malu-malu dan berbisik pada Tika. Sambil cekikikan terus melihat ke arahku.


“Sudah ah, Ga! Mari kita cabut!” kutinggalkan mereka, rasanya sangat mengesalkan. Tak henti-hentinya dia terus menyakiti hatiku. Ku bawa motorku sekencang-kencangnya melampiaskan kekesalan, seenaknya aja dia menghinaku tepat di depan hidungku di depan orang lain. Apakah selama ini aku tak berharga baginya? Jadinya makin sakit hati mengingat dia orang yang sempat dulu kusuka. Entah setan apa membuatku bisa jatuh cinta pada gadis seperti itu.


Akhirnya sampai di rumah. Kulempar helm dengan kesal sehingga menimbulkan suara yang mengagetkan seisi rumah.


“Astaghfirullah Hary.... kenapa teh?” Mama keluar tergopoh-gopoh dari kamar karena kaget.


Kuambil lagi helm itu, kucium tangan Mama “Maaf ya Mah,” ucapku berlalu masuk kamar.


.***


Keesokan hari kembali teringat pada Yukita, telepon nggak ya? Hah, telepon saja! Aku kan lelaki. Masa ngga berani menelepon cewek juga? Sebelum memulai menelepon, kukumpulkan keberanian yang banyak.


“Helow…”


“Ya halo…” katanya di seberang.

__ADS_1


“Yukita yah?”


“Iya dong… Hary? Kasi tahu dong, siapa yang kasi nomer aku ke kamu?”


“Beneran… sumpah??? Nomer kamu udah ada di kontakku”


“Kok bisa?”


“Entahlah. Emang gak boleh yah nelpon kamu?”


“Ya… kalau nggak jahilin aku sih nggak apa-apa”


“Buat apa atuh aku ngerjain kamu”


“hahaha” eehh, tawanya renyah banget..seneng dengernya..


“Kenapa ketawa?”


“Nggak… salam kenal aja ya?”


“Oke salam kenal juga Yukita…”

__ADS_1


Lalu kami membincangkan banyak hal, tentang kebiasaan orang Padang kalau malam kayak apa saja, dan macam-macam. Awalnya kusangka dia itu judes, karena sering pesannya singkat. Mungkin gara-gara curiga kali ya? Aku sendiri juga heran entah darimana nomor dia bisa ada di kontakku.


Karena enak ngobrol dengan dia, membuatku betah selalu menghubunginya. Hal itu seperti menjadi kebiasaan, kebiasaan yang tak bisa dirubah untuk terus menanyakan kabarnya. Ngobrol dengannya, membuatku mulai jatuh cinta dengan suaranya. Tak tahu kenapa. Meski jauh, tetap merasa nyaman dengan segala yang dia lakukan. Kesehariannya akhir-akhir ini belajar, katanya ujian nasional makin dekat. Rasanya tak ingin mengganggu waktu belajarnya, tapi tak tahan saja sebelum mengungkapkannya. Kuberanikan meneleponnya, terserah dia terima atau tidak. Yang penting harus berani, aku lelaki.


__ADS_2