
Mohon maaf ya Reader, otor terlambat up CDH nya..hehehe..tadi lagi pusing mikirin materi buat Detektif Muda, gara-gara cerita nya harus yang bikin orang tegang n penasaran, sampai otornya sendiri pusing mikirnya.
Akhirnya laptop itu kutinggalkan, dan pamit untuk menuju parkiran tempat motor ku menginap semalaman. Tapi di tempat parkiran mobil kulihat ada sosok yang langsung membuatku naik darah. Mau apa dia ke sini?
Dengan langkah cepat kuhampiri lelaki yang pernah menjadi pacar Yukita itu. Dia sedang berdiri di sebuah mobil mini bewarna silver. Hmmm.. kita lihat apa benar dia orangnya. Langsung ku tarik kerah bajunya, "Mau apa lagi lu ke sini?"
Dia menyunggingkan senyuman liciknya membuat tanganku tanpa sadar mendarat di dagunya. Dia terjatuh dan segera bangkit membalasku dengan tendangan tepat di dadaku. Aku terjatuh, dan dia siap-siap melayangkan tinjunya kepadaku, dan berhasil Kutangkis, menangkap tinju itu dan kupelintir lalu kukunci hingga dia tidak bisa bergerak.
"Lu yang lakukan itu semua pada Yukita kan?" kutarik kuncian tangannya agar dia lemas dan menyerah.
Namun apa yang kuharap tidak terjadi dengan mudah. Dia menyeringai seolah jadi pemenang atas semua yang telah terjadi. "Bagaimana keadaannya? semoga dia cacat seumur hidup hingga tak ada yang mau bersamanya lagi termasuk elu.."
Kudorong dia sekuat tenaga yang aku bisa. Dia jatuh tersungkur di aspal parkiran. Tapi wajahnya yang tampak menyebalkan itu masih menyunggingkan senyuman licik.
"Sejak kapan kalian pacaran hah?" tanya nya mencoba untuk bangkit.
"Bukan urusan lu! Apa yang lu lakukan padanya?"
"Gue? Apa yang gue lakukan?" namun senyuman menyebalkan itu tak lepas dari mulutnya.
"Mungkin kali ini lu masih bisa mengelak, namun beberapa waktu lagi gue jamin senyuman di bibir lu itu akan berubah menjadi tangisan!"
Kembali dia hanya melayangkan senyuman yang semakin membakar amarah itu. Dia masuk ke dalam mobil itu, dan pergi. Tiba-tiba rasa khawatir muncul, jika aku tidak ada di sini, bisa saja dia muncul kembali. Sepertinya Yukita harus segera diusul untuk rawat jalan saja. Selain di rumah banyak yang akan menjaganya, perasaanku juga bisa lebih tenang.
Aku balik lagi, mencoba mencari dokter yang menangani Yukita, dan kebetulan sekali orang yang dicari baru saja sampai. Dokter yang melihat ku menghampiri nya, tersenyum penuh arti melirikku dari atas hingga ke bawah.
"Ada apa gerangan calon suami pasien Yukita?"
Jadi itu lah arti pandangan dokter ini barusan. Masih ingat atas bualan yang disampaikan kemarin.
__ADS_1
"Apa Yukita bisa dibawa pulang saja hari ini Dok?"
Lalu sang dokter kembali melirikku, dan tersenyum bersahaja. Menyilakan aku masuk ke ruang kerjanya, dan duduk. Dokter dengan raut tenang itu menaruh tas kerjanya di atas meja, lalu mengambil jas bewarna putih yang tengan tergantung di tempat yang disediakannya. Setelah itu langsung menyorongkan kedua tangannya, dan ikut duduk di kursi miliknya.
"Kamu sudah tidak sabar membawanya pulang ya?" candanya dengan tawa tipis. "Sebenarnya dia sudah bisa dibawa pulang hari ini kok. Tapi nanti akan ada jadwal rawat jalan dan terapi untuk beberapa waktu ke depan."
"Baik dok, saya akan mengurus itu semuanya. Mungkin lebih baik dia pulang dan di rawat saja di rumahnya."
Dokter itu mengangguk dan membuat surat keputusan untuk Yukita diperbolehkan pulang hari ini. Kuurus semua yang aku bisa, mumpung waktu masih ada. Setelah itu kembali menuju ruangan Yukita, menginformasikan kepada kakaknya bahwa hari ini Yukita sudah boleh dibawa pulang. Semua sudah beres termasuk dokumen dan biaya yang perawatannya selama ini.
Waktu tinggal tiga puluh menit lagi, dan aku pamit kembali untuk menuju kampus. Bolos dulu nggak ya? Ah, bolos dulu lah.. Ini sudah kali kedua bolos di mata kuliah yang sama. Minggu lalu karena tiba-tiba harus ke Bandung, kali ini yang terakhir. Aku janji ini yang terakhir untuk bolos.
Yukita masih terlihat kebingungan karena aku dan kakaknya tengah sibuk mengepak barang-barang yang akan dibawa pulang. Namun matanya hanya menatap tanpa berkata apa-apa.
"Kamu udah boleh pulang sekarang ya.." ucapku, dia hanya mengangguk. "Kamu lebih suka tidur dimana? tidur di rumah atau di sini?"
"Kamu suka ini?" dia mengangguk, "Ya udah ini buat kamu saja..."
"Jangan.." sela kakaknya, "Dia sudah punya di rumah kok.."
Iya , aku memang tahu dia juga punya laptop, tapi dia tidak mengingat hal itu. "Gak apa, biar dibawanya dulu. Mungkin dia suka main games yang ada di sana.."
"Nanti kalau dia udah lupa, aku kembalikan sama kamu. Kamu juga perlu ini untuk kuliah. Haduuuhh, dia kembali jadi anak kecil pasti memusingkan di usianya yang sekarang..." kembali sang kakak menyusun barang-barang yang ada. Aku hanya bisa bantu seadanya, karena takut salah.
Yukita dan kakaknya pulang dengan menggunakan taksi online, dan aku iringi dengan motor di belakang. Kupastikan dia sampai dengan baik di rumahnya. Setelah itu aku baru bisa kembali ke kostan dengan perasaan lega tidak perlu mengkhawatirkan Aldi yang bisa saja diam-diam menemuinya di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, tampak Remon tergopoh-gopoh mendatangiku. Sepertinya dia membawa sebuah berita yang penting.
"Kawan.. saya punya kabar berita penting buat kawan.."
"Berita tentang apa?"
"Itu orang yang menabrak si Yuki Yuki itu?"
"Bagaimana... bagaimana..?" tanyaku menjadi penasaran.
"Kami punya kawan, kawan ku itu juga punya kawan, dan kawan dari kawannya itu..."
"Bagaimana.. bagaimana?" bahasa Remon itu cukup membuatku pusing.
"Intinya kawan dari kawan..kawan.. punya kawan.. Aaaiiihhh.. Maksudnya ada yang sempat memotret mobil pelaku tabrak lari itu. Katanya buat jaga-jaga bila dibutuhkan.."
"Waaah.. bagus sekali. Apa kamu sudah punya foto itu?"
Dia mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas, dan memperlihatkan beberapa foto, dan benar itu mobil yang tadi pagi kulihat di rumah sakit. Aku meminta Remon untuk mengirimkannya padaku, dan merasa satu bukti ini bisa jadi salah satu senjata untuk.ke depannya.
"Kalau kawan kamu itu diminta untuk jadi saksi, apa dia bersedia?"
"Mungkin dia bersedia, Kawan. Soalnya ini saja dia yang memberikan karena tahu saya tengah mencari info tentang kejadian malam itu," terangnya, membuat harapan ku mencoblos kan dia ke penjara menjadi semakin kuat.
Selanjutnya yang harus kulakukan ialah mendengarkan rekaman yang dikirim oleh sepupu buleku Stevan. Maka semua tuntutan untuk memberikan keadilan atas perbuatannya, bisa mencapai presentase di atas angka sembilan puluh persen.
Kulajukan motor dan kutuju kampus, untuk mengikuti kuliah kedua hari ini. Namun belum sampai gerbang, tampak beberapa motor tengah mengejar ku dari arah belakang, membawa pentungan...
\*bersambung\*
__ADS_1
