
Aku tak menunggu reaksinya lagi. Kubuka satu persatu kancing baju, membuat wajahnya membulat. Kutarik tangannya untuk langsung menyentuh kulit dadaku. Terasa tangannya mulai bergetar. Mukanya merah padam.
"Kenapa? Kamu harus terbiasa. Ayo kenalan dulu!"
"Iiiihh ... Aa nya malah nyengir kayak kuda gitu. Yuki kan malu!" Dia berusaha kembali menarik tangannya. Namun terus kutahan agar tidak lepas.
Tangannya kunaikan ke arah pipiku. Kuraih tangan yang satu lagi. Kutangkupkan pada kedua pipiku. "Aku ingin kamu sering begini padaku. Aku suka jika kamu menunjukan rasa sayangmu padaku kok. Sekarang jangan malu-malu lagi!" Lalu aku tarik agar dia semakin mendekat.
"Sayang, coba kamu katakan lagi!" Wajah kami hanya berjarak beberapa senti meter saja.
"Apa?" tanyanya.
"Cinta!"
"Yu-yuki cint---"
Langsung kucium bibirnya. Wajahnya terlihat tegang. "Katakan sekali lagi!"
"Yuki ... Yuki ... Yuki ... aaahh, Aa ni bikin takut saja?" rutuknya.
"Kenapa takut?"
"Senyuman Aa kali ini terlihat sangat aneh tau nggak?"
Kembali kucium bibirnya, dia kembali tersentak. "Ayo ngomong lagi!"
Dia menutup mulut dan menggeleng. Entah kenapa membuatku menikmati reaksinya ini. Lalu kutarik lagi tangannya hingga wajah kami benar-benar dekat. "Gimana rasanya saat sedekat ini?"
"Aa ... jantung Yuki berasa mau lepas." Ditariknya satu tanganku, ditaruh tepat di bagian jantungnya. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Aku hanya bisa menahan sebuah senyuman. Aku tarik juga tangannya, meletakan dimana posisi jantungku berada. Biar dia juga mengetahui bahwa aku pun merasakan debaran yang sama.
"Kamu juga merasakannya kan? Ini juga pertama kali bagiku. Satu kamar dengan wanita yang selama ini aku cintai. Ini seperti sebuah mimpi." Kembali kukecup bibirnya. Kali ini dia memejamkan matanya.
Kucium mulai dari keningnya, turun ke kedua pipi dan hidungnya. Turun lagi ke dagunya. Matanya terbuka, mungkin bertanya kenapa bibirnya tidak dapat jatah. Aku hanya menganggukkan kepala dan mulai mengecup bibirnya berulang kali.
__ADS_1
"Love you," bisikku di telinganya. Dia memelukku. Tubuhku dengan kancing yang sudah terbuka semua, segera kutarik hingga benar-benar tidak ada benang sehelai pun.
Dia memelukku. "Terima kasih ya Aa ... Sudah sayang sama Yuki meski semuanya telah terlupa." Dia malah menangis sesegukan di bahuku.
"Kenapa kamu menangis?"
"Soalnya Yuki selalu merasa nyaman berada dekat dengan Aa. Tapi ... tapi ... kali ini Yuki ... Yuki ... bingung."
"Bingung kenapa coba? Kayak ketakutan mau aku makan?" Dia hanya mengangguk. "Dih, emangnya aku monster?"
"A' kok wangi banget ya?" Dia mengendus leherku, membuat seluruh tubuhku merasa tersentrum oleh hembusan nafasnya.
"Kamu begini terus, beneran akan aku makan lhoh?" Dia menegakkan kepalanya mencari tahu maksudku. "Kamu mau nggak, mencobanya pertama kali malam ini?"
Tanpa menunggu jawaban darinya, dia yang membuatku tersulut asmara, akhirnya mulai mencium dia dengan lebih buas. Matanya membesar karena kaget melihatku yang seperti ini. Namun, lama kelamaan akhirnya dia bisa mengimbangi setiap kecupan yang aku berikan.
Kancing pakaiannya mulai kubuka satu persatu tanpa melepaskan tautan di bibir kami. Dia hanya terlihat pasrah. Mencoba menghentikanku membuka pakaiannya. Mataku semakin nyalang melihat semua yang tersembunyi selama ini. Kulitnya yang putih bersih, membangkitkan gairah yang selama ini tak pernah kurasakan.
Kancing yang sudah kulepas, dengan segera aku tarik dress yang dipakainya. Dia merasa malu langsung menarik selimut menyembunyikan seluruh tubuhnya.
...****...
"Sayang, ayo bangun!" Dia menggeleng menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. "Ayo bangun! Mandi dulu! Kita sholat Subuh berjemaah." Kuintip istriku yang tidak mau melihat wajahku. Dia terlihat sedang menangis.
"Kamu kenapa?"
"Sa-sakit Aa," tangisnya.
Teringat tadi malam pertama kami berdua, menyerangnya tanpa ampun hingga tiga kali ronde. "Terima kasih ya, kamu memberi menu buka puasa yang paling nikmat dari yang pernah ada." Kembali kukecup bibirnya. Aku bangkit dan mencari handuk yang disiapkan oleh hotel.
"Sayang, ayo bangun!" Kuserahkan handuk untuknya. Membantunya bangun memasangkan handuk dan menariknya berjalan masuk ke kamar mandi. Dia berjalan dengan cara yang sangat aneh.
"Kenapa jalannya begitu?"
Dia mendelik dan melengos. "Ini gara-gara Aa! Yuki sakit tau?"
__ADS_1
"Iya, maaf! Nanti nggak sakit lagi kok!" Kembali kucium pipinya sampai puas karena gemas.
Ternyata begini lah rasanya menikah itu. Kayak ada yang ringan setelah melepas semua. "Mau Aa mandikan Sayang?"
Dia mendorongku keluar. Sementara aku sudah selesai mandi sebelum membangunkannya tadi. Kupikir mungkin harus menunggu terlebih dahulu hingga dia benar-benar siap. Ternyata aku benar-benar tak sanggup menahannya. Aku sibak selimut yang tadinya terletak tak beraturan. Aku lihat bercak darah di atas sprei putih itu. Teringat lagi tadi malam dia mencakarku karena kesakitan. Ahh ....
Terdengar kunci pintu dibuka dari dalam. Tampak dia muncul dengan wajah malu-malu. Kubiarkan dia keluar, dan aku segera berwudhu. Usai berwudhu kuserahkan mukenanya, sia sedang mengenakan pakaian. Aku gelar dua sajadah sekaligus.
"Aa, kalau manis kayak gini jangan-jangan ada maunya lagi?" ucapnya dengan kening dikerutkannya. Aku hanya bisa mengulum senyuman. "Udah dulu Aa, masih sakit ini!" sungutnya.
"Sholat dulu Sayang. Nanti kita jalan-jalan pagi aja yuk?" Setelah itu kami laksanakan sholat berjamaah, sebagai suami istri yang utuh.
...***...
Matahari masih malu-malu menampakan dirinya, kurangkul pinggang istriku yang berjalan dengan gaya yang aneh. "Masih sakit Yang?" Dia mengangguk.
"Sini Aa gendong?" Kusiapkan punggung untuk dinaikinya.
"Iiihh, malu Aa?" ucapnya. Entah kenapa malah setelah menikah dia lebih pemalu? Rasanya sejak setelah kecelakaan dulu, dia dengan santai bergelantungan di tanganku. Kemana-mana selalu menggandengku. Sekarang malah kembali jadi pemalu seperti Yukita yang dulu aku kenal. Apakah dia sudah mulai dewasa? Tiba-tiba pikiranku melayang ke malam panas yang kami lewati tadi malam.
Ku kejar dia dan langsung aku rangkul. "Kamu sekarang udah besar ya Sayang?"
Dia mendelik melihatku di sudut matanya. Memamerkan cincin pernikahan kami. "Ini kurang dewasa apa lagi ya Aa? Tadi malam kita juga udah---" Langsung kututup mulutnya agar tidak dilanjutkan didengarkan oleh orang yang tengah ramai joging mengelilingi tempat ini. Meski udara di sini sangat sejuk, tak mengurungkan niat warga untuk berolah raga di sekitar area Jam Gadang ini.
Setelah setengah jam berkeliling, "Aa, Yuki lapar."
"Oh, iya." Kulihat waktu sudah menunjukan pada pukul setengah tujuh pagi. "Kita ke sana yuk?" menunjuk bagian pasar yang ada di dekat sini. Kami memilih menu sarapan lontong sayur. Dia makan dengan sangat lahap, begitu juga denganku. Tadi malam amunisiku kurang banyak. Ditambah kami sudah keliling dengan jalan yang naik turun. Kami berdua menghabiskan masing-masing dua porsi lontong itu.
"Kalau begini baru namanya makan Aa. Bukan kayak tadi malam!" ucapnya sambil mengelus perutnya.
Jalan-jalan kami lanjutkan kembali. Dia mengajakku masuk ke sebuah mall yang tepat berada di depan Jam Gadang ini. Kebetulan baru buka. Di sana dijual berbagai jenis pakaian dan pernak pernik khas kota ini.
Tiba-tiba aku teringat isi dompet yang belum aku tarik dari ATM yang semakin menipis. Melihat istriku asik melirik-lirik pakaian yang sesuai dengan seleranya. Duit tabungan terkuras karena membayar hotel dan membeli kalung untuk Yukita.
Papa mau meminjamkanku uang nggak ya?
__ADS_1
...*bersambung*...