
"Sayang, Aa nyari kerja dulu ya?"
Yukita tengah memegang sapu, menjepitnya tangkainya di ketiak. Dia sedang menyapu rumah yang bisa dikatakan lumayan luas ini.
"Aa, Yuki juga mau nyari kerja. Yuki bosan di rumah terus. Yuki ... merasa suntuk sendirian di rumah."
"Sabar Sayang ... Nanti kalau kamu mau, kamu di rumah saja! Biar Aa yang nyari duit buat keluarga kita."
"Tapi Yuki juga ingin kerja Aa ... Yuki juga sarjana kan?" rengeknya.
"Iya, sabar ya? Nanti kalau ada lowongan kerja yang agak enak aja kamu kerjanya. Ini saja kamu lihat sendiri kan, setelah sebulan mencari kerja sana-sini Aa belum bisa mendapatkan pekerjaan juga."
Wajahnya sendu, sudah berani memelukku tanpa malu-malu. "Semoga segera dapat pekerjaan yang cocok dengan ijazah kita ya Aa?"
"Bagiku apa aja boleh. Lintas jurusan pun tak apa. Asal bisa memberi nafkah lahir batih dengan baik untukmu. Setelah itu, kita cari kontrakan dan hidup dengan mandiri tanpa menyusahkan orang tua.
Yukita tampak mengangguk. Melambaikan tangannya, yang masih memegang sapu. Tak kusangka, mencari pekerjaan itu bisa sesulit ini.
Kuhidupkan skuter kesayangan, bunyinya menggema saat aku memutar gas. Yukita masih terus menatap kepergianku. Setiap aku pulang wawancara, dia selalu menyambutku dan menanyakan apakah aku berhasil mendapat pekerjaan.
Rata-rata, mereka sangat menyukai CV yang aku ajukan. Hasil coumload yang aku dapatkan membuat HRD perusahaan bersemangat ingin mengajakku bergabung dengan perusahaan mereka.
Namun, kendala yang aku dapat saat wawancara masalah pribadi, aku mengatakan bahwa aku telah menikah. Aku yang masih freshgraduated yang belum memiliki pengalaman, akhirnya batal diterima. Sudah beberapa wawancara aku lakukan, dan memiliki hasil yang sama.
Apakah aku salah, menikah terlalu cepat?
__ADS_1
Tadi malam aku meminta izin pada istriku, agar merelakanku dalam status single. Awalnya dia menangis sesegukan, karena merasa dirinya tak dianggap sebagai istri. Aku jelaskan ini hanya menjelang mendapatkan pekerjaan. Nanti saat pendataan, aku akan jujur bahwa aku sudah bekeluarga.
Akhirnya Yukita mengangguk, meski wajahnya terlihat murung. Aku peluk dia, agar tidak murung lagi. Aku paham mengapa dia sedih seperti itu, karena aku pasti juga akan sedih, jika Yukita mengaku belum menikah. Namun apa daya, ini untuk kehidupan kami juga.
Sambil mengendarai skuter, masih teringat dengan jelas mengenai obrolan kami tadi malam. Apa tak masalah ya, jika nanti mereka mengetahui bahwa sebenarnya aku telah menikah? Ini sudah memasuki bulan kedua kami menikah. Namun aku masih belum mampu memberinya apa-apa dari hasil keringatku sendiri.
Papa sudah cukup nyinyir menyuruhku untuk bekerja di perusahaannya saja. Namun, aku masih kekeuh untuk mencoba berdiri di kakiku sendiri. Aku akan sangat bangga jika berhasil mematahkan mitos bahwa anak akan terus diprioritaskan dalam perusahaan milik keluarga.
Aku akan membuktikan bahwa aku juga bisa seperti sepupu buleku Stevan. Bisa bekerja dengan usaha sendiri tanpa bantuan dari keluarga. Saat ini dia di negara Jepang. Sebagai Kepala Staff Riset dan Teknologi pada Organisasi BOS cabang negeri Sakura itu. (Detektif Muda)
Maafkan aku Sayang. Ini demi kita berdua. Aku tahu kamu sudah tidak betah lagi tinggal di rumah orang tuaku. Namun, kamu selalu menahannya sendiri. Sekarang kamu benar-benar selayaknya orang dewasa yang telah memahami semua. Aku mencintaimu Yukita.
Skuter aku parkirkan di pelataran parkir sebuah firma hukum. Aku mendapat panggilan untuk wawancara setelah lolos dalam seleksi secara online. Firma hukum ini membutuhkan beberapa orang freshgraduated yang akan mereka didik untuk menjadi pengacara.
Aku bertemu dengan beberapa orang yang akan melakukan seleksi yang sama denganku. Semuanga ada lima belas orang. Akan diseleksi menjadi lima orang saja, setelah penilan terakhir hasil wawancara ini. Lima orang terakhir yang dinyatakan lolos, akan diberi pendidikan pengacara oleh pemilik firma hukum ini. Seorang pengacara kondang yang selalu masuk televisi.
Lalu mereka mulai mewawancaraiku satu per satu. Persis suasana sidang saat aku ujian skripsi beberapa waktu lalu. Mereka menanyakan pasal-pasal kasus yang sempat viral hingga diangkat menjadi berita yang cukup lama menyeret perhatian masyarakat.
Setelah menanyakan keilmuan di bidang hukum, pertanyaan pun merembet ke masalah pribadi. Memang benar, masih berkaitan dengan status marriage salah satunya. Kali ini aku terpaksa berbohong mengakui bahwa aku belum menikah. Yukita pun telah mengizinkan. Di dalam hati, ribuan permintaan maaf terus aku haturkan pada istri tercinta.
"Nah, Saudara Akel?" aku mengaku kepada mereka panggilan kecilku demikian. Aku merasa nyaman dipanggil dengan Akel. Cukup istri dan orang-orang terdekat yang memanggilku Harry.
"Iya Pak?"
"Wawancara dengan Anda, kami nyatakan selesai. Nanti hasil seleksi hari ini akan kami sampaikan pada website perusahaan kami. Anda bisa melihatnya di sana dua hari dari sekarang."
__ADS_1
Mereka semua berdiri dan bertepuk tangan. Aku salami mereka satu per satu. Gelagas perempuan satu-satunya itu agak sedikit aneh. Membuatku merasa tidak nyaman.
Setelah ini lebih baik aku pulang saja. Menemani istri yang telah aku sakiti. Kembali skuter aku nyalakan, melaju melewati jalanan kota Bandung yang selalu macet.
💖
Sampai di rumah, aku tidak menemukan istriku yang biasanya membantu membereskan rumah. Aku intip di kamar, dia tidak terlihat juga. Berkeliling rumah, dari bagian depan hingga bagian belakang, namun belum kutemukan juga.
Aku langkahkan kaki menaiki tangga. Mencoba melihat ke bagian atas. Itu adalah lokasi kamar orang tuaku dan Hady. Saat bertemu, Yukita langsung akrab dengan Hady. Yukita lekas merasa akrab karena Hady adalah anak SMA, yang masih remaja. Seperti bagaimana jiwa istriku yang juga masih remaja. Kadang kedekatan mereka pun membuatku merasa cemburu.
Hah, suami apaan sih aku? Masa sama adik yang masih SMA aku tetep cemburu? Saat ini Hady telah duduk di bangku kelas dua belas. Dia bercita-cita ingin kuliah di ITB jurusan Teknik Sipil.
Aku temukan istriku tengah membersihkan kamar Hady. Dia sedang mengepel kamar adikku. Diam-diam aku peluk dia dari belakang.
"Aa udah pulang? Kok aku tidak denger?"
"Kamu lagi apa sih? Kok malah ngepel kamar Hady?"
"Nggak tau A, akhir-akhir ini Yuki merasa semangat aja untuk bersih-bersih." Dia seperti mengendus-enduh ke arah tubuhku. Lalu dia mengibas-ngibaskan tangannya.
Tiba-tiba dia seperti ingin muntah. "Aa bauk!" ucapnya mendorongku.
"uuuwwweeeekk ..."
#Otor hampir melambaikan melambaikan tangan ke kamera# kelabakan dengan banyak banget novel yang harus Otor up 🤧🤧🤧ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
kasih tau kalau ada typo ya