Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
bab 22 Beneran Putus


__ADS_3

“Tapi apa?” matanya semakin tajam, setajam mata burung elang yang bersiap menangkap mangsanya.


“Tapi… selama kita jadian, aku merasa tak ada kecocokan diantara kita Di”


“Maksudmu?”


“Lebih baik kita akhiri semua ini… kita Putus…”


“Putus? Kamu bilang “putus?’ bilang saja kalau kamu sudah punya laki-laki lain baru yang bisa kamu mainin???!!!”


Langsung ku tampar dia, tega sekali dia bilang begitu padaku? Emangnya aku ini wanita rendah yang bisa mempermainkan laki-laki mana saja?


“Oh… jadi bener? Lu punya yang baru untuk lu permainkan?” dia menggenggam tanganku yang telah menamparnya tadi hingga tulang jari-jariku terasa remuk.


“Aku bukan wanita seperti itu! Apa aku pernah meminta sesuatu padamu? Nggak kan?”


Tuhan… tolong aku Tuhan… sekarang dia dalam hasutan Syetan…


“Jadi bilang!!! Kamu maunya apa?” semakin mengencangkan genggamannya di jemariku. Wajahnya semakin dekat… aku tak sanggup melihat sorot matanya dan ku pejamkan mataku dan masih memohon pertolongan pada Tuhanku… aku takut dia berbuat nekat pada ku.


Sekuat apapun aku melawannya, aku ini hanya seorang ‘perempuan’ yang tak mampu mengalahkan kekuatan seorang pria yang sedang marah seperti itu.


“Permisi… permisi…”


Aldi terkejut dan melepaskan genggamannya, langsung mendorongnya karena aku telah terdesak hingga tak bisa bergerak lagi. Setelah terlepas darinya, aku langsung berlari keluar dari ruang sempit yang selalu ku manfaatkan sebagai ruangan pribadi dan tempat ku melaksanakan ibadah, menuju ruang transaksi dengan pelanggan.


“Eh… kamu kok pucat?”


Aku langsung mengambil air minum yang selalu tersedia dalam tasku, setelah itu aku berusaha bersikap sewajar mungkin. Aku belum bisa menjawab pertanyaannya, aku takut dan menggigil. Aldi keluar dari ruangan kecil itu berdiri di belakangku.

__ADS_1


“Oh, dia lagi? Jangan-jangan dia?”


“Oow… lagi asyik pacaran?” kembali dengan dingin, dan hendak meninggalkan kami.


“A..A…Akel…” bibirku gemetar… sepertinya dia sadar ada hal yang tak beres.


Dia langsung masuk, dan meremas kerah baju Aldi “Eh… lu apain Yukita?”


“Apa urusan lu?” memberontak.


“Udah-udah… dia nggak ngapa-ngapain kok…” leraiku, ku tahan agar suaraku tidak gemetar lagi.


“Di… lebih baik kamu pergi!!! Kita PUTUS…”


“Jadi benar? Karena dia lu mutusin gue?”


“Bukan Di… jangan cari kambing hitam lagi!!! Aku ingin putus karena keinginanku sendiri… kita nggak cocok Di… cinta tak bisa dipaksakan…” dia hanya menatapku dengan tajam, membuatku semakin takut, dengan sorotan itu tampak dia tak mempercayai semua ucapanku.


Usaha untuk menyembunyikan tangis tak berhasil. Aku tak bisa menghentikan tangis dan membuatku malu pada Akel. Aku sangat berterimakasih pada Allah karena mendengarkan permohonanku hingga aku bisa tertolong dari ***** marah Aldi.


“Kel… terimakasih ya?”


“Kenapa terimakasih? Aku tak melakukan apa-apa”


“Tapi kedatanganmu secara tak langsung telah menyelamatkan aku” kami dalam diam yang cukup lama untuk menenangkan jiwaku yang kacau.


Sejak kepergian Aldi tadi, dia tak beranjak, duduk di lantai yang beralaskan karpet. Mungkin dia ingin mengisi pulsa… untung saja dia sangat pengertian dan tak berkata sepatah katapun. Itulah yang kubutuh kan, aku butuh waktu agar hatiku bisa tenang.


Sekian lama sepi, lambat laun gemetar yang kurasakan menghilang. Meski masih kacau dengan kejadian yang tak perlu siapa pun tahu, meski dia memahami yang terjadi, mungkin dia tidak akan menceritakannya pada siapa pun… entah keyakinan yang datang dari mana?

__ADS_1


“Maaf ya… membuatmu menunggu terlalu lama???”


“Apa udah baikan?”


Kuusahakan tersenyum dan mengangguk “Mau apa nih? mau isi pulsa, beli voucher, beli cassing hape, softcase, tambah aplikasi atau jual hape?”


“Nggak ada”


“Lho??? Terus mau ngapain nih?”


“Mending kamu berhenti!!!”


“Berhenti?”


“Iya, berhenti!”


“Jadi kamu mau ke sini Cuma buat menyuruhku berhenti?”


“Daripada dia datang lagi dan macem-macem?”


“Benar juga sih… tapi aku…”


“Takut nggak bisa ikut study Banding itu?” aku hanya mengangguk pelan.


“Jadi study itu lebih penting dari keselamatanmu?”


“Kamu datang ke sini hanya untuk ini? kamu inget nggak sih? Dulu… kamu itu yang memberiku informasi kita akan ikut study banding. Sekarang setelah tinggal sedikit lagi, ka-mu ingin menghancurkan mimpi aku karena menyuruhku berhenti?”


“Kenapa kamu begitu menginginkan pergi ke Bandung?”

__ADS_1


“Ya… untuk study banding lah…???”


“Bohong” katanya...


__ADS_2