Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 21


__ADS_3

Mengetahui dan melihat usahanya selama ini hingga sampai di sini, hatiku merasa sangat tersentuh, ternyata dia masih mencintaiku.


Jujur, bahagia rasanya bila ternyata perasaan kami sama-sama besar, dengan perjuangan yang berbeda. Namun, sangat kusesali. Mengapa tidak dari dulu, mengapa tidak sejak awal aku menyatakannya? Mengapa aku meragukan hatinya?


Seandainya dari dulu, mungkin tidak akan kubiarkan dia bersusah payah mencari uang yang banyak. Secepatnya, akan kukatakan semuanya...semuanya..


Kulajukan mobil, saat keluar pekarangan rumah tiba-tiba Vonny masuk dan langsung mengenakan sabuk pengaman.


“Mau kemana?”


“Terserah kamu!”


“Turun! Gue ada acara!” namun dia tidak mengubris. Kembali ku lajukan mobil menuju kampus Unpad. “Lu wanita gila kedua yang gue lihat Pon!”


“Adakah yang lebih gila dariku mengejarmu Ry?”


“Heh, tapi gue cinta padanya. Karena kegilaannya itu, saat ini perasaan yang sebelumnya sekarang semakin bertambah.”


“Terus kenapa kamu tidak bisa seperti itu padaku Ry?”


“Karena dia lebih segalanya dari lu Pon.”


“Apakah dia ada di sini juga?” lalu tak kugubris semua tanyanya hingga sampai di kampus itu.


“Lu boleh balik!”


“Kamu sama sekali tak ada rasa kasihan pada orang lain ya?”


“Buat apa?”


“Masa kamu tega membiarkanku pulang sendiri?”


“Lu sendiri yang naik, tidak ada gue ajak?”


“Tapi..Ry...?” kuserahkan kunci mobil ini padanya.


“Lu boleh bawa ini kemana pun lu suka..!”


Langsung tanganku digenggamnya. Mengembalikan kunci itu, namun tak dilepaskannya genggaman itu.


“Yang kubutuhkan bukan ini Harry, yang kubutuhkan itu kamu!”


“Yaa..sudah.. pulang sanah! Gue ada acara!”


“Kenapa kamu tak pernah sama sekali menghargai perasanku Ry?” terus kutinggalkan dia, ternyata di pintu masuk ada Yukita tengah memperhatikan kami.


“Hary, kumohon! Tunggu sebentar!” terus kulangkahkan kaki, entah kenapa perasaan senang seperti dia sengaja menungguku sampai di hadapannya.


“Kembali lah kepadaku! Apa yang harus kulakukan agar aku bisa terus di sisimu? Aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi Ry? Kumohon beri aku kesempatan untuk berbicara?” wanita ini ngomong apa sih?


Bisa-bisanya dia drama gitu. Oh iya, dia memang miss drama. Waduh, tiba-tiba dia memelukku dari belakang, kenapa tiba-tiba memelukku seperti ini? ini tidak boleh! Nanti Yukita berpikir macam-macam, kulepaskan dan terus menuju arah Yukita.


“Jadi dia?” tanya Vonny.


“Emang kenapa dia?” Yukita tampak kebingungan.


“Yang membuatmu meninggalkanku?”


“Pergilah!” eeeh, kenapa dia yang pergi?


“Yukita, bukan kamu yang pergi.” Seketika dia mematung.


“Yang harus pergi itu adalah elu Pon!”

__ADS_1


“Oh, dia... ternyata memang dia? Baiklah, aku pergi. Tapi tak akan sampai di sini saja.”


Aku tak boleh membuat dia mendapatkan masalah. Lebih baik dia berjalan sendiri saja. Ternyata dia malah mengikutiku.


“Kamu bertengkar dengannya? Kenapa aku dibawa-bawa segala? Apa dia mengira aku ini selingkuhanmu?”


Selingkuhan? “ge-er banget?”


“Lalu kenapa kalian bertengkar?”


“Kamu sudah baikan?”


“Kenapa kalian bertengkar?”


“Padahal aku pikir masih menangis.”


“Jawab donk? Kenapa kalian bertengkar?”


“Lalu kenapa? Kamu mau nangis lagi?


“Ya sudah lah...” dia cemberut lagi, dan tampak menggemaskan...rasanya ingin dicubit pipinya, gemas.


Keesokan paginya.


Pagi-pagi, Vonny sudah menerorku. Menyuruhku untuk menemuinya di sebuah cafe. Awalnya aku tidak mau, tapi dia mengancam akan ke asrama dan mencari wanita yang kemarin pagi, maksudnya menjadikan Yukita sebagai tameng agar aku mau menuruti kehendaknya.


Tapi kenapa dia lama sekali? Kutelepon, katanya dia akan datang sebentar lagi dan entahlah apa yang dia inginkan. Dari ujung, terdengar suara ribut Vonny dan suara gadis yang sangat kuhapal. Kurang ajar sekali dia, mengapa dia membawa Yukita ke sini juga?


“Ngapain lu bawa dia ke sini? Dia tak tahu apa-apa!”


“Jelaskan padaku Ry! Sebenarnya hubungan kalian ini bagaimana? Kenama kamu selalu menatapnya berbeda? Kenapa kamu perlakukan dia berbeda dibanding aku?”


“Kami tidak ada hubungan apa-apa kok, kami hanya teman sekelas di kampus, hanya teman biasa, jangan salah paham!” sahut Yukita cemas.


“Sebenarnya hubungan kalian bagaimana? Apa dia yang menyebabkan kamu ninggalin aku? Siapa dia?” dia ngomong apa sih? Jadian aja kaga pernah.


“Yang jelas itu bukan urusan lu! Jangan ganggu dia dan gue akan mengantarkannya pulang.” Kembali kuajak Yukita untuk meninggalkannya.


“Kalian kenapa Kel? Aku mohon, jelaskan pada dia bahwa kita ini tidak ada hubungan apa-apa!” dia melepaskan genggaman tanganku.


“Aku akan mengantarmu pulang.”


“Kamu kenapa sih? Selalu tak pernah dengar omonganku?”


Kuambil kunci ,“Ayo naik!”


“Aku? Tidak usah! Aku naik kendaraan umum saja. Sekalian beli cenderamata buat dibawa pulang.”


“Ayo naik! Biar aku yang antar. Emangnya kamu tahu ini di mana?” namun dia menyelonong pergi tanpa permisi, kuikuti hingga tempat dia berdiri.


“Kamu kenapa sih? Naik aja! Dari pada kamu tersasar seperti kemarin lagi, lebih baik ikut aku saja!”


“Tapi aku gak enak merepotkanmu, aku..hmmm...” tiba-tiba wajahnya menjadi merah.


“Kamu jangan memusingkan hal yang tidak-tidak! Kalau gitu nanti kuganti dengan skuter. Dasar cewek aneh.”


“Kita mau kemana Kel?”


“Katanya gak suka naik mobil, ya pulang buat ganti ama skuter lah?” dia memang gadis yang berbeda dari yang lain.


Padahal biasanya wanita suka dengan kemewahan, apalagi diajak jalan dengan mobil. Rencananya sih, hanya hendak meliriknya. Ternyata dia terus memperhatikanku, mata kami beradu, ada sebuah desiran kuat di hatiku, dan dia membuang muka, pasti karena malu.


Malu ketahuan terus memperhatikanku, entah kenapa rasanya sebahagia ini. kenapa tidak sedari dulu saja? Akhirnya kami sampai di rumah. Kunci skuter mana ya?

__ADS_1


“Kamu tunggu aku di teras saja!” masuk ke rumah, ternyata ada Mama.


“Mah, ada seseorang di luar,” Mungkin Mama bertanya siapa, tapi sudah tidak kedengaran. Setelah kunci ketemu, aku teringat. Nanti Mama bisa cerita yang enggak-enggak lagi.


“Nama saya Yuki Tante, teman kuliahnya Akel di Padang.”


“Yuki? Jangan-jangan.... oh..” untunglah masih perkenalan.


“Ooh, jadi nama kamu Akel ya di Padang?” sepertinya Mama mengerti, bahwa ini adalah gadis yang aku suka.


“Kalau kami semua memanggilnya.....”


“Ma..ma...kami berangkat dulu ya?” ini biar aku sendiri yang menjelaskan Ma.


“Buru-buru kali? Mau kemana?”


“Ini kami mau cari pernak-pernik cenderamata buat dibawa pulang tante.”


“Oh... kalau begitu hati-hati ya. Salam buat semua kawannya yang ke sini.”


“Baik tante, kami berangkat dulu. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


Dia naik keboncengan, “Ibumu baik ya?”


“Masa?”


“Iya, baik tadi ke aku.”


“Biasanya mamaku pemarah lho?”


“Kamu bandel kali?”


“Bukan ke aku. Tapi....”


“Ke pacar kamu? Masa? Cantik gitu juga.”


“Sekarang bukan!” Mamaku itu tidak suka melihat cewe yang gayanya berlebihan sih.


“Rencananya kita mau kemana nih?”


“Emang mau beli apa saja?”


“Apa ya? Aku juga bingung. Oh...tidak...”


“Kenapa lagi?”


“Aku meninggalkan Mili. Rencananya aku mau bareng dia saja belinya.”


“Ah..! kenapa tidak bilang dari tadi sih? Udah pakai mobil juga.”


“Maaf...maaf...!”


“Kalo gitu kamu telepon dulu Mili. Enaknya gimana!”


“Iya... iya...” akhirnya keputusannya, cukup kami yang pergi berdua. Mili akhirnya sekedar titip oleh-oleh saja.


Tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk mengatakan semuanya hari ini, sekarang juga, tidak boleh ditunda lagi.


“Kalau begitu lebih baik kita makan dulu. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.”


“Mau mengatakan apa?”

__ADS_1


__ADS_2