
“Kak, dari mana saja? Aku udah nyariin kakak sejak tadi, tapi ternyata dari luar aja?” Vina sedikit histeris menyambutku ketika sampai di kosan.
“Hehe, saya abis ketemu seseorang.”
“Siapa yang kakak temui?” nadanya curiga.
“Cewek donk?” timpal Remon yang tiba-tiba muncul.
“Apa? Cewek? Kak Akel sudah punya pacar?” suara Vina agak sedikit marah.
“Kenapa Vina?” suara Remon kali ini sedikit menggoda Vina.
“Ah, nggak tau ah!” Vina benar-benar marah meninggalkan kami.
“Ah, nggak apa-apa tu si Vina Bro?”
“Eh, ngga apa. Namanya juga abege, ababil.," Jawab Remon dengan tenang.
“Ada kabar apa ni Kawan? Wajahnya agak cerah hari ini? pagi-pagi keluar, pulang-pulang udah senyam-senyum gitu?”
Aaah, masa iya? Kelihatan ya? “Aah, enggak. Saya ke atas dulu Bro?” langsung kabur, ah.. tenang kalo begini.
Duduk di atas kasur, teringat kejadian sehari ini rasanya senang. Padahal Cuma sebentar berdua dengannya, tapi udah sebahagia ini. apalagi bisa berdua dengannya selamanya?
Mungkin hari ini belum tepat waktunya, tapi jika dia tidak ada pacar, aku bisa temui dia tiap waktu. Tiap waktu ada kesempatan untuk mengatakan padanya Aku Cinta padanya.
Namun kenyataannya, setelah kejadian itu aku dapat kabar bahwa dia pindah lokasi kerja, dimana kali ini pekerjaannya lebih banyak dari kemarin.
Walau kami selalu satu kelas, namun untuk bicara dengannya saja susah. Tiap jam kuliah berakhir, dia sudah hilang kembali bekerja.
Ternyata, Waktu untuk bicara dengannya pun sama sekali tidak ada.
Setiap meminta dia untuk menunggu untuk bicara, dia selalu bilang buru-buru untuk kembali kerja.
Waktu bisa melihat dia memang hanya saat di kelas saja. Padahal sudah menyuruhnya berhenti kerja, ternyata malah semakin banyak pekerjaannya.
Aku merasa khawatir dengan kesibukannya sampai seperti itu. Sepertinya dia sering melewatkan waktu makan, kalau terlalu sibuk begitu, kalau dia sakit bagaimana? Babang kan sedih Dedek...
Waktu terus berlalu, tanpa aku bisa mengatakan apa-apa. Tak terasa hari ini sudah di penghujung ujian akhir semester genap.
Di ujian matkul pertama, terlihat Yukita sangat pucat. Apa dia baik-baik saja?
Sedih sekali rasanya hanya bisa melihat dia dari jauh. Anggi, lu harus jagain Yukita buat gue, batinku. Anggi mengantar Yukita ke ruang ujian yang berikut.
Kali ini hanya kami berdua yang satu angkatan ujian yang terakhir ini. Kupastikan duduk di sebelah dia sekaligus untuk menjaganya.
Setiap mendengar ringisannya, membuat batinku sakit.
“Atau kamu minta izin ujian susulan?” kataku.
“Aih, ini nanggung. Cuma satu lagi kog,” tampak dia terus memaksakan senyum agar dianggap baik-baik saja.
“Atau kamu duduk dengan tenang saja? Biar aku yang buatkan?” tawarku.
“Aaha, ternyata kamu bisa becanda juga?” ledeknya.
Ini bukan becanda, ini serius. Sepanjang ujian hati tak tenang, terus memperhatikannya, hingga pengawas menyangka aku mau menyontek pada nya.
Meski dia sakit begitu dia tetap mnyelesaikan ujian dengan cepat. Usai menyerahkan lembaran jawaban ke pengawas, dia terduduk tersandar dan ternyata sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Seketika lembar ujian milikku langsung kuserahkan ke pengawas, kelas langsung heboh karena Yukita pingsan. Langsung ku angkat, tubuhnya terasa sangat ringan.
Dia langsung dibawa ke rumah sakit universitas, yang masih berada di area kampus ini.
Sejak dari kampus, hingga sekarang dia belum juga bangun. Dalam tidur, dia masih terus meringis. Apakah sakit sekali?
Tuhan, angkat lah semua sakit yang dia rasakan, biarkan aku saja yang merasakan itu semua. Orangtuanya masih belum datang, mungkin masih dalam perjalanan.
Terlihat tangannya terus menggapai, kugenggam tangannya yang kurus itu. Sebenarnya apa yang kamu kejar Yukita?
Jika semua yang kupikirkan itu memang benar, betapa berdosanya aku karena begitu bersalah padamu telah membuatmu seperti ini.Maafkan aku, tanpa kusadari air mataku menetes jatuh ke tangannya yang tengah kugenggam.
Bangunlah Yukita, aku ada di sini. Tapi, aku tak tahu jawaban yang sebenarnya. Kenapa dia sampai begitu berusaha mencari uang, demi studi banding itu.
Tiba-tiba terdengar suara menyebut-nyebut nama Yukita, seketika tangannya kulepas. Ternyata orangtuanya sudah sampai. Kusalami orang tua dan saudarinya. Setelah itu aku pamit.
Esok pagi, kudapati dia sendirian. Tidak ada yang menjaga, dan hingga hari ini dia masih belum sadarkan diri juga. Tidurnya masih tidak tenang, masih dalam kesakitan.
Suhu tubuhnya masih sangat tinggi. Kulirik sekitar, tak ada orang. Maafkan aku, izinkan walau hanya sejenak, kupeluk dia, dan ku tatap wajahnya lekat-lekat.
Karena tidak hati-hati, kacamataku menyinggung hidungnya dan dia terkejut dalam tidurnya.
“Yukita, bangunlah dari tidur panjangmu!” melihat dia terus meringis kesakitan, wajahnya yang kecil dan pucat itu membuatku pilu.
Biarkan aku merasakan semuanya, kali ini air mata tak terbendung jatuh ke pipinya. Terlihat dia sedikit lebih tenang, ku sapu bekas air mata tadi. Rencananya, aku akan menjaganya hingga siapa saja dari keluarganya datang.
Sudah agak siangan, kakaknya sampai, aku segera pamit.
Besok pagi aku datang lagi, dan ruangan sudah banyak makanan, buah, dan bunga. Mungkin kemarin, banyak yang datang membesuk dia.
Aku dapat informasi dari perawat, dia positif diserang types. Ini semua karena dia terlalu menforsir tenaga, sementara makanan sering dilalaikannya. Setelah yakin tak ada lagi orang, kembali digenggam tangannya, maafkan aku yang hanya berani saat kamu tidak bisa apa-apa.
Saat keluarganya telah sampai untuk menjaga, aku pamit pulang.
Telepon dari mama masuk, “Haloo..Harry, bukankah sudah liburan? Betah pisan di sana si Bujang Mamah?”
“Maaf Ma, aku belum bisa pulang.”
“Ada apa teh Ry? Mamah dan Papah udah kangen ni?”
“Iya Ma, nanti juga pulang kog.”
“Kapan?”
“Sabar, belum tahu kapannya sih Mah..."
“Jangan lama-lama ya? Mamah, udah ngga sabar kumpul dengan sulungnya Mamah.”
“Kan si bungsu ada di samping Mama tiap hari?”
“Iyah, tapi Mamah maunya semuanya ngumpul dengan lengkap.”
“Iya Mah, nanti aku cari tiket deh.”
Semoga besok Yukita sudah bangun. Jadi bisa pulang dengan perasaan lega. Rencanany esok pagi ingin jagain Yukita lagi.
Tapi ternyata Remon minta tolong untuk mengecek kesalahan aplikasi yang dia buat dalam program robotik yang dia ciptakan.
Cukup sulit memang, jadi lama baru bisa selesainya. Sekitar jam dua-an sore baru kelar dan masih perlu banyak perbaikan. Usai itu langsung kutuju rumah sakit.
__ADS_1
Ternyata Yukita sudah bangun. Rasanya sangat bersyukur, Tuhan mendengar kami semua. Sepertinya kakaknya sudah ada menjaganya. Kali ini mungkin cukup melihat dari jauh aja.
Rencananya keesokan pagi ingin menengoknya ke rumah sakit, tapi ternyata kembali Remon minta bantuan buat mengecek sistem dos yang masih salah rumus. Hmmm...demi kesetiaan pada teman, gak apa lah. Nanti masih bisa ketemu Yukita kan?
Kali ini pekerjaannya lebih sulit lagi, sehingga beberapa hari terlewat, tak bisa menengoknya di rumah sakit.
“Thankyou Kawan! Akhirnya selesai juga robot pintar kali ini. Kamu banyak membantuku kali ini. Makasih banyak.”
“Huufftt.. saya pun merasa lega. Kali ini kerjaan kita sudah benar. Kemarin masih tidak bergerak juga robotnya.”
“Bro, kenapa tidak ambil elektro saja? Masa anak listrik kayak saya kalah sama anak hukum?” celetuknya.
“Hahaha, saya ditakdirkan di jurusan ini Bro!” Karena di jurusan ini, aku bisa menemukannya. Lalu ku tengok jam tangan. Sudah lewat zuhur.
Ku sholat, dan makan. Segera menuju rumah sakit, sudah seminggu tidak melihat dia rasanya sangat rindu. Tapi, teman mengalami kesulitan tak mungkin tidak dibantu.
Sementara mama sudah tiap hari menelepon, menyuruh pulang..sebenarnya sedih juga pulang, sementara dia belum keluar dari rumah sakit, karena tiketku sudah dipesankan Mama gara-gara Mama sudah tidak sabar.
Terakhir kulihat Yukita sudah sadar walau wajahnya masih pucat saat itu. Moga hari ini dia semakin baik. Yukita masih dijaga oleh kakaknya. Kali ini kuberanikan permisi, dan ternyata kakaknya mengerti dan memberikan waktu untuk kami berdua.
“Kok nggak pulang?”
“Besok siang”
“Kok baru dateng? Aku kira kamu udah sampai di kampung”
Apa? Baru datang? “Baru sempat”
“Emang di kampus kamu ngapain?”
“semester pendek”
“Masa sih? Please deh!!! Masa udah segede ini kamu masih ngibulin aku?”
“Emang kenapa?”
“Ya nggak mungkin kamu ngulang? Terus kalau ngambil kuliah baru, nggak mungkin selesai sekarang, kelarnya sebelum mulai kuliah baru donk?”
“Iya… aku bohong. Kamu beneran udah sehat ya? Bawel banget?”
“Enak aja… kamu sendiri lihat aku sehat kan? Besok kamu pulang, jadi nggak ketemu dua bulan lagi ya?”
“Emang kenapa?” kamu sedih ya? Aku juga sedih banget.
“Enggak.. Kel…”
“Ya?”
“Sebelum berangkat nanti, ke sini dulu ya?”
“Emangnya kenapa?”
“Emangnya nggak mau pamitan dengan ku ya?”
“Emangnya kamu siapa?” waduuh, ini keceplosan. Terlihat dia malu.
“Lihat aja nanti… kalau sempat” dia terus memperhatikanku, tiba-tiba senyum sendiri.
“Kenapa? Ada yang aneh?” dalam tatapannya seolah mengatakan, 'kamu sangat tampan..'
__ADS_1
“Enggak…”