Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 54 Remon


__ADS_3

Motor terdengar dimatikan kembali, dan "Assalamualaikum..." dia sudah sampai di rumah kah?


"Walaikum salam.. Pacar Akel lagi.. ada apa lagi?" itu suara ibu kost kami. Dia kembali lagi ke kostan.


"Boleh Yuki bicara lagi dengan Remon Bu?" suaranya terdengar sangat cemas dan ketakutan.


"Bukankah baru saja bicara dengan dia? Kamu pulang dulu, udah malam nih..!" suara ibu kost seperti kurang senang akan kehadiran Yukita kembali.


"Ada sesuatu mendesak Bu, hanya sebentar kok Bu." Yukita memohon dengan mendayu.


"Ada apa Bund?" terdengar suara Vina, tiba-tiba muncul.


"Ini pacar Akel lagi, katanya pengen ketemu Remon. Tolong kamu panggilkan lagi Vin..!"


"Baik Bun.." suara Vina menghilang kembali.


"Emangnya ada apa? Kenapa kamu secemas itu?"


"Yuki hanya ingin memastikan sesuatu Bu. Kemarin Akel ngakunya balik ke Bandung. Tapi barusan Yuki dapat berita berbeda. Makanya Yuki hanya ingin memastikan sesuatu."


"Ohh.. saya pikir kamu pindah haluan dengan begitu saja setelah bicara dengan Remon tadi."


"Maksudnya Bu?"


"Enggak.. lupakan.. lupakan.. Tunggu sebentar lagi. Orangnya turun.."


"Baik Bu.. maaf ya Bu sudah merepotkan. Terima kasih Bu.."


Hening beberapa waktu, lalu terdengar suara langkah kaki yang baru datang, "Assalamualaikum.." kembali dengam sapaannya.


"Walaikumsalam, Remon.." nada khawatirnya masih belum hilang.


"Begini, aku hanya sekedar ingin memastikan. Sebenarnya Akel itu beneran pergi ke Bandung apa bukan?"


"Lho? Emangnya ada apa?"


"Barusan ada yang nelpon, bilang Akel itu dihajar seseorang. Padahal pesan chat nya bilang ke Bandung."

__ADS_1


"Waah, gawat juga ya. Tapi jika dia memang udah bilang ke Bandung, siapa tahu memang lagi ada urusan penting yang urgent kan. Mungkin saja itu hanya telepon iseng dari orang yang tidak senang.." bagus Mon.. kamu memang the best kalau udah ngomong.


"Aku takut kayak yang di sinetron-sinetron gitu Mon. Dia diculik, lalu dipukul rame-rame..." jelas Yukita masih dengan cemas.


"Hahaha.. kamu itu korban sinetron kayaknya Yuki. Aku pikir Akel dia baik-baik saja kok. Biasanya kalau ada orang dekatku kenapa-napa, feelingku pasti berasa aneh. Ini kayaknya biasa-biasa saja."


"Kamu indigo ya?" entah kenapa dengan suasana serius ini aku malah ngakak sendiri mendengar ucapan dia, udah besar aja masih lugu kayak gini. Apalagi dia yang sekarang kembali kecil. Tiba-tiba aku teringat dia bertanya, apa aku orang India? Saat itu aku merasa kesal dan kecewa, tetapi entah kenapa saat ini berasa menikmatinya. Suasana serius begini, tawaku malah tak bisa berhenti.


tok


tok


tok


Terdengar suara ketukan pintu, lalu gagang pintu terlihat ada yang menarik dari luar.


"Assalamualaikum.." itu Remon yang mungkin penasaran apa yang terjadi padaku.


"Walaikumsalam.. Ya Mon, ada apa?"


"Barusan saya mendengar suara tawa di kamar yang selalu hening ini. Ada apa gerangan Kawan?"



Dia mungkin baru selesai mengaji atau apa. Orang ini banyak menularkan hal baik terhadapku. Semoga apa yang ditularkan kepadaku, jadi amal jariyah baginya ke depannya.


Cowok soleh ini, yang dengan sabar menghadapi gadisku yang mati penasaran akan apa yang sedang terjadi terhadapku. Yang lucunya dengan gampang mengatakan berdasarkan firasatnya, mengatakan aku baik-baik saja. Memang benar sih, aku ini baik-baik saja. Hanya saja, cara dia menyampaikan pada Yukita itu menurutku cukup unik.


"Kenapa Kawan? Ada apa? Kenapa ketawa terus saat melihat saya?"


"Enggak, sebelum kecelakan pada Yukita, kalian ngobrolin apa saja?" akhirnya rasa penasaran pengen mengulik masa lalu akibat mendengar obrolan mereka menjadi semakin tinggi.


"Oohh.. itu.. biasa Kawan, gara-gara lebih dari 24 jam Kawan nggak ada kabar, membuat seseorang menjadi khawatir tak menentu. Ya saya berusaha menjelaskan sebisa saya agar dia tenang. Katanya ada yang iseng menelepon, katanya Kawan sedang disekap atau apa. Jadi saya merasa itu tidak mungkin, karena sepertinya Kawan sebelah kamar saya ini bukan orang yang gampang ditindas, jadinya saya jawab dengan apa yang saya pikirkan."


Ooohh.. begitu ternyata. Aku pikir beneran seperti yang dikatakan Yukita, Indigo. Aah.. konyoool..


"Akhir-akhir ini saya perhatikan Kawan banyak sekali tersenyum. Wajahnya jauh lebih cerah. Padahal saat ini sedang banyak masalah yang belum terpecahkan bukan?"

__ADS_1


"Bener juga, padahal si pelaku masih berkeliaran bebas. Seharusnya saya fokus ke sana."


Lalu Remon memperhatikan aku kembali, kepalanya tampak sedikit manggut-manggut. "Bagaimana keadaan si Yuki saat ini?"


"Yaa, masih sama. Dia belum mengingat apa-apa."


Remon mendekatiku, menepuk-nepuk bahuku seakan prihatin atas duka yang menimpaku dan Yukita. Namun sebenarnya saat ini aku jauh lebih bahagia dari sebelumnya.


"Ada cerita baru tentang Yuki Yuki?"


Aku tidak bisa mengatakan bahwa baru saja sedang menyadap obrolan masa lalunya dengam Yukita. Takutnya orang di hadapanku ini malah marah dan merasa privasinya terganggu.


"Dia mungkin sebentar lagi ikut kuliah. Hanya saja pasti sangat berbeda dengan sebelumnya."


Kembali pria kalem itu manggut-manggut. Aah.. Remon.. aku iri sekali sama kamu. Pembawaan yang selalu tenang itu membuat aku yakin banyak sekali yang diam-diam kesemsem sama dia. Hanya saja dia terkungkung dalam karisma tinggi yang tidak gampang didekati oleh sembarang wanita. Tentu saja, dia punya kriteria sendiri untuk masa depannya bukan.


"Wah, hebat sekali itu. Saya juga penasaran nantinya bagaimana kelanjutannya. Pasti lucu sekali," dia terkekeh membayangkan masa depan yang juga sudah kubanyangkan nanti. Bagaimana jadinya nanti dia tiba-tiba dihadapkan dengan orang yang sangat banyak.


"Ya udah, semoga Yuki itu bisa kembali ke sedia kala ya. Bisa kembali sehat seperti sedia kala."


"Aaaamiin Ya Allah.. terima kasih ya Mon. udah bantu doa."


Remon mengacungkan jempolnya, lalu menarik gagang pintu, dan keluar. Saatnya melanjutkan mendengarkan rekaman ini. Kurebahkan diri di atas kasur, kembali menggeser pintasan terakhir yang aku dengar,


"Kamu indigo ya?"


"Hahaha.. kok indigo sih? Kenapa tidak sekalian dibilang kayak superman, spyderman, dan kawan-kawan?" ooohh, ternyata dia juga tertawa, berarti aku masih normal.


"Habis tadi ngomong pakai feeling-felling segala kan?"


"Habisnya kamu terlalu cemas seperti itu. Kamu banyak berdoa aja. Anggap aja ini sebagai salah satu kerikil dalam hubungan kalian," jelas Remon, dan lagi tak kupungkiri bahwa aku membenarkannya.


"Wah, kamu mau kemana lagi nih? Kok buru-buru sekali?"


"Aku suka pusing sama sesuatu yang tidak pasti ini Mon. Makanya saat ini aku lagi punya misi untuk memastikan sesuatu saja," dia mau kemana lagi ini? Kan katanya sudah malam. Ternyata dia beneran pergi begitu saja, mungkin saat itu Remon merasa heran dengan tingkah laku cewek ini yang tiba-tiba inpulsif ini kali ya?


Kembali hanya terdengar suara kendaraan melintas. Cukup lama dia dalam berkendara. Akhirnya setelah lebih dari duapuluh menit berkendara, terdengar suara motor dimatikan. Ini sudah di rumah belum ya?

__ADS_1


"Waahh.. kamu.. pacarnya Aldi kan?" suara lelaki yang tidak kukenal..siapa yang kali ini?


*maaf banyak typo.. nanti sekalian revisi* bikinnya sambil ngantuk


__ADS_2