
Sorenya aku memilih pulang berdua dengan Mili. Tampak dia menunggu di atas motornya yang tengah terparkir tanpa suara. Aku memilih meninggalkan dia juga dengan tanpa suara, melewatinya dan berjalan menuju halte. Dia hanya diam tanpa kata terus memerhatikan langkahku, aku tahu tetapi memilih untuk tidak peduli. Mili memberi kode untuk menyuruhku pulang bersamanya, aku hanya menggeleng. Bis berhenti di depan mata kami dan tanpa berpikir panjang kami langsung menaikinya.
Sampai pemberhentian terakhir, kami turun. Ternyata dia sudah berada di belakang bis yang kami naiki. Kutunggu Mili naik kendaraan menuju arah rumahnya, dan dia masih mengikuti dari jauh. Ku alihkan pandangan ke arah yang lain, ternyata tampak Anggi duduk bersama kawannya yang tidak aku kenal. Aku harus memastikan keadaan Anggi baik-baik saja. Bila dia baik-baik saja, perasaanku bisa menjadi lebih tenang.
Terdengar dia tertawa dengan sebatang rokok yang terapit oleh dua jari di tangannya. Sekilas dari jauh tampak hanya sedikit lecet di pelipis kirinya. Loh? Kenapa dia tidak separah Harry? Sementara kemarin Harry dimana-mana terluka dan membiru lebam karena luka dalam. Anggi menyadari kehadiranku, dia langsung cabut menghidariku bergerak dari posisinya tadi. Kembali aku menengok ke arah belakang tempat seseorang tadi yang terus mengikuti dalam diamnya, ternyata sudah tidak tampak lagi oleh mataku. Apakah dia pergi begitu saja?
Namun kali ini Aku memilih mengejar Anggi, aku harus tahu cerita sebenarnya. Karena informasi dari Harry hanya ku dapat setengah-setengah karena dia memang tipe irit bicara. Terus mengikuti langkahnya, dan akhirnya sekarang aku sudah tepat berada di belakangnya.
"Ang...." kupanggil dia agar tidak terus beranjak pergi semakin jauh. Akhirnya dia berhenti dan membalikkan badannya kurus menghadap ke wajahku.
“Ang, sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua?” dia tidak bergeming dan hanya membisu.
“Ang! Ayo katakan!” desakku.
“Apa lagi yang ingin kamu ketahui?"
"Semua...!!! Apa yang terjadi kemarin antara kalian?"
"Sudah lah Yuki, cukup! Aku malu! Malu malu pada kalian!”
“Malu apa maksudmu?” dia hanya menunduk lalu membalikkan badan ingin pergi meninggalkanku.
“Anggi!” kutekan suara ku setegas yang aku bisa, dia berhenti lalu membenamkan wajahnya dalam telapak tangan, setelah itu berpindah ke kepala, dan mengusapnya dengan kasar.
__ADS_1
“Yuki! Ikut aku!” dia menuju dimana motornya terparkir, lalu naik ke motor dan ku ikut naik di belakangnya. Dia membawaku ke tempat yang agak tenang. Kami duduk di sebuah toko yang tutup, yang jauh dari hiruk pikuk jalan raya.
“Yuki... seharusnya aku yang minta maaf kepadamu.”
“Minta maaf kenapa?”
“Semenjak itu, setelah kamu menolakku, aku merasa semua akan baik-baik saja. Namun kenyataan nya berbeda, hatiku merasa sangat terluka atas penolakan itu. Ditambah lagi tak lama setelah kamu menolak, tiba-tiba kamu telah duduk berdua dengan mesra dengan Akel. Melihatmu jalan dengan Akel, membuatku merasa selama ini kamu hanya memanfaatkan perasaan aku yang menyukaimu.”
“Tapi Ang....!”
“Jangan potong pembicaraanku! Dengarkan saja aku!” lalu aku diam mendengarkan dengan tenang.
“Jujur, aku pertama melihat kamu saat ospek dulu, di saat senior selalu menggoda kamu, aku seperti langsung menyukaimu. Dan kebetulan di kuliah pertama kita duduk bersebelahan dan berkenalan. Ya..kala itu.. Namun, aku hanya bisa memendam hingga aku tahu kamu pacaran dengan Aldi. Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal, Akel juga menyukaimu dari segala bahasa tubuh dan sikapnya.
Mungkin memang, bagimu aku hanya tampak seperti anak-anak yang belum dewasa. Sementara dibanding Akel yang sangat dewasa, aku bukan sosok yang pantas untuk bersaing untuk berpikir sebagai pasangan mu yang sejati. Aku sangat bersalah padamu, maafkan aku telah menghajarnya dengan cara yang tidak fair.
Mungkin saja sebenarnya dia bisa menghajarku sepuasnya, namun dia lebih memilih untuk mengalah setelah aku mengeroyoknya bersama teman-temanku."
"Apa? kamu mengeroyok dia? Bersama teman-temanmu?" seketika jutaan rasa bersalah langsung muncul di dadaku, apakah ini maksudnya bertahan sendirian? 🥺
Anggi mengangguk malu, "Dengarkan aku dulu! Katanya, dia tidak akan menghajar seorang yang dianggap Yukita sabagai saudara, karena itu hanya akan melukaimu. Aku tahu, sebenarnya dia bisa membalas kami bertiga sendirian. Bisa jadi sebenarnya dia belajar beladiri, kami bertiga yang cetek ini bisa dia kalahkan dengan mudah sendirian.
Tetapi, kenyataanya dia memilih meminta maaf karena telah duluan merebut hatimu. Meminta maaf telah menjadikanmu kekasihnya. Meminta maaf untuk tidak akan bisa melepaskanmu dari sisinya apa pun yang akan terjadi. Meminta maaf hanya mengizinkanku sebagai sahabatmu saja. Menyuruhku untuk menata hatiku, masih rapuh oleh usia yang masih muda, begitu katanya. Haha, mengingat itu aku ingin menertawakan diri sendiri. Emang dia udah setua apa sih sampai bicara seperti itu?”
__ADS_1
Jadi itu semua yang terjadi? Dia benar-benar seperti malaikat. Malaikat yang selalu kubayang dalam angan. Malaikat tak bersayap yang tiada henti kusakiti.. teringat kembali, dia masih saja mengikutiku, untuk memastikanku benar-benar selamat sampai tujuan. Tiba-tiba aku merindukannya. Sangat merindukannya.
“Yuki...” suara itu membuyarkanku dari sebuah lamunan, menyesal karena terus menyalahkannya.
“Dia juga berterima kasih, karena telah menjagamu dengan baik saat dia tidak ada. Buat apa dia berterima kasih? Sementara aku menjagamu karena aku juga ingin melindungimu. Karena aku memang sayang sayang sama kamu," kembali aku hanya bisa tertegun akan ucapannya barusan, hanya bisa merutuki diri yang selalu dan selalu menyakiti nya.
“Mungkin dia memang yang terbaik untukmu. Jujur, sebenarnya aku malu bertemu dengannya. Karena itu aku belum berani datang ke kampus. Tidak tahu harus mengatakan apa padanya dan menaruh muka dimana.”
“Ang, jika kamu tak menceritakan ini.. aku benar-benar tidak tahu ternyata kejadian sebenarnya, kamu tahu sendiri bukan dia orang yang tidak banyak bicara.”
“Sepertinya dia memang begitu, bukan? Memang tak banyak omong.”
“Ang, sekali lagi aku memohon padamu. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi? Menjalani suka duka bersama dalam persahabatan.” dia hanya merenung, namun tidak begitu lama.
Kemudian dia tersenyum, “Baiklah, mungkin hanya itu yang kubisa. Ku tak akan bisa mengisi hatimu melebihi status sahabat. Jika memang itu yang terbaik buat kita, bersahabatlah denganku hingga kapan pun. Hingga kita tua, hingga kita menjadi kakek dan nenek,” dia mengulurkan tangan, uluran tangannya langsung kusambut dan kami salam persahabatan lalu kami bersorak.
“Sahabat untuk selamanyaaaaaa...”
Setelah itu dalam pikiranku adalah Harry.. aku ingin mengatakan padanya bahwa aku semakin mencintai nya...
__ADS_1