Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 36 Duka Dirga


__ADS_3

Pesawat mendarat sudah lewat magrib. Langsung pulang ke rumah, sholat Magrib, mandi, pamit dan segera menuju rumah Dirga. Tampak Dirga di pintu menunggu pelayat yang datang.


“Hah, Harry? Lu ke sini?” dia terkejut melihat kehadiranku. Matanya berkaca-kaca, menahan sendu yang dahsyat di dalam dadanya. Sebelumnya, sanga ayah yang bekerja sebagai pengusaha mebel, membuat kehidupan mereka bisa dibilang lebih dari cukup. Namun, setelah sang ayah tiada, mungkin dia yang akan melanjutkan usaha itu. Sementara, kuliahnya belum selesai juga. Kayaknya aku akan terus memberi dorongan agar dia segera menyelesaikan kuliah, agar bisa fokus melanjutkan usaha ayahnya.


“Yang sabar ya Bro, gue akan temani lu!” ku tepuk pundaknya pelan tapi mesra. Matanya masih terus berkaca-kaca. “Lu harus kuat!” lalu menemani dia menunggu pelayat, dan Hendri pun hadir.


“Bro, sejak kapan lu di sini?”


“Ah, barusan.”


“Ayo! Duduk!” ajak Dirga.


Semalaman, aku dan Hendri menemaninya. Kami ikut mengaji Yasin di tengah ruang duka. hingga pagi masih tetap di sana. rencananya jenazah akan dimakamkan pukul sembilan pagi. Ku pulang sejenak membersihkan diri, lalu kembali ikut menyolatkan dan mengantarkan almarhum hingga tempat istirahat terakhir. Usai pemakaman, kami kembali ke rumah Dirga.


“Harry, makasih..telah jauh-jauh hadir untuk gue!” lalu dia memerhatikan Putri yang menolong ibunya membereskan sisa-sisa penyelenggaraan jenazah tadi.


“Lu itu sobat gue Ga. Udah gue anggap sebagai saudara sendiri. Masa di hari berat, gue biarin lu sendirian?”


“Kapan rencananya balik?”


“Habis weekend aja. Soalnya nanggung juga, mau nikmati suasana di sini sesaat.” Tiba-tiba aku teringat, hape tertinggal di rumah. Kelupaan sejak kemarin, gara-gara khawatir pada Dirga jadi buru-buru aja.


“Kalau gitu temani gue dulu ya?!”


“Oh.. ehmm.. oke!” pikiran sudah kembali mengingat gadis manis yang jauh di sana. Moga saja dia tidak khawatir, karena belum bisa menghubungi ku selama dua hari ini


Banyak yang datang hendak melayat, termasuk kawan-kawan kuliah. Rata-rata mereka sedang menyusun skripsi, ada yang akan sidang, ada yang sudah sidang, ada telah wisuda, tak sedikit dalam mencari kerja bahkan sudah ada yang bekerja. hmmm..sementara aku, malah memperpanjang masa kuliah..


“Ahaha, payah lu Ry. Kalau sekarang masih di sini, pasti lu sudah kerja nih,” ujar salah satu dari mereka.


“Ngapain juga jauh-jauh kuliah Bro?”


“Cewe di sana cantik-cantik nggak sih?”


“Itu, si bohay gimana kabarnya?”


Bermacam-macam tanggapan dari mereka. Tak ada yang penting untuk dijawab, makanya lebih baik diam aja.


“Kalian jangan godain Harry terus, ke sini mau ngelayat apa buat nyari dia?” Dirga muncul setelah mengurus tamu yang baru saja pergi.


“Enggak, gue hanya heran aja sama ni anak. Udah jelas jurusan kuliah yang diambilnya hampir selesai, malah milih kuliah lagi, jurusan berbeda pula.”

__ADS_1


“Dia tu nyari pacar di sana!” pungkas Hendri. Dirga langsung menoyor kepala Hendri. “Gue salah lagi?” haaah, ni anak..mesti sama kaus kaki sumbat mulutnya kayaknya.


“Nyari pacar?” yang lain bertanya-tanya.


“Kayak tidak ada cewek aja di sini ah?” celetuk yang lain.


“Sudah-sudah! Kalian? Di sini keluarga gue lagi berduka juga!” Dirga berusaha mengalihkan suasana. Karena dia tahu, aku tidak suka jika hal pribadiku dibicarakan di tengah ramainya orang.


“Oh iya Bro, maaf..maaf..!”


Tiba-tiba, suasana agak sedikit heboh, sepertinya ada cewek cantik yang baru datang.


“Waaaahh... panjang umurnya!”


Kulihat ke arah pusat kehebohan yang mengganggu suasana duka di rumah Dirga. Terlihat dua gadis berpakaian abaya hitam. Heeeh... ternyata dia. emang hobi sekali mencari perhatian ya mereka. Ngapain juga dia datang bareng Tika?


Dirga menyambut mereka, dan menyalami mereka. Putri langsung bergabung dengan mereka. Lalu Dirga menyilakan duduk, meninggalkan mereka bertiga. Putri menemani mereka. Apakah tadi dia sudah tahu aku datang atau tidak, mereka seolah tidak memedulikanku, syukurlah jika dia sudah move on.


Setelah Putri meninggalkan mereka, banyak yang pindah posisi duduk dekat mereka. Aku dapat kabar, ternyata Tika sudah putus dengan Hary kadal. Kupikir mereka akan cocok bersama dalam waktu yang lama, ternyata tidak juga. Aku mau masuk aja lah, nanti mereka melihatku. Mending masuk lewat pintu belakang.


Ternyata suasana di dalam lebih ribut lagi. Yang ibu-ibu sibuk membuatkan minuman buat pelayat yang datang. Ini juga namanya kemalangan, tidak usah dibuatkan ini-itu juga tidak apa kok. Haduh, kalau begini aku masuk ke kamar Dirga aja kayaknya. Menunggu di sana saja, hingga suasana terdengar agak tenang.


Tiba-tiba pintu dibuka, “Eh, ternyata lu ada di sini? Gue cariin dari tadi.”


“Lari dari Popon?”


“Bukan lari, tapi males. Tahu aja lah dia.” dia memberi kode agar aku keluar. “Kenapa?”


“Dia nyari lu!”


“Jadi dia tahu gue juga di sini?”


“Iya, dia udah tahu kok, makanya dia ke sini. Kalau lu tidak ada, mungkin dia tidak ingat gue. Temui lah dia! ngapain lu sembunyi di sini?”


“Gue kira dia tidak tahu, makanya cuek aja.”


“Temui dia! lu tu lalaki!”


“Iye..iye..” kubuka pintu, ternyata dia berada tepat di depan pintu. “Eh, hay Pon!”


“Apa kabar Ry?” dia memerhatikan wajahku. “Kenapa wajahmu?” mungkin masih tampak beberapa bagian bekas luka lebam. Di pegangnya bagian wajahku yang masih membiru itu. Refleks aku mundur.

__ADS_1


“Kamu jijik ya sama aku?”


“Pon, sekarang bukan saat yang tepat!”


“Lalu kapan saat yang tepat itu?” ku diam, “Jika ku tunggu nanti, besok, atau besok lagi kamu sudah tidak ada lagi di sini. Haruskah aku mengejarmu sampai ke sana?”


“Sekarang rumah ini suasana duka. Masih penting membahas hal itu?”


“Lalu kapan?”


“Besok saja!”


“Benarkah?”


“Iya!”


°°°\=\=\=°°°\=\=\=°°°\=\=\=°°°\=\=\=°°°\=\=\=°°°\=\=\=°°°\=\=\=°°°


kali ini kita akan berkenalan dengan sahabatnya Harry, bernama Dirgantara Pramana Putra



Sahabat yang berasa saudara bagi Harry. Apa pun itu, Dirga lah tempat mengadu bagi Harry.



ini adalah Putri, pacar Dirga.. yang nanti akan menjadi istri Dirga.. kalau berlanjut 😂😂



Vonny, dia yang selalu mengejar Harry. Tingginya 170cm, sementara Harry hanya 174. kalau lanjut, ini orangnya ada bau-bau pelakor ya... 😂 yakin Harry kuat menahan godaan kayak gini pelakornya..wkwkwk..


Sebenarnya pengen lanjutin cerita ini sampai Harry dan Yukita menikah dan punya anak. Namun kayaknya cerita ini kurang laris, mungkin tamatnya sebentar lagi aja..



Milyantika, sahabat Yukita yang jago bikin puisi. Yang diam-diam menyukai Akel...


puisi-puisi yang dibuat oleh Mili, pengarang aslinya bernama Cici Aztari.. sobat yang jago sekali dalam menulis puisi...


__ADS_1


Anggi Oktavian, tingginya 185cm, sekali dorong langsung nyungsep si Akel... 😂


episode selanjutnya besok akan tetap dikejar, tapi tidak sampai adegan ijab qobul Harry dan Yukita... soalnya sedih nggak ada yang baca.. 😭😭


__ADS_2