
Selanjutnya Sudut Pandang tokohnya akanterus berganti hingga ceritanya selesai.. 🤗🤗
Sampai di asrama, aku turun dengan segera dari motornya.
“Yukita! Tunggu!” dia terus memanggilku, tapi sungguh kali ini aku belum sanggup untuk melihat wajahnya.
“Yukita?” aku terus masuk ke asrama dan tak sedikit pun menoleh kebelakang.
Kulihat Mili, langsung kupeluk dia. “Yuki? Apa yang terjadi?” hanya isakan yang bisa kuberi, tak tahu harus mulai cerita dari mana.
Entah kenapa? Rasa paling besar saat ini adalah malu. Malu pada diriku dan malu pada dia. Sejujurnya aku cukup bahagia, ternyata, orang yang selalu kupikirkan, juga mencari keberadaanku.
Dan tak tidak tahu kenapa, alasan kami bisa sampai satu kelas jurusan?
“Yuki, apa yang terjadi antara kalian?” tiba-tiba Chika masuk dan menemukanku tampak menyedihkan seperti ini?
“Maksudnya?” Mili masih bingung.
“Di luar ada Akel. Mereka sepertinya habis bertengkar?” jadi dia masih di luar?
“Heh? Ada apa antara kalian? Kenapa Yuki gue lihat nangis?” terdengar teriakan dari luar, entah dari siapa.
Chika, Mili, dan kawan lainnya keluar melihat keadaan. Sementara aku, malas berjalan keluar. Masih malu pada Akel.
“Lalu urusan lu apa?” bukankah itu suara Akel?
“Gue biarin lu dekat sama Yuki, karena gue anggap lu orang baik. Tapi ternyata lu sama aja dengan si brengsek itu.” Teriakan Anggi kembali terdengar dengan jelas.
Ku intip dari balik pintu, sebenarnya apa yang terjadi. Tampak Anggi dan Akel sama-sama bertatapan marah. Yang lihat di luar pun sangat ramai.
“Kalo lu tidak tahu apa-apa, lu jangan ikutan. Ini urusan kami berdua!”
Anggi menarik kerah Akel, tingginya yang melebihi Akel membuat dia seolah gampang melalapnya. Akel mendorong, dan Anggi terjungkang terperosok.
“Lu hanya anak kecil! Jangan sok tahu!” dia melihatku yang bersembunyi di balik pintu, naik kembali ke skuternya dan meninggalkan sisa kehebohan yang dia buatnya dengan Anggi.
Teman-teman lain membantu Anggi bangkit. “Kamu tidak apa Ang?” Anggi melihat ke arahku.
Aku hanya kembali sembunyi masuk ke dalam. Setelah itu, berbondong-bondong semuanya masuk.
“Waduh, Yuki? Sebenarnya ada apa sih di antara kalian bertiga?” celetuk Chika.
Yang lain hanya melihat karena kami memang belum terlalu dekat. Mili lebih memilih diam tanpa komentar apa-apa.
“Kenapa hanya diam?”
Ah, Chika. Jelas situasi saat ini tidak tepat malah bertanya. Daripada menjawab rasa penasarannya, langsung ambil posisi di bawah selimut.
Keesokkan paginya, kami semua sudah masuk ke dalam bis. Semua masih berbisik tentang kejadian tadi malam. Anggi menyerahkan earphonenya dan memasangkan ke telinga ku.
“Semua sudah cukup?” tanya dosen pembimbing perjalanan kami.
Mili membisikkan padaku bahwa Akel belum datang. Kenapa? Bis sudah akan berangkat dia belum juga muncul.
“Masih kurang satu lagi Pak!” sorak Anggi. Semua pandangan tertuju padaku dan Anggi.
Apa yang terjadi? apakah dia baik-baik saja?
“Kita tunggu hingga setengah jam lagi!” ujar Pak Dosen.
Kembali kubuka hape, membuka sosmed chatingan yang biasa kugunakan. Ternyata sudah banyak pesan yang masuk darinya, dan pagi ini baru kulihat.
[Yukita, maafkan selama ini. ~(00.59)
Bukannya aku tak ingin mengatakannya ~(01.05)
Bahkan sejak pertama berjumpa waktu pendaftaran ulang denganmu, langsung ingin kunyatakan ~(01.10)
Anehnya kamu langsung hilang~(01.11)
Aku masih teringat kamu bilang kuliah di politeknik ~(01.15)
Tahukah kamu? Aku sudah mencarimu hingga ke sana ~(01.22)
Dan kenyataan yang kudapat, kamu bukan mahasiswa sana~(01.30)
Jujur, awalnya aku sangat membencimu ~ (01.32)
Tahukah kamu? Rasa campur aduk saat mengetahui kita satu kelas~(01.35)
Tapi, ternyata rasa cintaku mengalahkan rasa benci ~(01.40)
Hingga saat ini, tak bergeser sedikitpun rasa yang kumiliki padamu ~(01.42)
Banyak faktor yang membuatku tak bisa mengatakannya ~(01.50)
Yang perlu kamu tahu, aku bahagia..ternyata kamu juga masih mencintaiku ~(01.59)
Mengejarku hingga kota ini, seperti aku mencarimu hingga ke sana ~(02.05)
Apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya dengan senang hati ~(03.00)
Untuk terus mencintaiku, atau pun membenciku karena itu ~(03.45)
Bukan maksudku untuk mengungkap kembali ~(04.00)
Aku tahu lelaki sejati tidak akan mengungkit masa lalu ~(04.05)]
Melihat waktu pesan yang dia kirim, apakah dia tidak tidur semaleman? Apakah saat ini dia sedang ketiduran? Membaca semua pesannya itu membuatku semakin malu. Malu bahwa ketahuan telah membohonginya. Malu menyadari bahwa aku terus menyakitinya.
Berpacaran dengan Aldi di depannya. Sementara, dia mencariku hingga lintas pulau yang sama sekali tak dia ketahui.
“Yuki? Kenapa kamu menangis lagi?” kuperlihatkan pesan yang dikirim Akel ke Mili. Mili menjadi bingung,
“Ini maksudnya apa Yuki?”
“Ternyata, Akel adalah Harry Mil.. orang yang selama ini kucari,” lalu dia menyerahkan kembali hapeku. Dan diam yang panjang.
***
__ADS_1
Akhirnya kami berangkat tanpa Harry, bisa jadi dia ketiduran, bisa jadi dia sengaja tidak ikut. Aku masih belum sanggup untuk menyapanya kembali. Ketika dia tidak ikut, sepertinya membuatku lebih tenang, memberiku tempat dan waktu untuk bernafas lega sementara.
Menilik semua masa lalu, teringat setiap tatapan sinisnya, teringat setiap ucapannya, membuatku mengerti mengapa dia dulu begitu padaku, mesti tidak mentup kemungkinan kepada orang lain pun dia begitu. Aku menjadi mengerti mengapa semua gerak-gerikku dia tahu, karena dia memang terus memperhatikanku.
Mencoba mengungkit semua alasanku yang sebenarnya, tetapi tak pernah sedikitpun kuberi dia celah untuk mengetahui semuanya. Aku jadi ingat, dia sering mengatakan ingin mengatakan sesuatu. Yang akhirnya selalu tidak jadi. Ternyata, semua ini memang salahku. Aku benar-benar malu. Rasanya tak tahu harus menaruh muka di mana.
Kami di Semarang juga selama empat malam. Undip juga memiliki banyak kegiatan yang dilakukan oleh fakultas hukumnya. Bahkan, beberapa pengacara terkenal, alumni Undip sengaja diundang pihak fakultas untuk memberi materi pada seminar di sini.
“Yuki, aku merasa semakin hari kita bertiga semakin jauh,” Anggi duduk di antara aku dan Mili. Benar juga, antara kita bertiga saat ini hambar. Mili sejak keberangkatan kemarin, kembali menutup diri padaku. Sedangkan Anggi agak sedikit sungkan kepadaku.
“Mili, apakah ada sesuatu yang tidak berkenan di hatimu selama kita di Bandung?”
“Emang kenapa Yuki?
“Aku merasakan hal yang sama juga, kita bertiga meski sering duduk bersama, kita lebih banyak diam. Menghabiskan waktu dengan pikiran masing-masing," pungkas Anggi.
“Jujur ya Yuki, sebenarnya aku bingung dengan hubungan kita bertiga ini?” ujar Mili tanpa ekspressi. Kenapa dia berpikir seperti itu?
“Aku tahu, perasaan Anggi pada siapa, aku tahu perasaan Yuki ke siapa, tapi kalian tidak tahu perasaanku pada siapa..” ada apa dengan Mili? Kenapa dia bisa mengatakan hal itu?
Kulihat Anggi, mencoba menenangkan diri, entah kenapa.
“Jadi kamu tahu Mil?”
“Iya, aku tahu. Sudah jelas semua bahasa tubuhmu, tapi yang dituju hingga detik ini tak jua merasa. Karena dia sudah mencintai yang lain.”
Siapa yang disuka Anggi? Kenapa hanya aku yang tidak tahu? Kenapa dia tak pernah menceritakannya sama sekali padaku?
“Yuki, sebenarnya suka sama siapa?” tanya Anggi tiba-tiba, namun dia sama sekali tak melihatku.
“Lucunya Anggi sendiri tidak tahu orang yang disuka oleh perempuan itu,” Mili terus berujar ketus dan dingin.
“Bahkan, aku menyukai siapa kalian berdua sama sekali tidak tahu kan?” Mili menatap kami satu per satu.
“Jujur sebenarnya persahabatan kita bertiga ini lucu!”
“Kamu kenapa Mili?” tanyaku.
“Kenapa?” kembali menatap kami satu persatu bergantian
"Entah lah, aku juga bingung,” tiba-tiba dia meninggalkan kami berdua.
“Kenapa dengan Mili?” tanya Anggi padaku, aku hanya mengangkat bahu.
“Moga nanti dia bisa diajak bicara kembali!” ucapku.
“Tadi tu Mili... hmmm.. jadi sebenarnya kamu suka sama siapa?” kembali Anggi bertanya padaku.
“Aang sendiri suka sama siapa?”
“Yeeeh, malah nanya balik,” dia menggaruk kepalanya.
“Ya udahlah, ngga usah dibahas dulu. Kita harus tahu dulu apa yang terjadi dengan Mili.”
Kucari Mili ke asrama yang disediakan untuk kami. Setelah dipikirkan kembali, Mili memang agak berubah akhir-akhir ini.
"Yuki? Akhirnya aku menemukan mu..."
"Kamu kuliah di sini Ki?" tanyaku pada Zaki.
Dia mengangguk, wajahnya tampak sangat cerah. Dia tampak lebih dewasa dari terakhir yang aku lihat.
"Kamu kenapa ke sini?" tanyaku, dia sedang berada di asrama wanita. Aku sudah berpisah dengan Anggi saat masuk gerbang asrama ini.
"Aku sengaja mencari kamu.. Aku mendapat kabar anak-anak Unand jurusan kamu akan ke sini... Bahkan aku sengaja tidak pulang dulu, menunggu kamu di sini .."
"Kenapa kamu tidak pulang saja? Kan lagi liburan semester juga .." ucapku.
"Yaah.. bisa jadi penghematan juga siih.. Lagian semester ini liburnya tidak terlalu lama. Jadi aku seneng banget dapat kabar kamu ke sini."
"Hmmm??"
"Kamu mau aku temani jalan-jalan keliling sini nggak?" ajaknya
"Tapi....hmmm..." rasanya masih sungkan untuk jalan berduaan dengannya.
"Ayooo. kita jalan-jalan dulu.. Kesempatan kamu untuk ke sini kan nggak datang seribu kali lho?"
"Iya siiihh..." kugaruk pelipis yang bingung menghadapi situasi ini.
"Boleh aku ajak kawan-kawan yang lain?"
Dia tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya aku ingin kita jalan berdua aja sih.. Tapi kalau kamu ajak kawan-kawan kamu, aku tak keberatan. Mungkin mereka akan seneng juga kalau diajak jalan-jalan keliling kota ini.. Ini kesempatan yang langka bukan?"
Aku mengangguk, senang. Ternyata enak juga ada kenalan di sini, meski itu seorang mantan.
"Kamu tunggu di sini dulu ya? Aku ajak kawan-kawan yang mau ikut dulu..."
"Baiklah.. aku duduk di sana dulu ya?" ucap COwok manis mirip oppa-oppa Korea itu
Lalu segera kulangkahkan kaki menuju kamar. Kutemui Mili tengah meringkuk di atas dipan.
"Mili.. Mili... Kamu mau ikut ngga?" tanyaku dengan penuh semangat.
"Kemana?" tanyanya tidak semangat.
"Keliling kota..." jawabku dengan penuh semangat.
"Dengan siapa.." dia masih mager tak semangat.
" Dengan kawanku dari Padang juga. Ternyata dia kuliah di sini.."
"Kamu banyak kawan ya?" nadanya masih kusut terdengar di telingaku.
"Ayoo.. banguuun.." aku tarik dan dia duduk dengan malas . "Ayooo.. langka banget moment kayak gini..." ucapku penuh semangat.
"Sekarang kamu udah semangat aja ya? Mana kesedihan mu yang kemarin??" ucapan Mili barusan seperti sebuah tembakan dahsyat yang tepat menusuk ke jantung..
"Kamu kenapa Mili?" aku merasakan ada sebuah kekecewaan besar dari Mili terhadap ku.
__ADS_1
"Nanti saja kita bicarakan. Aku siap-siap dulu.." dia bangkit dengan malas, dan Chika muncul tiba-tiba.
"Kalian mau kemana?" tanyanya.
"Kamu mau ikut keliling kota nggak?" tanyaku.
"Waaahh.. mau..mau..." soraknya. "Dengan siapa? Kita aja?"
"Iya, kita-kita aja. Nanti ditemenin sama kawanku yang dari Padang. Kebetulan dia kuliah di sini."
"Waahh.. aku siap-siap dulu..."
"Iya, buruan.. Kasian orangnya menunggu lama.."
"Aku ajak yang lain boleh?"
Hmmm...mungkin boleh ya, pikirku. "Iya,. ayok ajak aja sekalian..." kataku.
Jadinya Chika mengajak kawan-kawan lewat grub perjalanan ini. Mungkin Akel.. eeeh.. Harry juga membacanya.
[Hellloow epribadeh.. Kita jalan-jalan keliling Semarang yuk.. Yang mau ikut siap-siap dalam waktu 30 menit...]
begitulah, jadi heboh seketika grub, pontang panting untuk bersiap-siap.
Aku agak sungkan pada Zaki, meminta kawan-kawan langsung ke depan. Aku mau menemani Zaki dulu. Kasihan dia menunggu sendirian.
Kutemui Zaki yang tengah asyik berselancar di dunia Maya.
"Ehemm.." tampak dia melirik ke arahku. Ponselnya langsung di simpan dan tersenyum dengan mata terpicing kepadaku.
"Lama ya menunggu?"
"Iya, nggak apa. Aku bawa nunggu sambil main game aja.." dia melirik di sekitar ku tak ada yang lain. Tepatnya belum muncul..
"Katanya mengajak teman-teman? Kalau kita berdua kayak gini aja aku malah lebih senang..."
"Mereka sedang bersiap-siap..." lalu tampak wajahnya sedikit kecewa, lalu langsung kembali seperti biasa.
"Kayaknya yang ikut rame lhooh..." tampak di wajahnya semburat ketegangan.
Dan akhirnya kawan-kawanku muncul.. itu tidak satu atau dua orang, namun sangat ramai..
Ekspresi tertegun melihat anggota kami yang sangat banyak.
Agak sungkan aku bertanya lagi, "Gimana Ki? Boleh kami ikut sebanyak ini?"
Dia menelan saliva, dan mengangguk meskipun terlihat keberatan.
"Hallo..." sapa mereka beramai-ramai.
"Ini temenku dari Padang juga.. Dia akan menemani kita keliling kota.. Benarkan Zaki?"
Dia mengangguk, "Nanti kita pesan taksi online aja ya. Kita anggap satu mobil ada 4 atau 5 orang. Jadi kita pesan kira-kira.." tengah berhitung.. "Hmm, sepertinya kita pesan delapan mobil.."
Wah.. ramai sekali yang ikut. Pasti Zaki kelimpungan, tapi yang ikut ini orang-orang udah dewasa semua kok. Jadi tak perlu dia terlalu bingung juga.
Lalu taksi pesanan kami datang, dan tempat yang kami tuju pertama kali adalah tempat yang terkenal sangat angker. Yakni Lawang Sewu.
Berada di tempat ini membuat kami bener-bener merinding, aku takut memilih tidak ikut masuk. Aku dan Mili memilih menunggu di luar. Sedangkan yang lain mencoba uji adrenalin masuk ke dalam sana.
"Kenapa tidak ikut?" tanya Zaki. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kamu takut?"
"Iya.. sedikit.." ujarku kikuk.
"Ayo ikut, biar aku temani..." tawarnya. Aku kembali menggeleng, Mili hanya diam memerhatikan kami.
"Ayo ikut..." dia mencoba menarik ku..
Dengan langkah ragu dan kaki yang berat, akhirnya aku coba. Mili jadi ikutan masuk. Kami berdua saling berangkulan, meski suasa hati kami sama-sama belum nyaman.
Zaki berjalan di sebelahku, aku masih sibuk bergandengan dengan Mili. Kami merasa seakan ada yang terus mengikuti langkah kami. Terdengar suara benda yang jatuh. Aku ketakutan luar biasa berlari kembali keluar. Membuat Mili dan Zaki mengikutiku sampai keluar.
"Aku takut..aku takut.. aku nggak mau..." rengek ku. Mili hanya terlihat kesal, dengan kemanjaanku kali ini.
"ya udah.. kita tunggu saja kawan-kawan yang di dalam selesai. Sayang sekali udah di sini nggak mencoba ini..."
"Biar lah Ki.. aku takut . nanti tiba-tiba aku serangan jantung gimana?"
"Ha-ha-ha, sumpah.. lucu banget liat kamu kayak gini..." tawa Zaki. sementara Mili masih diam memerhatikan kami.
"Saat kita bersama dulu, belum pernah aku melihat kamu begini.. Yang ada kamu banyak diam dan sibuk dengan pikiran mu sendiri..." tambah Zaki.
"Apa baru saja terjadi sesuatu yang menarik?" tanyanya lagi.
"Maksud bersama ini bagaiman?" tanya Mili tiba-tiba.
"emmm..." aku bingung jelasinnya. Soalnya baru beberapa waktu lalu masalah berkaitan dengan Akel mencuat di hadapannya.
"Sebenarnya, kami dulu pernah pacaran.." timpal Zaki.
"Jadi kalian pernah pacaran... panteeesss..." jawab Mili sembari membuang muka.
"Jadi ceritanya kami ganggu kencan kalian ni?" tutur Mili sinis.
"Kok kamu ngomong kayak gitu sih?" tanyaku pada Mili. Kembali dia tak. mengacuhkanku. Aku jadi ingat ekspresi yang sama seperti Feli dulu. Apa dia menyukai Akel? Sejak dia tahu Harry itu Akel, dia mulai dingin terhadapku.
Setelah selesai bermain di Lawang Sewu, Zaki mengajak kami ke Pecinan di kota ini. Aku sempatkan berfoto di sini.a
Walau sedikit kucel, yang penting ada kenangan pernah ke sini.
Setelah itu kami pulang, karena malam semakin larut.
__ADS_1