Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
bab 24 Pangeran Berkacamata


__ADS_3

“Eh… ehmmm”


“Lama nunggunya?” menyerahkan bungkusan yang ku pesan tadi.


“Lupakan saja masalah yang tadi!”


“Eh… nggak juga, kamu cepet kok. Hemmm… mudah-mudahan bisa ku lupakan. Makasih ya… makan bareng yuk!?”


“Di sini?”


“Ya iya lah…? Masa di tengah jalan sana? Gimana?”


“Emang boleh?”


“Tentu saja boleh… aku malas makan sendirian. Tapi… kalau ada temen kos yang nitip sama kamu… ya gimana lagi?” ku serahkan uang yang tadi.


“Nanti aja! Kalau gitu aku makan di sini saja”


Kami makan berdua di atas karpet, dia juga membeli lotek yang sama. Lotek sebrang tempat kerjaku memang terkenal dengan kelezatannya dan pas untuk kantong mahasiswa. Aku suka pesen yang pedes dan itu menggugah selera. Tapi… kejadian tadi… membuatku tak merasakan kelezatan lotek ini, dan terasa hambar di lidah.


“Eh, abisin donk!”


“Nggak berselera” lalu ku mainin kentang dalam campuran lotek itu “mungkin karena kurang pedes” jawabku asal.


“Kurang pedes? Masa sih?”


“Menurutku kurang pedes”


“Tadi aku minta ‘super pedes.’ Ku lihat yang jual masukin cabe rawitnya banyak banget, ” tetap dengan dengan wajah yang datar.

__ADS_1


“Kalau nggak percaya, coba aja!!!”


Dia menyicip sedikit, dan itu sudah membuatnya berteriak “Pedes pisan ini mah? Kok kayak gini dibilang nggak pedes?” dia langsung menenggak minuman dingin miliknya, aku masih tercenung barusan… Tadi apa yang dia bilang? Ada aksen-aksen yang pernah kudengar dan kuhafal.


“Pedes tahu?” oh… mungkin perasaanku aja?


“Masa ginian kamu bilang pedas?” aku jadi penasaran dengan lotek miliknya “ku coba punya mu ya?” dia tak menjawab, namun membiarkanku menyendok miliknya. Saat lotek itu masuk ke mulutku, aku terkejut dengan rasanya “manis banget?” serasa langsung ditelan saja.


Oh iya…ya? Diakan pulang kampungnya naik pesawat, berarti bukan orang Minang


“Yang kayak gini, kamu suka ya Kel?” dia tak menjawab dan kembali melahap makanan mirip gado-gado itu. “


Emang kamu asli mana sih? Doyan yang manis gitu?”


“Buruan makan! Kalau nggak habis, nanti ku minta ganti tiga kali lipat”


“Hey… aku nanya kampungmu di mana? Jawab donk!”


Uh… nanya kampungnya di mana aja susah? Apalagi nanya yang lain padanya? Di luar terdengar suara tawa, mungkin orang yang mau beli pulsa dan langsung ku intip.


Ternyata itu Feli dan Chesi “Haai”


“Helow… Yukiii…”


“Helow… Helow…” mereka langsung masuk dari celah etalase, tampaklah oleh mereka seorang pria berkacamata sedang asyik menyuap makanan di hadapanku. Heran? dia cuek aja? Lalu mereka memberi aba-aba agar aku segera mendekat.


“Siapa tuh?” bisik Chesi menggodaku.


“Temen”

__ADS_1


“Temen apa demen?” lalu meledak tawa mereka berdua.


Dan si kacamata itu memperhatikan kami, lalu menganggukkan kepala yang bisa diartikan “mari makan…” temen-temen ku menjawab dengan anggukan “lanjut aja!” lalu Akel menatapku, mungkin bertanya “siapa mereka?”


“Kel… sini!!!”


Dia langsung menghentikan makan dan bangkit mendekati kita, pertama dia menatap aku bingung.


“Kenalkan… ini temen-temen deketku. Yang ini namanya Feli” Akel menjabat tangan Feli “dan yang ini namanya Chesi” lalu menjabat tangan Chesi.


“Akel”


“Eh… kami ganggu kalian ya?” goda Chesi terkekeh.


“Eh… apaan sih kalian?” Kubesarkan mata padanya, bikin malu aja.


“Oh… enggak kok. Ya udah… temen-temennya Yukita udah dateng, kalau gitu aku balik dulu ya?”


“Eh… tunggu dulu!” aku berlari kecil menuju tempat tas berada “tadi berapa?” ku serahkan selembar uang. Rencananya ku berikan saja, sekalian upah jalannya.


“Nggak usah! Simpen aja uangnya! Maaf. Membuat kiosnya jadi berantakan.”


“Ayo ambil!!!”


“Nggak usah. Feli, Chesi… aku balik dulu ya?”


“Kok buru-buru banget?” goda Feli.


“Enggak… ini udah dari tadi. Kalau gitu, udah dulu ya” menganggukan kepala pamit dan pergi.

__ADS_1


Setelah bayangan Akel menghilang


“Siapa pengeran berkacamata tadi?” kembali Chesi menggodaku.


__ADS_2