
"Waaau, sempit sekali dunia ini, sampai berjumpa pasangan sialan ini di sini?"
Mata kami berdua langsung menoleh ke orang yang tiba-tiba datang dengan sambutan yang sangat baik. Melihat dia, aku langsung bendekap melindungi istriku ini. Kabar dia tak pernah kudengar lagi semenjak terakhir dia keluar dari penjara.
"Haha, ternyata kalian masih bersama?" Sungguh tidak sopan, dia menatap istriku lekat-lekat dengan wajahnya.
Mata Yukita membulat dan membesar. Dia mulai terlihat cemas, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa Sayang? Apa kau sudah mengingat semua di antara kita?" Dia semakin mendekatkan wajahnya.
Aku dorong kasar agar dia menjauh. "Enyah kau!"
"Haha ... Sayang, lihat aku dong? Apa kamu masing mengingatku?"
Yukita membuka kembali telapak tangannya tadi. Dia memukul kepala pria kurang ajar itu dengan sendok yang tengah dipegangnya. "Kau orang jahat! Pergi!" ucapnya.
"Kenapa kamu bilang aku jahat? Apa kamu sudah mengingat semua tentang kita?"
Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menarik Yukita meninggalkan warung ini. Makanan kami masih bersisa sedikit lagi. Menurutku makanan yang sudah masuk tadi, cukup membuat perut kami merasa nyaman.
Aku rangkul istriku yang terus melihat lelaki itu dengan wajah ketakutan. Pria itu kembali mendekati kami. Dia memperhatikan cincin bewarna putih di jemari kami. Kami tengah berdiri di meja kasir.
"Kalian sudah menikah ternyata?" ucapnya dengan nada dingin.
Tanpa perlu memikirkan jawaban, aku tarik istriku dan membiarkan dia menebak apa yang tengah terjadi. Yukita mengikuti sambil merangkulku, melupakan rasa malunya seperti saat pagi tadi.
"Jangan takut Sayang. Ada Aa di sini untuk selalu menjagamu." Ku ajak ke tempat dimana mobil sewaan kami berdiri.
"Oooh, udah punya mobil juga? Kamu hebat! Menggaet semua pria kaya! Ternyata sifatmu tak berubah semenjak dulu." ucap laki-laki brengsek itu yang terus mengusik kami.
"Aa, dia itu siapa? Kenapa kepala Yuki menjadi sakit setelah bertemu dengan dia? Apakah dia orang yang jahat kepada Yuki?"
Aku hanya bisa mengacak rambutnya. Lalu mengajaknya pergi meninggalkan tempat ini. Tapi Yukita menahan langkah kami untuk terus lanjut.
"Cerita dulu Aa! Yuki ingin tahu. Yuki bukan anak kecil lagi. Yuki udah dua puluh dua tahun."
__ADS_1
"Kalau mau tanya semuanya, tanya langsung pada orangnya dong! Tanya langsung kepadaku!" Tiba-tiba si keparat itu ikut menyela.
"Kamu siapa? Apa Yuki mengenalmu?"
"Imut sekali cara bicaramu saat ini Sayang. Membuatku semakin gemas kepadamu! Apa kamu bener-bener sudah melupakanku?" ucap si keparat itu.
"Soalnya Yuki dulu kehilangan ingatan. Tapi ... tapi ... aaaahhkk!" Dia mengacak rambutnya. Kedua tangannya terlihat menggenggam kepalanya yang terlihat sangat kesakitan.
Aku peluk Yukita, tampak laki-laki itu tersenyum sinis terhadapku. "Ayo kita kembali saja Sayang. Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan dia. Cukup dengarkan apa yang aku katakan!"
"Aku ini pacarmu Sayang!" ucapnya dengan lantang. "Dia telah merebutmu yang nyatanya telah jadi pacarku! Tapi kamu seperti terbuai oleh wajahnya yang menyebalkan itu! Bahkan, kamu lebih memilih dia dari pada aku!"
"Diam kau brengsek!"
"Kenapa? Lu tak bisa menyangkalnya?"
"Beneran Aa?" tanya Yukita.
"Kamu tak perlu mendengar ucapan dia!" Yukita mengangguk. Lalu menggenggam tanganku dengan erat.
"Jangan kau ganggu dia lagi! Gue tidak akan membiarkannya! Bagaimana pun gue akan melindungi istri gue!"
"Jadi benar kalian sudah menikah?" Senyuman licik kembali menghiasi bibirnya.
"Kami sudah menikah, dan dia adalah orang yang akan gue lindungi hingga titik darah dalam nadi gue habis. Tak akan gue biarkan lu menyakitinya untuk kedua kali! Cam kan itu!"
Aldi melipat kedua tangan di depan dadanya. Masih tersenyum dengan licik, dia masih merasa di atas awan. "Kita lihat aja nanti! Gue gak akan membiarkan kalian bahagia! Gue akan terus mengikuti kemana pun kalian pergi!"
Aku ajak Yukita masuk ke dalam mobil. Tubuh Yukita terasa bergetar. Dia ketakutan. Kembali mengintip pria itu yang seperti terus mengawasi kami di dalam mobil ini. Aku berikan air mineral, "Minum lah!"
Air di dalam botol itu terlihat terus bergerak di dalam genggamannya. Dia belum mampu menguasai diri. Yukita dalam ketakutan yang luar biasa. Aku tarik, dan kupeluk.
"Tenang lah Sayang! Kamu jangan memikir kan dia. Dia hanya segelintir orang yang tak perlu kamu ingat. Aa akan selalu menjagamu!"
Dia seperti sesegukan, mulai sedikit tenang. Aku bantu memberikannya minum. Dia minum beberapa teguk.
__ADS_1
"Kamu lupakan sajak kejadian hari ini ya?"
"Yuki ... Yuki ... Yuki kayak mengingat sesuatu Aa. Yuki bawa motor ... Ta-tapi Yuki ditabrak ... Yuki, nggak ingat lagi." ucapnya terbata-bata.
"Tenang lah. Aa tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi padamu. Yang perlu kamu ingat bahwa, jika kamu bertemu denan dia suatu saat nanti, kamu harus menghindar. Jangan biarkan dia mendekatimu jika aku tidak ada di dekatmu!"
Istriku kembali mengangguk. "Lagian kamu tidak perlu cemas. Setelah ini kita akan tinggal di Bandung. Kita tidak akan bertemu dengannya lagi." Kuusap punggungnya, cukup lama kami dalam keadaan ini.
"Sudah yuk! Kita kembali ke hotel saja untuk istirahat!" Dia mengangguk.
Rencana mengunjungi destinasi lainnya kami batalkan. Kondisi istriku terlihat sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Dia hanya merenung tanpa banyak bicara seperti biasanya. Sepertinya dia benar-benar mengalami trouma psikis karena ulah si brengsek itu.
Sampai di hotel, aku suruh dia mandi lalu beristirahat. Dia terlihat benar-benar sangat kelelahan. Saat dia tidur, dengan segera kuhubungi Papa.
"Apa benar Papa yang mengirim uang ke rekeningku?"
"Iya, anggap saja itu hadiah pernikahan dari Papa."
"Nanti aku akan menggantinya Pa, di saat aku sudah bisa mendapatkan uang dengan jerih payahku sendiri.
"*Kamu jangan sungkan begitu. Bagaimana pun juga, kamu kan putra Papa. Tidak mungkin kami nembiarkanmu terlunta-lunta dengan istrimu."
"Papa dulu juga begitu. Menikah di usia muda. Eyangmu membantu Papa hingga kami bisa berdiri di kaki kami sendiri. Jadi, hal sama tentu juga berlaku padamu. Kamu tidak perlu mengganti apa pun. Ini adalah pemberian dari orang tua untuk anak-anaknya*."
"Tapi aku merasa tidak enak. Sudah berkeluarga masih saja menyusahkan orang tua."
"Tak usah dipikirkan! Anggap seperti biasa Papa mengirim jatah bulanan ke rekening kamu. Nanti kamu kerja dengan Papa. Jadi pengacara di perusahaan Papa."
"Aku akan mencoba sendiri dulu Pa. Jika sampai uang yang Papa berikan itu habis, namun aku belum mendapat pekerjaan, mungkin aku akan bekerja pada Papa. Semoga saja aku bisa mendapat pekerjaan dengan segera."
"Aaaamiiin. Gimana semalam? Kamu berhasil membobol gawang?"
Maka terjadi lah pembicaraan absurb antara dua pria dewasa.
...*bersambung*...
__ADS_1