Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 38 butuh Stevan


__ADS_3

Terdengar suara agak gaduh dari luar, mungkin ada yang datang. Pintu dibuka, ternyata dokter masuk dengan beberapa perawat.


“Anda saiapa?” tanya dokter tersebut.


“Saya temannya dok.”


“Baiklah, Anda boleh menunggu di luar dulu, karena kami akan memeriksa kondisi pasien kembali.”


“Baik dok,” saya pun keluar dari ruangan yang penuh dengan peralatan itu. Semua yang ada membisu, menunggu hasil terbaru kondisi Yukita. Setelah beberapa waktu dokter keluar, “Wali dari pasien Yukita Marsya?” ayahnya mendekati dokter dan aku mengikuti berdiri di dekat dokter, ingin mengetahui kondisi Yukita..


Dokter melirikku sejenak lalu fokus menjelaskan ke ayah Yukita.


“Kondisi Yukita dapat dibilang masih kritis. Kami berharap, kondisinya meningkat dalam waktu dekat ini. karena jika masih belum juga membaik, kami takut statusnya berubah menjadi koma.” Apa? Yukita bisa koma? Harry... kenapa kamu bodoh begini? Ayah Yukita menegang, begitu juga ibunya.


“Dan jika dia sadar, ada beberapa kondisi yang mungkin akan terjadi. saya berharap ini hanya diagnosa yang awal, tapi karena benturan di kepalany yang cukup keras membuat beberapa kemungkinan buruk terjadi pada pasien Yukita saat dia sadar nanti.”


“Kemungkinan apakah itu dokter?” tanya ayah Yukita dan aku masih menyimak.


“Kemungkinan indera penglihatan dan pendengarannya akan menurun, atau mungkin dia akan mengalami gegar otak.” Seketika semua wajah yang menyimak menjadi tegang.


“Astaghfirullah al azim,” pekik ibu nya tak percaya sembari tersedu. Dan aku lebih tak percaya lagi, mengapa semua kemungkinan yang ada itu buruk? Apa tak ada kemungkinan yang baik? Harry? Apa yang kau lakukan pada orang yang kau cintai? Setelah mendapatkannya utuh untukmu seolah kau sia-siakan? Apakah ini hukuman untukku Tuhan?


“Ini hanya baru dugaan dan kemungkinan yang terjadi. saya berharap, pasien bisa bangun, sehat seperti sedia kala. Mari kita semua berdoa, agar Allah memberikan hadiah yang terbaik untuk ujian ini dengan mengembalikannnya ke kondisi sedia kala.”


Ayah Yukita tertunduk sedih, aku merasa tak percaya dan dokter menepuk pundak ayah Yukita dan berlalu meninggalkan kami dalam kondisi pedih di dalam hati.


Semua bisu sibuk dengan pikiran masing-masing di tengah heningnya malam. Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, dan semua dalam diam membisu. Tak ada yang bisa memicingkan mata karena memikirkan informasi diagnosa dari dokter tadi. Yang tersisa menunggu di rumah sakit ini hanya keluarga Yukita dan aku. Kawan-kawannya sudah pulang beberapa waktu setelah aku sampai di sini. Yaah, semuanya lelah. Tak kecuali aku yang langsung menunggu di sini sejak dari Bandung sore tadi. Tapi lelah ini tak ada artinya sebelum melihat gadis yang kucinta membuka matanya. Terlintas untuk bermunajat pada-Nya, aku ingin berkeluh kesah pada-Nya, ingin kembali pada-Nya.. karena hanya pada-Nya, tempat hati ini mengadu.

__ADS_1


***


Usai sholat subuh, kumasuki ruang dimana Yukita terbujur tak berdaya. Gemeritik bunyi mesin menghitung setiap detak jantungnya. Suara desah napas yang dibantu oksigen. Tetes demi tetes darah dan cairan infus masuk melalui nadinya. Kuraih kembali jemari dan menggenggam tangannya yang lemas. Jika saja aku bisa membalikkan keadaan, mengembalikan waktu yang berlalu, biar aku saja yang menggantikanmu merasakan semua sakit itu. Cinta, bangunlah... tak lelahkah dirimu tidur di sepanjang waktu? Jika kamu putri tidur, izinkan aku untuk membangunkanmu dengan sekecup cinta yang kupunya.


Tiba-tiba aku tersentak, jemari dalam genggamanku bergerak sedikit demi sedikit. Ternyata aku ketiduran entah berapa saat. “Yukita? Yukita?” sebuah semangat tiba-tiba terpacu, dia mulai sadar. Langsung aku keluar mengabarkan pada orang tua nya dan segera mencari dokter untuk memeriksa Yukita kembali. Dokter dan beberapa perawat masuk ke ruang ICU dan kami semua tak sabar menunggu kabar dari mereka.


Kali ini dokter cukup lama berada di dalam, tapi kami tidak bisa untuk menengok apa yang terjadi di dalam sana. Lebih kurang setengah jam kemudian, dokter keluar dengan wajah yang cukup serius.


“Bagaiamana dokter, kondisi terbaru anak saya?” tanya ayah Yukita.


“Beberapa saat dia mengalami kejang karena tiba-tiba tekanan darahnya naik dengan drastis. Namun setelah ditangani, kondisinya berangsur normal, semoga akan semakin baik. Sementara pasien tidak boleh ditemani dulu, mari bersama kita berdoa agar dia segera siuman.”


“Terima kasih dokter.” Dokter pamit pergi, dan kembali meninggalkan kami yang masih harap-harap cemas karena kondisinya yang tak kunjung membaik juga. Sebenarnya di dalam otak bertanya, apa yang terjadi? kenapa bisa separah ini? ingin bertanya pada keluarganya, namun semuanya pasti tidak akan memikirkan hal itu, karena sudah penuh mengharapkan Yukita segera sadar. Ibunya sudah pucat karena lelah, begitu juga kakak dan ayahnya.


“Bapak dan Ibuk, mungkin lebih baik istirahat dulu di rumah. Biar aku yang menemani Yukita di sini. Bapak dan Ibu terlihat sudah sangat lelah.”


“Bagaimana kami bisa istirahat Nak Akel, sedangkan anak kami belum juga sadar,” tolak ibunya.


“Benar kata dia Bu, lebih baik ibu dan ayah istirahat dulu. Dari pada ibu dan ayah ikutan sakit, aku bisa bingung,” sambung kakaknya.


Ibunya diam cukup panjang entah memikirkan sesuatu. “Baiklah, mari kita pulang dulu. Nanti malam kita balik lagi.” Ibunya segera mengumpulkan barang-barang dan dimasukan ke dalam tas.


“Nak Akel, ibu izin sebentar ya.”


“Jangan sungkan Bu.. Besok pun atau kapan kondisi ibu sudah kembali bisa ke sini lagi. Jangan terlalu dipaksakan ya Bu..”


“Nak Akel, terimakasih ya sudah membantu kami menjaga Yukita,” ayahnya menepuk pundakku. Aku mengangguk, menyambut tas yang dipegang ibunya dan mengantarkan mereka hingga memesankan taksi online untuk pulang.

__ADS_1


Setelah itu aku kembali dan terus menunggu, duduk dengan sejuta rasa bersalah. Mencoba mengintip, ternyata masih ada perawat yang terus mengecek kondisinya dan menyuruhku keluar. Kembali duduk dan hape bergetar, Remon meneleponku, “Assalamualaikum Mon?”


“Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh kawan, lesu sekali kedengarannya kawan?”


“Hmm, iya.. ini lagi nungguin Yukita dari semalam. Ada kabar apa ni Mon?”


“Saya dapat kabar burung, ini sih rumornya beredar dari kawan-kawan politeknik. Katanya ada yang lihat, korban kecelakaan kemarin tu dikejar sama seseorang. Ada yang melihat korban bertengkar dengan seorang pria, lalu korban tu kabur dengan motor. Nah yang mengejarnya ini pakai mobil, entah sengaja atau tidak, si korban motornya yang lajunya lumayan cepat oleng, dan dia terlempar dan kepalanya terbentur dengan keras.”


“Jadi ini siapa yang kecelakaan?”


“Kemungkinan si Yukita kawan?”


Degh...seketika panas membara, “Siapa orang yang membuat Yukita celaka Mon?”


“Nah itu, saya juga kurang tahu. Ini beredar dari kawan-kawan kampus yang kebetulan melihat kejadian tersebut.”


“Apa kamu tahu siapa orangnya yang melihat kejadian itu?”


“Tunggu ya, saya akan mencari tahu. Kalau sudah dapat kabar, akan saya hubungi lagi.


“Terimakasih Bro...”


“Sama-sama kawan, assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh.”


“Walaikumsalam.”


Hmmm...ada yang mau main-main ternyata. Langsung kuhubungi sepupu buleku yang kebetulan bisa ngehacker lewat CCTV.. Aku akan minta tolong padanya, mengecek CCTV area kecelakaan Yukita. Sepupu bule yang bernama Stevan Rusdi, yang keluargaku bilang diam-diam bekerja di sebuah agen rahasia.

__ADS_1


************************************************


wkwkwkwk....maafkeun mengandung unsur iklan... Stevan itu salah satu tokoh hacker di Detektif Muda 😂


__ADS_2