Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 5


__ADS_3

“Jujur Ry! Gue ingin nonjok lu!” ku hanya membesarkan mata. “Lu itu ganteng Bro! Kenapa bisa jatuh cinta begitu saja dengan siapa itu..Yuk..Yuki..itu? padahal lu sendiri tak tahu dia seperti apa. Lihat! Gadis-gadis yang suka sama elu cantik-cantik tapi lu sia-siain! Dasar begok!”


“Ah! Ga! Kenapa malah ngatain gue?”


“Itu hanya pelampiasan gue atas kebodohan lu. Tapi banyak hal yang membuat gue salut pada Yuki itu. Sepertinya dia bisa mengeluarkan sisi romantis lu yang tak pernah gue lihat selama ini.”


“Jujur, gue merasa dia beda dengan gadis-gadis di sini yang gue kenal. Tapi kenapa? Ujung-ujungnya sama saja? Padahal gue sudah siap menerimanya apa adanya Ga, jika suatu saat kami punya kesempatan berjumpa. Atau mungkin bersatu.”


“Ry, lu tahu ngga? Yang dibutuhkan wanita itu perhatian dari seorang laki-laki?”


“Ya, tahu lah! Kurang perhatian apalagi gue coba?”


“Tapi tidak hanya itu Ry, wanita juga butuh kehadiran lelaki yang dicintainya, apalagi jika dia berada di saat yang sulit. Nah, mungkin di bagian ini lu tidak bisa memenuhi kriteria pasangan sesungguhnya.”


“Iya, gue tahu Ga. Tapi bisa saja gue ke sana untuk menemuinya bukan?” tiba-tiba pesan masuk. Berharap itu dari Yukita. Ternyata emang dari dia, dengan semangat kubaca. Apa? Dia minta putus setelah skian waktu gantungin aku tak jelas gini?


“Kenapa Bro?”


“Dia mutusin gue Ga! Hah..” Dirga menepuk pundakku tanda prihatin. “Mungkin begini lebih baik, daripada menggantung tak jelas seperti beberapa waktu lalu.”


“Lu yakin baik-baik saja?”


“Lu boleh pulang Ga!” mungkin Dirga paham, dia pun pamit pulang. Kunyalakan tivi, mainkan pees. Pikiran entah kemana, akhirnya kalah terus. Membuat makin kesal, akhirnya kulempar stick peesnya. Aaah, semua wanita itu bulshit! Kenapa di saat semua hati sudah jadi miliknya, tiba-tiba dia mencampakkan ku?


***


__ADS_1



Sudah sekian bulan berlalu semenjak diputuskan. Tapi rasa sakit itu masih belum juga hilang. Akhir-akhir ini aku stalking lewat sosmed, hahah..kurang kerjaan sekali?


Tetapi akhir-akhir ini dia (Yukita) sering aktif di jejaring sosial. Melihat wajahnya, entah itu dia atau bukan, kembali membuatku jatuh cinta.


Sebenarnya aku bukan tipikal suka menggunakan sosmed, jadi tak ada info pribadi apalagi foto. Males banget mampangin foto dilihat semua orang. Tapi melihat foto Yukita, yang seperti anak kecil bersama teman-temannya menjadi kerjaan yang menyakitkan sekaligus menyenangkan.


Suaranya yang ceria kembali teringat, dan dipasukan dengan wajahnya yang juga sangat ceria. Ku stalking lagi foto-foto lainnya, tidak ada satu pun berdua dengan lelaki. Apakah itu berarti dia tidak memiliki pacar? Kenapa dia memutuskan hubungan kami? Apakah benar kata Dirga? Karena aku tak ada di sampingnya.


Hampir semua statusnya tentang puisi yang maknanya tak kupahami. Kutatap dalam-dalam fotonya, senyumannya sangat cantik, memiliki lesung pipi saat dia tersenyum. Wajahnya masih terlihat seperti anak sekolahan di sini. Banyak sekali komentar setiap dia posting foto. Tapi tak tahu juga ini hasil editan kamera apa bukan.


Tapi sekali lagi aku jatuh cinta pada orang yang sama. Oh, Tuhan... izinkan aku untuk memilikinya hingga akhir. Izinkan aku untuk menjadi pelindung dan penjaganya hingga tua nanti.


“Broo, kenapa lihat hape sampai segitunya banget?” lalu dia merebut benda yang kupegang itu. “Cantik juga Bro? Gebetan baru?” lalu dia bolak-balikin halaman “Hah? Ini yang namanya Yukita itu?” menatapku untuk memastikannya.


“Wahaaha... ada yang ngenes nih.” Candanya.


“Gue ingin kembali padanya Ga.”


“Iya sih, kalau tahu Yukita itu ternyata secantik ini gue juga mau?” mendengar ucapannya itu rasanya langsung ingin menonjok dia, “Becanda kok Bro! Jangan masukin ke hati!” lalu dia memperhatikan semua foto di galery Yukita, “Dia sederhana, tapi aura cantiknya tetap keluar. Menurut gue tampak seperti anak SMP.” Mendengar komentarnya itu membuatku terkekeh. “Imut, ada lesung pipi.”


“Udah!” kurebut hape yang ada ditangannya itu “Nanti lu jatuh cinta beneran! Tambah saingan gue.”


“Hahaha, jadi lu beneran masih mengharapkannya.” Tapi pikiranku sudah melayang mungkin sampai ke tempatnya. Memikirkan cara agar bisa sampai ke sana.


“Siapa pacarnya sekarang?” Dirga membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


“Itulah, gue gak tahu.” Tiba-tiba Dirga memberi aba-aba menunjuk ke belakangku. Ku tengok ternyata Vonny berjalan ke arahku. Dia mahasiswa kampus ini juga, fakultas berbeda.


“Hai Ry? Sudah lama nunggu?” ooh, iya..aku ada janji karena dia maksa untuk ketemu terus.


“Mau kemana Neng? Cantik bener?” goda Dirga. Vonny hanya senyum salah tingkah.


Rasanya malas, tapi lumayanlah buat ngisi kekosongan hati. Sejak diputuskan Yukita, Vonny bagai pelarian pengisi kekosongan. Tapi tak mudah, tak sama, sama sekali tak ada rasa pada Vonny yang katanya cantik.


Vonny mengaku dia sudah tidak pernah lagi merokok, dan sudah tidak pernah ke arena bilyard lagi. Statusnya? Hingga saat ini kami belum pacaran, kejam memang.


“Ga, gue cabut dulu?”


“Vonny tunggu sebentar di sini ya? Gue ngomong sebentar dengan Hary.” Vonny mengangguk dengan manis dan kami meninggalkan dia beberapa meter, “Lu apaan sih Ry? Jangan main-main kayak gini! Kalau begini lu sama kayak pecundang playboy yang berserakan dimana-mana. Lu harus tegas! Jika lu tidak menyukainya, lu harus katakan padanya. Kalau lu benar mau deket dengan dia, jadikan dia pacar lu!” bisiknya padaku.


Ku berbalik dan hanya melambaikan tangan pada Dirga, tampak dia hanya menggelengkan kepala. Tapi otakku membenarkan apa barusan yang dikatakannya. Lelaki sejati tidak mempermainkan wanita. Aku berjalan, diikuti Vonny di samping. Kali ini ku ajak ke parkiran motor, tadi kebetulan bawa skuter ke kampus.


“Lho? Naik ini?” tanyanya tak percaya “Mobilnya mana?”


“Mau ikut nggak?” kuserahkan helm, dia sedikit enggan naik skuter vesva kesayanganku ini.


Walau sedikit ogah-ogahan, dia tetap memasang helmnya, “Mau kemana?”


“Ke mall yuk? Aku mau beli sepatu.” Haaaah, lagi-lagi belanja. Terakhir dia juga minta ditemenin belanja baju. Tiap saat, memakai yang baru saja?


“Waah, ternyata pakai ini lebih romantis Ry,” tiba-tida dia memelukku dari belakang. Risih, pikiranku menjadi kotor jika dia begini. Kucoba lepaskan kedua tangannya, lalu mungkin dia cemberut dan menarik tangannya sambil menyeletuk, “bukannya seneng?”


“Jangan macam-macam! Nanti kecelakaan!”

__ADS_1


__ADS_2