Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Bab 33 Berpikir menggunakan otak, bukan dengan hati


__ADS_3

Aku sudah janji pada Feli menemuinya di kampusnya. Aang masih bete padaku, Mili sedang sibuk dengan lomba menulis puisi tingkat mahasiswa sekota Padang di Taman Budaya, semoga saja sahabatku yang manis itu menang karena karyanya sangat bermutu, itu menurut orang-orang pecinta sastra sepertiku dan pecinta sastra lainnya.


Tak sedikit mahasiswa Hukum yang mencintai dunia sastra. Malahan sudah ada rencana Fakultas Hukum akan membuat organisasi mahasiswa pecinta sastra dan seni khusus fakultas hukum, so pasti aku akan ikut jika rencana itu benar-benar terwujud.


Dengan siapa aku ke Lubuk Begalung? Dari kampus ini, Lubeg sangatlah jauh. Kalau minta temen-temen lain, aku segen banget… yang biasa jadi penolongku adalah Anggi… tapi dia lagi bete padaku… hemmm… coba bujuk saja deh, kalau dia nggak mau nanti terpaksa berangkat sendiri saja. Dan langsung ku cari di mana Anggi berada.


“Ang… bisa anterin aku nggak?”


“Kemana?”


“Ke kampus di Lubeg…”


“Untuk bertemu buaya itu? Maaf Ki… Ang nggak bisa… lagi ada urusan…”


“Bukan ketemu dia Ang… tapi mau bertemu Feli. Aku sudah janji dengannya…” dia diam “kalau nggak bisa ya udah… aku berangkat sendiri saja”


“Naik apa?”


“Naik apa lagi kalau nggak naik angkot?”


“Kan jauh…”


“Udah tahu jauh… tapi kamu nggak mau nolong aku?”


“Bukannya nggak mau, tapi aku lagi ada urusan”


“Ya udahlah… aku berangkat sendiri…” setelah meninggalkannya beberapa langkah dia memanggilku.


“Kamu mau bertemu dengannya di sana kan?”


“Apa urusanmu? Kamu nggak akan menolongku” terus melangkah demi selangkah.

__ADS_1


“Waduh… segitunya? Ngambek ya?”


“Aku kan udah bilang, aku ke sana buat menemui Feli…”


“Bilang aja mau ketemu dengannya?”


“Apa perlu aku bersumpah di hadapanmu? Ya udah lah… kalau memang tak bisa ya nggak apa-apa” ujarku pasrah.


“Beneran nih?” aku hanya diam “Mau dianter?”


“Kamu kan lagi ada urusan?”


“Mau dianter nggak?”


Langsung ku kembali dan langsung menariknya, karena tak perlu dijawab lagi karena itulah yang ku nanti, hehe… Anggi… dia memang sahabatku… sampai di gerbang kampus langsung ku bilang Feli, dan Feli menyuruhku langsung masuk karena dia sedang berada di Convension Hall kampus itu karena ada pelatihan ESQ. Kami masuk, dan orang yang sama sekali tak ku harapkan muncul dan memanggilku.


“Yukita…”


“Mau ke mana nih?”


“Mau nyari temen”


Lalu dengan sombongnya Aldi berlagak di hadapan Anggi yang menurutku juga menyebalkan. Pasti Anggi sudah mengutuk di dalam hatinya.


“Bukannya untuk menemuiku? Kamu kangen pada ku kan?”


“Yee… ge-er banget…”


“Ya… nggak apakan ge-er sama pacar sendiri?” aku jadi semakin muak dengan ke sombongan yang begitu jelas di hadapan Anggi itu?


Mentang-mentang ini daerah kekuasaan nya ya? Atau mentang-mentang dia punya pacar yang lain? Emangnya kami peduli? Dan tampak olehku Feli melambaikan tangan menunjukkan keberadaanya.

__ADS_1


“Ang… itu Feli… ke sana yuk…” langsung ku duduk di boncengan motor Anggi.


“Eh… tunggu… biar aku yang nganterin ke tempat temenmu itu?”


“Nggak usah… itu wajah pacarmu udah kayak udang rebus menunggumu”


“Tapi…?”


“Ayo Ang…” lalu kami berlalu, dan terus ku perhatikan Aldi yang didekati oleh pacar nya dan tampak ngomel “Hahahaha…”


“Kenapa ketawa?”


“Hehe… lucu aja lihat dia dengan anak kecil itu”


Dan kami sampai di tempat Feli berdiri, lalu Feli menyerahkan semua bahan yang ku minta.


“Ki… udah dulu ya? Aku masih ada pelatihan nih”


“Ya udah… kami juga mau kembali ke kampus. Makasi ya… bahannya? Dah…”


Lalu kami kembali melewati dua orang tadi yang memperhatikan kami. Aku hanya melambaikan tangan pada Aldi.


“Katanya nggak ketemu dengan buaya congkak itu?”


“Mau gimana lagi Ang? Dia kuliah di sini, mau nggak mau pasti ketemu. Tapi melihat secara langsung, membuatku berpikir kembali dengan hubungan ini”


“Baguslah… mudah-mudahan kamu bisa memikirkan menggunakan otak, tak hanya menggunakan hati”


“Iya… iya…”


“Jangan iya… iya… melulu?”

__ADS_1


“Oke deh…” hahahaha


__ADS_2