Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 57 Ending book 1


__ADS_3

Alarm waktu subuh terus bernyanyi mengingatkanku untuk segera bangkit dari tempat tidur ini. Kucoba membuka kelopak mata yang masih berat bergelayut di pelupuknya. Aku merasakan seluruh tubuh keram dan pegal.


Memaksa mata untuk terbuka, meski masih ingin melanjutkan kembali ke dunia mimpi. Terus untuk mencoba untuk bangkit, melawan rasa malas dan kesakitan yang aku rasa saat ini.


Aku mencoba untuk bangkit, aah.. masa gini aja udah KO.. Masih dengan malas menyeret kaki yang juga merasakan ototnya mengeras seperti batu. Semua kuabaikan melanjutkan kewajiban utama sebagai umat muslim.


Usai sholat subuh, kata orang tidak boleh molor ya? Tapi mata luar biasa mengantuk. Ya udah, aku lanjutkan tidur. Sesekali tidak apa ya?


Sinar matahari tepat menerpa wajahku. Meski tirai belum dibuka, hangatnya hari ini telah membelaiku untuk segera bangkit dari kasur tanpa ranjang ini. Aduh.. encok.. tidak hanya itu, suara dari cacing-cacing di perutku tidak berhenti bernyanyi. Aku buka layar ponsel, dan ternyata waktu tengah menunjukkan pukul sepuluh lebih.


Aku bingung hari ini mau ngapain. Main ke rumah Yukita tiap hari boleh nggak ya? Biasanya, dahulu aku juga tidak punya kegiatan yang jelas. Namun setelah dekat lagi dengannya, aku bisa mengajaknya jalan-jalan tiap akhir pekan. Tetapi hari ini sangat terasa begitu sepi, begitu juga dengan hatiku.


Aku coba membuka android yang jarang sekali berbunyi akhir-akhir ini. Tiba-tiba aku teringat Dirga. Semenjak masalah beberapa waktu terakhir, aku belum menghubunginya dan dia pun mungkin sibuk tidak sempat menghubungiku juga, setelah segala pekerjaan yang tiba-tiba dialihkan kepadanya.


Aku mencoba untuk menghubunginya, hingga nada panggilan terakhir, panggilanku belum dijawabnya. Aku coba sekali lagi, ternyata masih belum dijawab juga. Barangkali saja dia sangat sibuk belakangan ini. Semoga semuanya baik-baik saja.


Setelah itu, aku cari kontak Hendri. Barangkali saja dia mengetahui kabar teman kami yang baru saja kehilangan ayah itu. Tidak lama dalam nada tunggu, teleponku langsung dijawab dengan gaya biasanya.


"Halo Brow.. tumben banget lu nelpon gua?"


"Lagi apa lu?"


"Ni lagi nyiapin berkas-berkas buat wisudaa.."


Waaah, mereka semua sudah memiliki gelar sarjana teknik. Sementara aku, masih harus menempuh tiga semester lebih lagi. Tiba-tiba ada perasaan iri memenuhi hatiku, memikirkan jika seandainya saja aku tetap kuliah di sana, mungkin saat ini aku sudah sibuk bekerja di bidang arus tinggi yang aku minati.


"Broo.. Bro.. Harry..." Hendri terus memanggilku, menyadarkan aku dari lamunan ini. Tiba-tiba aku kembali teringat, bahwa aku tidak boleh menyesali ini semua. Ini adalah keputusan yang aku pilih, dan aku merasa sudah cukup bahagia akan ini semua.


"Semoga semuanya berjalan dengam lancar ya Bro. Oh iya, gue sudah lama tidak mendengar kabar Dirga. Lu punya kabar tentang dia nggak?"


"Sialan lu, bukannya tanya kabar gue, malah tanya kabar orang lain ke gue..!"


"Haha, habisnya lu kan bisa lihat keadaan dia. Kalau keadaan lu gue denger secara langsung, sepertinya baik-baik saja kan?"


"Haha, iye gue baik-baik saja alhamdulillah. Kalau masalah Dirga, dia sekarang lagi sibuk banget. Mengejar perbaikan skripsi usai sidang kemarin, pulang-pulang bukannya istirahat, malah harus bekerja menggantikan kedudukan ayahnya."


"Mungkin jika semuanya telah selesai, dia akan sedikit lebih santai kali ya?" ucapku yang cukup prihatin dengan masalah yang dia alami. Dia pasti merasa lelah dan stress.


"Iya, kita doakan saja dia kuat menjalaninya. Tapi usai wisuda dia tidak perlu pusing lagi nyari kerjaan. Tinggal melanjutkan usaha yang telah ada. Sementara gue nanti usai wisuda malah pusing mesti nyari kerja dimana."


"Rezeki seseorang pasti telah ada yang mengatur. Lu yakin aja deh.."


"Gimana kabar lu sama cewek di sana?"


"Ekhem..hmm.. lu doakan saja semua baik-baik saja ya?"


"Ooh, tentu.. gue doakan kalian sampai menikah sekalian deeh. Udah jauh-jauh dicari kan.."


"Aaamiin. Ya udah, gue mau mandi dulu.."


"Haaaiisshh.. enak kali hidup lu, jam segini belum mandi." dia masih saja menyerocos. Padahal perutku ini beneran udah kelaparan.


"Udah ah, gue tutup ya.. bye.."


Langsung ku sambar handuk, mandi secepat kilat. Mencari sesuatu untuk mengisi perutku yang sudah tidak tahu malu bernyanyi kemana-mana. Jam sebelas, sudah tidak ada lagi warung sarapan, berganti mekarnya warung nasi. Memilih makan nasi walau lebih awal dari jam makan siang seharusnya.


Tiba-tiba aku teringat, sekarang di bioskop sedang tayang film spyderman terbaru. Apa aku ajak aja sekalian ya gadis kecil di usia dua puluh tahun nonton bareng? Hmm.. semoga saja dia mau aku ajak.


Usai makan pagi lewat waktu, makan siang belum waktunya itu, aku arahkan motor ini ke rumah yang biasa dia tuju. Rumah Yukita, sekarang dia lagi apa ya? Tanpa singgah kemana-mana, langsung berhenti tepat di depan rumahnya. Mataku memdapat kejutan baru lagi dari gadis ini.

__ADS_1


Dia tengan bermain kelereng dengan anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Bayangkan, dia yang dewasa main kelereng dengan anak-anak sepantaran usia tujuh atau delapan tahun? Menakjubkan bukan?


...



....


Saking asiknya main kelereng, membuat dia tak menyadari kehadiranku yang tengah memperhatikannya bermain.


"Hei.. hei.. ada Abang itu nengok kita main.." bisik salah satu dari teman bermain Yukita.


Lalu semua mata anak kecil itu memandangku, dan hanya bisa memberi senyuman kikuk pada anak-anak kecil itu. Jadinya hanya bisa menyurai rambutku, merasa tidak nyaman dengan kekehan anak kecil itu.



"Kak.. Kak..." salah satu sari anak kecil itu memanggil anak yang paling besar tengah menjentikkan kelerengnya.


Akhirnya setelah gilirannya usai, baru lah dia melirikku dengan cengiran khasnya.


"Pacar Kak Yuki datang.. pacar Kak Yuki datang.." bisik teman kecilnya yang lain.


Mata dan mulut gadis itu kembali membulat, "Pacar?" tanyanya langsung bangkit dari posisi jongkok. Melangkahkan kakinya satu per satu yang masih terseok ke arahku.


"Aa pacar Yuki ya?"


Aku hanya bisa mengulum tawa menjadi senyuman geli.


"Menurut Kamu?"


Lalu gadis itu melihat lagi ke arah teman-teman kecilnya, "Menurut kalian?" melanjutkan pertanyaanku kepada mereka.


"Kata Mama aku, Abang itu pacar Kak Yuki.." ucap salah satu dari mereka lagi.


"Tidak apa, ini hanya karena Aa jatuh," kembali menyisir rambutku dengan jari, berusaha menutupi bekas luka yang tampak. Tampak semburat wajahnya sedih.


"Ayo, ke sini sebentar! Kamu jangan sedih ya, ini cepat kok sembuhnya," melihat dia berjalan masih terseok kayak tadi, kubungkukkan badan dan berjongkok. Memeriksa keadaan kakinya yang dia jinjit.


"Kakinya masih sakit?"


"Masih A' dikit.." lalu dia memainkan kakinya yang masih belum mampu berjalan dengan baik itu. Semoga saja kakinya masih bisa kembali sehat. Ku bungkukkan badan, lalu jongkok melihat pergelangan kakinya. Sedikit kupijit, dan terdengar kekehan anak-anak kecil tadi. Aku lupa masih ada para bocil di sini. Aku bangkit kembali dan berdiri, namun ada satu yang tak wajar di wajah Yukita. Wajahnya merona bagai tomat yang telah matang dengan sempurna.


"Kamu kenapa? Demam?" kuperiksa keningnya, membandingkan dengan suhu tubuhku. Dia sama sekali tidak demam. Tanganku ditepisnya, wajahnya semakin merona. Tiba-tiba aku teringat ekspresi seperti ini kala saat kami berdua memandang laut di atas kapal. Apakah dia kembali menyukaiku? Apa dia merasa malu?


"Sayang..." lalu dia melirik antara melihatku atau tidak. "Mau ikut Aa nonton biskop nggak?"


Seketika wajahnya yang tadi merona, kembali berubah menjadi tawa jenaka. Dia mengangguk cepat, "Mau.. mau.." soraknya.


"Tapi kaki kamu kuat apa tidak ya?"


"Kuat..kuat.. ayo A.. kita nonton bioskop.." kembali dengan tergopoh-gopoh dia menarikku. Lalu berhenti sejenak, "Oiya, kawan-kawan.. Kakak pergi dulu ya..? Kakak nggak mau main lagi aah.. Enakan nonton bioskop.." melambaikan tangannya kepada para bocah itu.


"Kak.. aku ikut donk.." celetuk yang lain.


"Ajak aku juga donk.." timpal yang satu lagi.


Yukita mencabikkan mulutnya menggeleng. "Nggak boleh! Kakak mau pergi pacaran dulu!" ucapnya dengan enteng, dan membuat jantungku tiba-tiba melompat mendengar ucapan yang dianggap enteng itu.


"Yaaahh.. Kakak peliiitt..." rungut salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Biariiin.. weeek.. kata kalian Aa ini pacar kakak kan. Kalau pacaran kan buat ajak jalan-jalan kan?" lalu menarikku dari kerumunan anak-anak itu. "Aa tunggu Yuki ya? Yuki ganti baju dulu. Bilang ke ayah juga.."


Aku hanya mengangguk, entah kenapa dia menerima semua dengan enteng begitu. Kalau tahu dia menerima dengan baik, sejak kemarin sudah aku bilang bahwa aku ini pacarnya. Mungkin benar kata Dirga, aku terlalu banyak berpikir. Yang paling penting itu adalah aksi.


Bersyukur sekali ayahnya mengizinkanku membawa anak bungsunya ini. Aku berjanji akan menjaganya sebaik mungkin. Dia tidak mau lagi berjalan menggunakan alat bantu tongkat. Lebih memilih jalan terseok namun tidak menyusahkan dia membawa benda yang mungkin dikira merepotkan itu.


Saat ini kami menonton film terbaru Spyderman. Dia sangat menikmati tontonan ini, sambil mengunyah popcorn ukuran paling besar.




Syukur lah bila dia suka. Sementara aku hanya sibuk memperhatikan setiap ekspresinya yang riang diajak menonton di sini. Kucoba meraih jemarinya, dia menatapku dengan penuh tanda tanya. Lalu dilepaskan olehnya, mungkin masih terlalu cepat baginya.


"Waaahh.. seru sekaliiii Aa..." ucapnya merasa puas dapat menonton di sini. Dengan jalan masih terseok, aku bantu memapah lengannya.


Tampak beberapa orang memperhatikan kami, entah membisikkan apa. Entah miris melihat pasangan ini, atau kemungkinan lain.


"Sayang, mau ke pantai nggak?" kembali kuajak pindah lokasi lain. Sudah lama sekali dia tidak jalan-jalan bukan? Dia mengangguk dengan semangat.


Aku lajukan kembali motor menuju pantai. Apalagi sesaat lagi ada pemandangan matahari terbenam. Pasti sangat indah.



Kami berkeliling sesaat berjalan di antara deburan ombak. Setelah dia tampak lelah, ku ajak dia duduk di atas pasir.



"Sayang, kamu suka pacaran dengan aku nggak?"


Lalu dia memandangku, kembali tampak wajahnya bersemu.


"Kenapa kamu biasa aja dengan kata pacaran?" aku masih penasaran karena reaksinya yang biasa seperti tadi.


"Yuki tahu kok, sekarang umur Yuki sebenarnya udah dua puluh tahun. Tadi malam ibu bercerita, bahwa Yuki kehilangan ingatan masa dewasa Yuki. Awalnya Yuki tidak percaya, tapi kalender jelas menunjukkan saat ini tahun 2021. Jika beneran umur sepuluh tahun, seharusnya saat ini tahun 2011 kan? Ibu sudah cerita, bahwa Aa orang yang selalu menolong Yuki. Makanya Yuki senang, ternyata Aa itu pacar Yuki."


Ooh, ternyata begitu. Pantas saja dia tidak canggung saat dibilang bahwa aku ini adalah pacarnya. Aku coba kembali meraih jemarinya, dia menatapku cukup dalam lalu tersenyum, melepaskan genggamanku lalu menggeleng.


"Gak boleh.." katanya. "Kata pak ustadz tidak muhrim.." tambahnya.


"Jadi kamu mau tidak, aku jadikan orang yang bisa kusentuh setiap saat?"


"Maksudnya?" kembali melihatku dengan wajah jenakanya.


"Menikah denganku?"


Dia terkejut, dan wajahnya kembali semerah buah tomat. "Malu laah... Yuki kan masih sepuluh tahuun..." menangkupkan telapak tangannya ke wajahnya yang merah padam.


"Tadi katanya udah dua puluh tahun...?" terus kugoda, melihat seberapa dia paham akan kondisinya saat ini.


"Tapi.. tapi.. tapi.."


Kucubit pipinya, gemas.. Masih panjang perjalanan kami akan hal itu. Kasus Aldi yang masih gantung, keadaan sekitar kami yang belum apik seperti seharusnya. Perkuliahan yang masih panjang harus kami jalani.


"Sayaang.. Aku cinta sekali sama kamu.."


Dia menerobos netraku dengan lembut. Dia mengangguk, "Yuki merasa Yuki juga sayang sama Aa.."


...~the end~~...

__ADS_1


Maaf yaaa.. endingnya kurang apik.. Book 2 nya sesuai request aja. Asal lebih 10 orang aja yang minta, nanti otor lanjutkan kisah mereka di book 2..


...*cacau*...


__ADS_2