Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 33 Anak Jalanan (PoV Yukita)


__ADS_3

“Halo sayang,” suara Harry di telepon.


“Halo Harry, lagi dimana?”


“Ini aku lagi keliling nyari makan malam. Kamu sendiri lagi apah?”


“Ini lagi baca-baca buat materi besok. Kamu dengan siapa pergi cari makannya?”


“Biasa Yang, sendiri kalo kamu nggak ada.”


“Aduuh, kasiannya sayangku. Makanya, cari temen juga donk?”


“Males, ah... Eh, lu mau apa?” tiba-tiba suara Harry jadi tinggi kemudian hilang. Tidak terdengar suara lain selain bunyi kendaraan lalu-lalang.


“Halo... Haloo... Harry?” oh Tuhan.. apa yang terjadi dengan Harryku? Kumatikan, lalu kutelepon ulang, namun tidak ada jawaban.


Langsung kucari kunci motor, “Bu, Yuki pergi keluar sebentar bawa motor ya?”


“Kemana?”


“Ke sana sebentar.” Sengaja tidak jelaskan mau ke arah Pasar Baru. Udah mau senja gini pasti ibu larang aku bawa motor kalau terlalu jauh.


Kulajukan motor secepat yang aku mampu. Pikiranku sudah kemana-mana tadi mendengar suaranya. Siapa yang tiba-tiba ada di deket Harry? Kenapa suaranya tiba-tiba hilang?


Kalau tidak salah, ini adalah rumah kostnya Harry. Aku memang tidak pernah singgah ke sini, karena Haryy tidak pernah mengajakku. Tampak seorang ibu paruh baya tengah duduk di depan. Mungkin itu adalah pemilik kostnya.


“Assalamualaikum Bu..”


“Waalaikum salam.”


“Bu, Harrynya ada?”


“Hary???” wajahnya bingung.


“Maksudku Akel, Akelnya ada Bu?”


“Hmmm, nggak tahu juga. Coba saya tanya temannya dulu. Vina.. Vina...” dia memanggil anaknya. Muncul remaja perempuan dan rasanya agak familiar.


“Tolong tanyakan pada Remon, Akel sudah pulang apa belum?”


“Baik Bunda,” anak gadis bernama Vina itu berjalan cepat masuk ke dalam.


“Kamu siapanya?”


“Temannya Bu.”


“Tumben ada temen cewenya ke sini?”


“Masalahnya, tadi dia di luar Bu. Tiba-tiba nggak ada suara aja di telponnya. Makanya aku mau mastiin ke sini, dia sudah pulang dengan aman atau belum.” Ibu itu manggut-manggut paham.


Tak lama anaknya muncul, “Bunda, kata Bang Remon kayaknya dia belum pulang.” Langsung jantungku berdenyut dengan cepat. Dia kemana? Apa yang terjadi dengannya?


“Kakak pacarnya Kak Akel kan?” tanya Vina. Aku hanya tersenyum, namun khawatir.


“Kak, duduk di sini aja dulu!” diberi sebuah bangku plastik. Ibunya tadi sudah masuk lagi ke dalam.


“Iya, makasih Dik.”


“Kenapa Kak? Kok cemas sekali?”


“Nggak tahu juga Dik. Ini dia bikin khawatir aja.” Kucoba lagi menelepon dia, masih belum diangkat. Kucoba hingga berkali-kali, tapi tetap tidak diangkat.


“Apa yang terjadi Kak?”

__ADS_1


“Kalau Kakak tahu, pasti kakak tidak secemas ini Dik!”


Tetiba lampu sorot dari motor masuk ke arah kostan itu. “Itu Kak Akel Kak?”


Langsung ku kejar di tempat dia memarkir motornya, dibuka helm terlihat wajahnya penuh lebam, rambut acak-acakan. “Yukita? Kamu di sini? Sama siapa?”


“Kamu kenapa? Apa yang terjadi?”


“Kamu bawa motor sendiri?” melihat motorku yang terparkir.


“Jawab aku! Apa yang terjadi? teleponmu tak diangkat?”


Diambilnya hape yang diletak di laci motornya. “Iya, maaf telah membuatmu khawatir.” Kutarik dia untuk duduk di kursi. Vina masuk ke dalam, tak lama kembali dengan sebaskom kecil air, ternyata air hangat. Diserahkannya handuk kecil padaku, langsung ku rendamkan handuk tersebut ke dalam air hangat. Lalu kompres bekas luka dan lebam di wajahnya.


“Ada di tempat lain?” tanyaku. Dia hanya menggeleng, namun meringis. Ku sentuh punggungnya, dia mengernyitkan dahi.


”Sakit?” dia hanya tersenyum ketir.


“Buka bajumu!” dia menggeleng.


“Buka!” menggeleng.


“Buka!” bentakku, akhirnya dibuka. Di Punggung dan di dadanya penuh bewarna biru lebam. Kembali ku kompres bagian biru lebam itu.


“Ke rumah sakit?” tanyaku, dia hanya menggeleng dan kembali memakai bajunya.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” dia hanya diam, “Sekali lagi kutanya! Apa yang terjadi?”


“Biasa, urusan lelaki!”


“Jadi urusan laki-laki? Oooh.. ya udah lah!” langsung ku keluarkan kunci motor, dan kuhidupkan kontak lalu kulaju kan motor.


Harry mengejarku dengan motornya. Menglakson dari belakang. Dia hendak memutus jalanku melesat sangat cepat. Dia terus mepet sehingga aku tepaksa berhenti, saat dia berhenti dan turun dari motornya ku lanjutkan lagi jalan sekencang yang aku bisa. Kembali dia mengejarku, melaju tak kalah cepat. Sampai perempatan lampu merah, dia turun dari motornya.


Ditahan tanganku. “Kamu jangan begitu lagi! Itu bahaya!”


“Urus aja urusan lelakimu sana!” ku tarik tangan, namun masih ditahannya.


“Kamu jangan marah! Ada hal yang tak bisa kuceritakan!”


“Ya udah!” kutarik tanganku, tapi masih ditahannya.


“Yuki?” Ibu muncul dari dalam rumah tergopoh-gopoh.


“Kenapa lama sekali? Ibu jadi cemas tadi.” Harry melepas tangannya, lalu menyalami dan mencium tangan ibuku. Ibu hanya terheran dan mengira-ngira.


“Wajahnya kenapa Nak?”


“Tadi habis jatuh dari motor Bu.”


“Haduuuh, hati-hati dong bawa motornya!”


“Iya Bu, lain kali lebih hati-hati lagi.”


“Bu, aku masuk ke rumah ya?” kutinggalkan mereka, masuk kamar dan kukunci.


Jika semua masih dia rahasiakan, untuk apa semua yang kurasa diceritakan padanya. Jika memang begitu, aku juga bisa main rahasia-rahasiaan. Jadi teringat, tadi aku bisa seperti tadi membawa motor. Mengingatnya saja aku jadi ngeri. Tapi Harry, benar-benar lebih gila lagi mengendarai motornya. Aku baru tahu ternyata dia anak jalanan.


***


Hari ini ke kampus, terlihat suasana masih sepi. Sejak pulang dari kostan Harry, teleponnya tidak diangkat, pesannya tidak dibalas.


Entah, rasanya sebel aja dia selalu saja begitu. Semua isi hatiku dia tahu, sementara dia selalu saja ada rahasia. Mili belum datang, namun posisi tempat duduk selalu sama yang kami pilih. Jadi biar dia ikuti aku nanti.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu, satu per satu mahasiswa datang, Mili pun sampai. Harry sampai, kali ini dia memakai topi, dosen pun masuk. Kuliah langsung dimulai, seperti biasa kami menyimak dengan baik penjelasan tugas baru yang akan diberikan.


Perkulihan usai, baru aku menyadari ada kawan yang nggak masuk hari ini. Dosen keluar, dan Harry langsung duduk di sebelahku.


“Kenapa semua chatku tidak dibalas?”


“Ehm... aku keluar dulu ya?” Mili memberi kami ruang untuk berbicara.


“Aku tak ingin kita bertengkar hanya karena masalah ini,” tambahnya.


“Kamu, selalu saja ada rahasia. Sementara aku tak ada rahasia padamu!”


“Bener kamu ingin tahu?” aku mengangguk, “Tapi kamu harus janji tidak akan marah!”


“Emang apa yang terjadi? mengapa aku harus marah?”


“Kamu harus janji dulu!”


“Kemarin, saat aku mencari makan malam Anggi menghadangku.”


“Anggi?” dia mengangguk.


“Sesaat kami berbicara, dia merasa tidak rela kamu lebih memilih aku. Aku ceritakan bahwa sebenarnya kita itu sudah kenal sejak lama, namun dia tidak percaya. Dia menantangku untuk bertarung, sebenarnya aku tidak mau. Aku hendak menghindari dia, malah dia meberikan tendangan di punggungku.”


“Lalu???” tanyaku tidak sabar.


“Ya, aku balas.”


“Jadi karena itu dia tidak hadir hari ini?”


“Mungkin!”


“Apakah lukanya parah? Bagaimana dia pulang?”


“Sudah! Jangan khawatirkan dia lagi!”


“Dia itu temanku Ry! Kamu sudah menghajarnya?”


“Kamu khawatir dengannya?”


“Ya iya lah! Itu dia sampai tidak ke kampus juga?”


“Kenapa kamu tidak mengkhawatirkanku.”


“Jelas aku khawatir padamu, namun seenaknya saja kamu mengatakan urusan lelaki. Jadi urusan lelaki itu melulu mengenai kekerasan?”


“Aku tahu ini akan membuatmu marah. Jika aku menghajar sahabatmu. Tapi kenapa kamu seolah tak khawatir saat tahu aku babak belur begitu? Malah kabur begitu saja meninggalkan aku.”


“Oooh, ya udah! Jika urusan lelaki itu terus melulu main fisik, aku tak akan ikut campur dengan semua urusanmu itu!” lagi, bawaannya sangat kesal.


“Sebenarnya kekasihmu itu siapa? Dia apa aku?”


“Masih perlu jawaban?” bentakku.


“Kamu sepertinya lebih mengkhawatirkan dia dibanding aku!”


“Aku itu mengkhawatirkan kalian berdua! Bisa nggak sih kalian akur sedikit saja biar perasaanku lebih tenang?! Ini, entah bagaimana dia sekarang!”


“Kamu terlalu perhatian pada orang lain, sementara aku yang bertahan sendiri tak kamu pikirkan. Sudahlah! Terserah kamu saja!” dia pergi meninggalkan tanda tanya dan sesak yang dalam hati. Apa maksudnya? Bertahan sendiri? Terserah aku? Apa yang dia pikirkan saat ini?



__ADS_1


__ADS_2