Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 25 (PoV Yukita)


__ADS_3

Besok kami semua harus balik ke Padang.


Perjalanan panjang akan kami lewati lagi. Akel entah ikut dengan kami atau tidak. Hingga saat ini, kami benar-benar lost contact. Sejak pesan panjangnya tidak kubalas, dia sama sekali tak pernah menghubungiku.


Entah mengapa, aku mulai merasakan kehilangan. Merasa sepi tak melihat dia. Merasa kosong saat tak pernah lagi mendengar suaranya. Kupandang Mili yang tengah terlelap, apa aku tega menghianati hatinya? Tapi apakah aku sanggup, menjalani hari tanpa Akel ehmm, Harry.


Akhirnya kami kembali pulang ke Padang, tanpa Akel. Mungkin karena masih masa liburan, dia tidak ikut pulang bersama kami.


“Yuki, mana Akelnya?” tanya Chika yang masih mencurigai hubungan kami. Aku hanya mengangkat bahu.


“Bukankah kalian sangat dekat?” sangat dekat? Apakah benar hubungan kami sangat dekat? Aku pun tak menyadarinya. Betapa bodohnya aku.


Pandanganku beralih ke Mili, ternyata Mili memperhatikan obrolan kami. Karena ketahuan, dia membuang muka seolah melihat pemandangan luar jendela.


“Aku tidak tahu.”


“Bukankah kalian dekat?” aku tak tahu bagaimana untuk menjelaskannya pada Chika.


“Ooh, kemaren kalian berantem ya? Jadi bener kalian ada hubungan khusus nih?”


“Apaan sih? Suka banget ngepoin urusan orang?” celetuk Anggi yang dari tadi diam mendengar perbincangan kami.


“Terus kalian kenapa sampai berantem kayak kemarin?” Chika masih tidak merasa bersalah.


“Kepo!”


“Hahaha, kok malah ada pengganti Akel di sini?” celetuknya.


“Sudah-sudah! Mengapa juga kalian ribut gara-gara Akel?” tukas yang lain.


“Dia mau bareng kita kek, enggak bareng kita kek, yang penting dia tidak mengganggu bukan?” tambahnya.


Semua kembali sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga sampai ke kota asal kami. Perjalanan kali ini terasa lebih panjang dan lebih membosankan dibanding saat kami berangkat.


Masih teringat jelas saat momen kami diatas Kapal. Ketika dia memasangkan jaketnya untukku. Hanya bisa meresapi setiap masa saat berdua dengannya.



saat berdebat menyuruh berhenti menjaga kios pulsa.....



saat tatapan kami beradu, di dalam bis saat dia membuka kacamatanya..



saat kuliah hanya berdua dengannya.


Wajahnya selalu sendu, ternyata dia menyimpan banyak hal yang tak bisa langsung disampaikannya begitu saja.



Dia juga memberikan mawar putih, saat aku dirawat di rumah sakit dulu.. 🥲 tak terasa air mataku menetes tanpa aku komandoi.


Satu semester sudah kami tak berjumpa, hati ini terus merindu tapi tak terobati.


Dulu saat kita bersama tampa mengerti kata hati


Sungguh semua sangat indah


Dirimu yang selama ini merajai jiwa


Hilang tak tahu rimbanya


Sekelabat jantung menahan sakit


Teriris oleh sembilu rindu


Namun, semuanya kutahan meski banyak garam bertaburan dalam luka


harapku, garam itu akan menjadi obat

__ADS_1


Meski dalam waktu lama


Dalam otak terus saja berputar tentang kenangan tanpa kusadari bersama orang yang selalu kupupuk di dalam hati. Oh, seandainya aku tahu sedari awal.. Seandainya aku tak mengabaikan semuanya tentang kamu.. 🥲


"Yuki, gimana tugas dari Pak Burhan?” telepon dari Anggi membuyarkan lamunanku.


“Iya, ini lagu aku kerjakan. Aang lagi dimana?”


“Ini aku lagi otewe ke sana. Mili udah sampai?”


“Belum, aku masih sendirian. Aang buruan ya!”


“Oke..oke..sabar..!”


Sekarang kami sudah tengah semester keempat. Perkuliahan kami dari waktu ke waktu terasa semakin tinggi. Mesti sering ke lapangan, mewawancarai notaris-notaris untuk konsultasi bagaimana permasalahan hukum perdata yang paling sering dialami warga kota ini. Nekat kembali mencoba mengambil mata kuliah senior mengenai hukum pajak.


Sepertinya itu sangat menarik. Karena banyak sekali terjadi tindak penyelewengan pajak di negara kita.


“Doorrr” aku kaget, ada yang mengejutkanku. Itu Mili, “Maaf, lama ya nunggunya?”


“Ahhh, Mili.. bikin kaget aja?”


“Maaf, habis kamu melamunnya udah kayak sampai ke surga gitu.” Dia tersenyum. “Udah sampai mana bikin laporannya?”


“Oooh.. ini.. permasalahan tanah kaum, di sini sering sekali dalam perdebatan. Atas kepemilikannya..” tak lama Anggi datang kemudian kami berdiskusi mengenai tugas.


Waktu berkuliah terus berjalan, kuperhatikan bangku barisan depan ataupun pojok, adalah bangku yang biasa diduduki Akel sebagai mahasiswa teladan. Seandainya aku jujur dari awal, seandainya saja aku tak tahu malu terus mempertahankan dia, seandainya...


“Yuki!” kembali ada yang mengagetkanku.


“Kamu kenapa akhir-akhir ini sering melamun?” tanya Anggi.


“Oh ya? Masa?”


“Sudah beres belum?”


“Oh iya, tinggal dikit lagi.” Kami sedang melaksnakan ujian akhir semester genap. Ternyata hingga hari ini dia belum datang juga.


Apakah harus kucoba menghubunginya? Apakah dia masih mau menerima panggilanku?


“Oh, asik.. Mi...” Anggi mencegatku memanggil Mili. “Kenapa?”


“Kita berdua saja, Mili ikutnya lain kali saja?”


“Masa iya kita ninggalin dia?”


“Ya, ngga apa kog. Sekali-sekali juga kan?”


Lalu kami ketemu di persimpangan Pasarbaru, hingga Mili naik angkot menuju arah rumahnya. Kulanjutkan perjalanan ke pantai bersama Anggi yang sudah menunggu dengan motornya.


“AAH, nggak asik Ang, masa Mili ngga diajak?”


“Ehehehe, maaf deh..maaf lain kali aku janji deh akan ajak Mili dan sekigus traktir dia juga.”


“Jadi dia aja yang ditraktir nih? Aku kaga ditraktir?”


“Oh, kalo itu ngga usah ditanya lagi kaleess!!”


Kami duduk di pantai, tersedia tempat untuk duduk berupa payung yang besar dan beberapa kursi dan meja di setiap lokasi. Kami menikmati es kelapa muda, sambil memandang deburan ombak yang hilang ketika sampai di daratan.


“Kamu suka pantai ngga Ki?”


“Suka...”


“Tapi kenapa biasa saja lihat laut?”


“Kenapa ya? Hemmm... mungkin aku lebih senang lihat pemandangan pegunungan yang hijau.”


“Oh, berarti aku salah memilih tempat donk?”


“Salah apanya?”

__ADS_1


“Seharusnya kita tetap di kampus aja. Kan di tengah hutan tuh.” Ahahaha, banyolannya masih saja garing.


“Ang, aku boleh nanya nggak?”


“Nanya apa?”


“Masalah saat terakhir kita bertemu Akel.”


“Kenapa kamu masih nanya-nanya dia?”


“Hmmm, sekarang dia tidak muncul-muncul. Ini kita sudah mau tingkat tiga. Kenapa dia tidak masuk-masuk ya?”


“Nggak tahu ah! Aku bukan ibuknya mana aku tahu apa yang terjadi.”


“Apa yang terjadi antara kalian waktu itu?”


“Kenapa baru nanya sekarang Piak? Udah lama juga lewatnya?”


“Sebenarnya sudah lama pengen nanya. Tapi....”


“Tapi takut aku nggak mau cerita?”


“Bukan! Aku tahu Aang pasti cerita kalau ditanya.”


“Lalu? Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu?”


“Karena aku takut, hatiku belum siap mendengar kabar tentang dia?”


“Yuki, aku tu mengajak kamu ke sini untuk mengatakan sesuatu. Bukan untuk mendengarkanmu menceritakan laki-laki lain!”


“Ang? Kenapa?”


Lalu dia jongkok tepat di depanku. Sepintas langsung teringat kenangan saat kejadian terakhir kali dengan Akel. Aku langsung berdiri membelakanginya sebelum dia bilang apa-apa,


“Apaan sih Ang? Jangan begitu lah!”


Kembali dia bangkit, “Apa kamu paham isi hatiku selama ini?”


“Yang aku tahu kita itu sahabat Ang! Jangan begini Ang, aku mohon?”


“Aku lah yang harus memohon Yuki. Hampir dua tahun rasa ini aku pendam, hingga aku benar-benar yakin bahwa aku itu suka padamu Yuki!”


“Aku mohon, tarik lagi Ang. Jangan mengatakan itu! Aku mohoon!”


“Apa kamu ragu dengan isi hati aku Ki?”


“Ang, aku.... aku tak bisa Ang!!” langsung ku lari tinggalkan dia sendiri. Kupilih memanggil ojek online dan pulang.


Kenapa ini begitu sulit? Dua sahabat, yang benar-benar kuanggap sebagai sudara ternyata...


Hingga hari ini agar tidak menyakiti hati Mili, aku selalu berusaha tegar untuk tidak pernah membahas-bahas Akel lagi di depannya. Rasanya itu sangat menyakitkan, menahan rindu yang dalam ini demi memikirkan perasaannya. Kenapa malah ditambah Anggi menyatakan perasaannya padaku. Situasi ini membuatku benar-benar bingung.


Teringat lagi pada sahabatku Feli.


^^^[Fel.. lagi dimana?]^^^


[Aku lagi wawancara pada keluarga yang memiliki anak step down nih sob. Ada apa?]


^^^[Ooh, lagi sibuk.^^^


^^^Kalau gitu lanjutkan lah dulu.^^^


^^^Nanti kuhubungi lagi]^^^


[Oke..]


Ternyata belum bisa dengan Feli, lalu kuhubungi Chesi


^^^[Sob, lagi apa dan dimana?]^^^


[Oh, aku lagi jalan dengan cowoku nih Ki, ada apa?]

__ADS_1


^^^[Ooh, ngga apa^^^


^^^Met bersenang-senang]^^^


__ADS_2