Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-1


__ADS_3

Setelah menyerahkan Aldi kepada pihak berwajib, tak lama aku mendengar bahwa dia dilepaskan kembali. Seperti yang sudah bisa aku tebak sebelumnya, dari, gelagat yang ditunjukkan oleh mereka.


Yukita sudah aku ajak masuk kuliah. Matanya terpana akan melihat seluruh bagian bangunan.


"Itu markas Zordon ..." ucapnya berputar, meski kakinya masih belum bisa berjalan dengan baik.


"Udah, ayo naik lagi!" Aku gandeng gadis itu kembali naik atas motor. Lalu kami lanjutkan perjalanan menuju Fakultas Hukum.


Sampai di Fakultas, kami melanjutkan perjalanan nenyusuri lorong. Meski Yukita berjalan dengan terpincang-pincang, dia masih tetap semangat menuju ruang kelas. Dia sungguh sangat penasaran sekolah di UNAND itu seperti apa.


Akhirnya kami sampai di ruang perkuliahan untuk mata kuliah sekarang. Semua mata memandang ke arah kami, melihat sosok yang sudah lebih dua minggu tidak ikut belajar bersama.


"Yuki ... Udah sehat?"


"Yuki?"


"Yuki?"


Begitu lah sambutan dari kawan-kawan. Bahkan yang kemarin sempat marah-marah kepadaku, juga berada di sana. Orang yang pernah mengatakan bahwa orang yang kucintai cacat.


Sementara bagaimana dengan gadis itu? Dia terlihat kebingungan. Melihat orang-orang yang tidak dikenalnya berkerumun mendekatinya. Dia menoleh ke arahku, dengan tatapan penuh arti. 'Siapa mereka?'


Aku hanya mengangguk. "Mereka adalah teman-temanmu!"


"Halo kakak-kakak." Dia melambaikan tangan dengan wajah kikuk sambil menoleh ke arahku.


"Oiya, Yuki gegar otak." sahut yang lain karena Yuki memanggil mereka dengan 'kakak'


"Ayo, nanti kamu harus catat nama kami semua lho?" ucap yang lain.


"Baik," ucapnya dengan ceria, kedua pipinya dihiasi oleh lesung yang sangat cantik.

__ADS_1


"Bro!" Anggi baru datang menepuk pundakku. "Udah gak apa dia diajak kuliah?"


"Iya, begitu lah. Nanti ketertinggalannya biar gue yang bantuin."


Mili menarik Yukita yang masih terbengang-bengong melihat orang-orang baru di sekitarnya ini.


Selama dosen duduk di depan kelas, Yukita masih terlihat bingung memperhatikan guru yang mengajar kali ini jauh berbeda dibanding di saat dia sekolah. Sepertinya kemampuannya dalam menangkap materi yang tidak kasat di pendengaran pun sudah menghilang.


Tenang lah Sayang, aku akan membuatmu bisa menyelesaikan semua ini.


💖


💖


💖


💖


"Yuki pusing A', tadi Pak Gurunya bicara hal yang tidak Yuki ngerti. Terus PR-nya banyak banget." bersungut menyembunyikan wajahnya pada tangannya.


"Nanti kita kerja kan sama-sama. Kamu jangan khawatir!"


"Ternyata punya pacar itu enak? Padahal waktu kemarin aku dibilang pacar sama Rio, sepertinya aku merasa malu dan marah." celetuknya.


"Siapa Rio?"


"Itu, si item, kucel, dan jelek. Sukanya gangguin aku, minta dipukul pakai sapu!" jelasnya.


"Hahaha ... Terus Aa menurut kamu gimana? Kucel, item, dan jelek juga ngga?"


Yukita mengangkat wajahnya. Tanpa malu dia membelai wajahku. Membuatku kelabakan sendiri.

__ADS_1


"Aa ganteng!" ucapnya dengan cuek. Lalu membenamkan wajahnya kembali.


Dengan mudah, dia mengucapkan hal itu. Apa dia tidak tahu? Perasaanku seletika terusik oleh kepolosannya ini.


"Udah ah! Ayo makan siang dulu!"


Wajahnya kembali diangkat, kali ini tatapannya kembali cerah. "Iya, perut Yuki jadi lapar gara-gara gak ngerti apa yang Pak Guru tadi katakan. Rasanya Yuki jadi capek. Ternyata perut Yuki lapar."


"Mau makan apa?"


"Bakso," soraknya.


"Masa makan siang sama bakso? Nanti nggak kuat kuliah sampai sore lho?"


"Yuki mau bakso, Yuki mau bakso." rengeknya.


"Ya udah, terserah kamu aja."


Kuajak naik kembali naik motor. Keluar lokasi kampus. Soalnya bakso di sekitaran kampus tidak ada yang enak.


💖


💖


💖


Sudah dua tumpuk mangkok bakso kosong di hadapan pacarku ini. Saat ini dia sedang melahap mangkok ke tiga. Aku hanya bisa memperhatikan kelakuannya, masih serupa anak kecil, namun porsi makan tiga kali lipat dari anak kecil.


"Haaha ... Siapa ini yang sedang makan di sini ..." ucap seseorang yang mencoel pipi Pacarku ini.


*bersambung*

__ADS_1


__ADS_2