
Setelah bayangan Akel menghilang
“Siapa pengeran berkacamata tadi?” kembali Chesi menggodaku.
“Eh… kalian ini apaan sih? Tadi itu bikin aku malu aja?”
“Siapa tuh?” Feli tak kalah menggodaku.
“Dia itu… temen sekelasku, tahu??”
“Temen.. apa temen???” kembali mereka tertawa.
“Udah deh… jangan goda aku terus! Aku anggap dia sekedar teman biasa saja tahu?”
“Kalau ‘lebih dari teman biasa’ nggak apa kok” tambah Chesi.
“Udah… hentikan! Apa perlu seribu kali lagi aku bilang pada kalian, di hati aku cu-ma ada HARRY…”
“Harry lagi… Harry lagi…? Jangan-jangan karena Hary pula kamu putus sama Aldi”
Putus dengan Aldi? Yang mereka tahu aku putus dengan Aldi waktu awal liburan lalu. Aku jadi teringat kejadian tadi…
__ADS_1
“Iya… ditambah aku nggak cocok dengan Aldi… sudahlah, jangan bahas tentang Aldi lagi!”
“Ki… kamu tahu nggak?”
“Apa?” ku tatap Feli, dia dengan mode wajah serius.
“Dari matanya aku tahu, dia memendam perasaan yang dalam padamu”
“Hahaha… mana mungkin pria dingin itu punya perasaan?”
“Dingin? Nggak ahh... tadi dia ramah kok” ujar Chesi.
“Udaaaaah… jangan bahas tentang dia lagi! Sampai saat ini hanya ada Harry dalam hatiku. Dan dia itu hanya TEMAN”
“Aduh… jangan bikin aku jadi stres deh! Fel, dari mana kamu tahu dia suka sama aku? Dia memiliki kekasih di kampung halamannya kok, dia anggap aku TEMAN dan aku anggap dia TEMAN”
“Ya… pasti aku tahu donk? Scara… calon psikolog gitu lho? Aku tahu bagaimana cara sorang pria menatap seorang wanita yang disukainya. Dan tatapan padamu tadi, begitu dalam… apa kamu nggak merasakannya?”
“Aah… enggak… biasa aja kok.”
“Mungkin dia memang memiliki kekasih di kampungnya, tapi saat ini dia begitu menyayangimu…”
__ADS_1
“Enggak… aku yakin dia itu pria yang setia pada pacarnya itu. Bagaimanapun juga hanya ada HARRY… di hati ku…” jelasku gemes pada dua temanku itu.
“Emang kampung Akel tadi di mana?” sela Chesi.
“Nggak tahu… dia nggak mau ngasih tahu.”
“Dari raut wajahnya sih, antara jawa atau Sunda gitu.”
“Oh iya… mungkin dia orang Sunda? Tadi aku sempet denger dia bicara pakai dialek Sunda gitu.. tadinya ku kira itu hanya perasaanku saja. Kalau pulang kampung, dia naik pesawat terbang. Nggak mungkin donk, di sekitar Sumbar naik pesawat terbang juga?”
“Ya elah… pulang naik kapal terbang sih kemana saja bisa? Ke Medan, Aceh, Pekanbaru, Bengkulu, Jambi ataupun Palembang” tutur Feli.
“Bener juga? Eh… udah ah… jangan ganggu aku lagi! Bentar lagi, study banding aku aku bertemu dengan Harry. Jadi, jangan masukkan sugesti yang aneh gitu! Oh… aku belum sholat, aku sholat dulu. Ches… tolong jagain kalau ada yang datang ya? Kan udah berpengalaman?” langsung ku menuju toilet dan tak tahu lagi apa yang mereka omongkan.
Saat aku selesai Sholat, aku merasa ada ketegangan antara Feli, Chesi dan suara yang tak ku kenal. Sampai di antara mereka, tampak seorang pemuda berkulit agak gelap yang sering isi pulsa di tempatku “Ada apa sih?”
Lalu Chesi membisikkan “itu Tomi, yang sering gangguin hubungan Feli dan pacarnya yang sekarang.”
Langsung berkacak pinggang “Oh… ternyata lu yang namanya Tomi itu? Mentang-mentang ada Feli ya? mau nyari masalah lagi?”
“Bukan… aku Cuma mau isi pulsa”
__ADS_1
"Kalau macam-macam sama kawan gue, awas yeee.."
Lalu yang namanya Tomi tu gak jadi mengisi pulsa, "Sayang cantik-cantik kok galak..." celetuknya.