
“Ehem… ehem…”
Aku lihat ke arah suara.
“Yang barusan itu siapa?”
“Temenku… beli pulsa… emang kenapa?” ku pasang salah satu headset di telinga kiriku. Ku lihat Aldi masuk dan duduk di sebelahku.
“Temen? Yakin?”
“Ya iya lah aku yakin… masa aku lupa sama temen sekelasku sendiri?”
“Oow…”
“Di… kamu nggak kuliah nih? kok datang nggak bilang-bilang?”
“Kuliahnya nanti siang, aku kangen sama kamu makanya aku langsung ke sini. Jika bilang dulu ke kamu, kamu pasti larang aku?”
“Habis… tiap ada yang datang ke sini, kamu selalu saja nggak suka? Nanti gak ada yang mau berlangganan di sini lagi?”
Dan datang seorang pemuda yang tak jauh lebih tua dari kami dan ingin menjual hape yang dibawanya.
“Kalau ini bisa tawari dengan harga delapan ratus ribu saja Da…”
“Tambahin dikit donk? Satu juta ya? Soalnya ini baru enam bulan pakai.”
“Maaf Da… itu sudah harga yang tinggi untuk hape ini”
__ADS_1
“Oh… ya udah…” jawabnya pasrah dan hape itu telah berpindah tangan diganti dengan uang sejumlah delapan ratus ribu rupiah. Hape itu langsung ku pajang di etalase khusus hape bekas. Tinggal melaporkan ke Uda Yefri, orang yang mempekerjakanku di sini untuk diperiksanya.
“Makasih ya Dik?”
“Sama-sama Da?” lalu dia meanggukkan kepala dan meninggalkan kios ini. aku kembali duduk di tempat tadi, di samping Aldi.
“Kenapa harus senyam-senyum segala?”
“Di… jangan mulai lagi deh…???”
“Gimana lagi? Apa kamu lihat orang tadi menatap kamu dengan liar?”
“Tuh kan? Kamu selalu saja cari gara-gara? Nggak mungkin aku jutekkin? Kamu saja yang parno? Menurutku orang tadi biasa-biasa saja. Jangan terlalu posesif begitu?!!”
“Bukannya gitu Ki? Apa kamu nggak lihat? Mata orang itu jelalatan?”
“Di… kamu itu terlalu cemburu. Udah! aku bosan… kamu suka sekali membahas yang tidak penting?”
“Jadi kamu menuduh aku selingkuh?”
“Aku tidak berkata begitu.”
“Memang kamu tak mengatakannya, tapi aku mengerti arah pembicaraanmu itu. Di, aku bukan seorang yang suka selingkuh. Ini semua tuntutan pekerjaan, aku sama sekali tidak macam-macam dan harus kuperlakukan semua orang yang bertransaksi di sini dengan baik.”
“Yuki, apa kamu sayang padaku?”
Langsung terdiam tanpa kata. Aku tak tahu harus berkata apa. Hingga saat ini aku masih sayang pada Harry, tak tergeser sedikit pun.
__ADS_1
“Yuki, jawab pertanyaanku!!!”
“Apa kamu sayang padaku?” ku balik bertanya padanya.
“Aku sangat sayaaaaaang sama kamu, puas? Jawab pertanyaku tadi!”
Apa yang harus kujawab? Mulutku hanya bungkam, memikirkan jawaban untuknya. Ku coba untuk mengatakan ‘sayang’ agar membuatnya senang, tapi mulutku kaku, tak bisa berdusta dan Aldi meninggalkanku begitu saja
“Sudahlah!!! Lupakan saja!!!” dan menghilang.
Apa maksud dengan ‘lupakan saja?’ apa berarti lupakan hubungan yang telah terjalin ini? atau lupakan yang lain? Aku tak mengerti.
Langsung kuputuskan, itu berarti Aldi menyuruhku melupakan hubungan ini dan tandanya dia ingin putus denganku? Langsung kucari perdana yang terpajang di Etalase, ku pilih nomer yang menurutku bagus, kuganti nomor yang ada dan berjanji tak akan menghubunginya lagi. Nomornya yang ada segera kuhapus, agar aku tak ada alasan tak sengaja missedcall dia.
Orang pertama yang ku beritahukan nomer baru adalah teman-teman dekatku; Feli, Chesi dan Rani sudah jadi jomblowati yang bahagia. Aku tak akan pernah menceritakan alasan putus hubungan yang aku sendiri kurang mengerti. Putus dengan Aldi berbeda sekali rasanya dibandingkan ketika berakhir dengan Harry. Ketika putus dengan Zaki juga berbeda dengan putus dengan Harry. Hanya saat berakhir dengan Harry, aku bisa sedih yang cukup dalam, yang tak kuingat kapan aku mulai merasa tak perlu bersedih lagi. Hingga saat ini pun ketika teringat bayangan waktu berlalu bersama Harry, seketika ku mampu menulis sebuah puisi rindu padanya.
Ang… gimana liburannya?
Oh iya.. Ki udah menandatangani surat pernyataan cerai pada Aldi
Liburannya membosankan… benarkah? Sykurlah…
Sekali-kali liburan main di sini donk, Ki bosan sendirian nih
Oke deh… nanti Ang kesana jam 3 an…
Ki tunggu lho... jangan lupa bawa cemilannya ya?
__ADS_1
Oke 🙂
Antara Feli, Chesi dan Rani akulah satu-satunya yang ngejomblo. Feli sedang langgeng-langgengnya dengan ‘abangnya’ anak Biologi. Chesi menjalani cinta yang lagi mesra-mesranya dengan ‘abangnya’ yang satu kampus dengan Feli. Sedangkan Rani lagi asyik-asyiknya menjalankan kisah ‘cinta sejati’ dengan ‘abangnya’ anak Hukum Unand Bawah, itu adalah gelar untuk anak-anak Hukum program ekstensi yang kampusnya memang bukan di Limau Manis, melainkan di Samping Taman Budaya. Sementara aku, jomblo dan kembali menikmati hari-hari sendiri. Aku tak pernah menyesal karena aku memiliki “Cinta dalam Hati.”