Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 51 Pacar Aa'


__ADS_3

Padahal tujuanku meminta bantuan Stevan untuk mengirimkan rekaman ini adalah untuk menyelidiki dengan siapa dia bertengkar, tapi malah mendengarkan hal lain yang tidak pernah kuduga. Kalau minta Stevan mengirimkan semua yang tersimpan bagaimana ya? Bisa mendengarkan semua kegiatan yang dilakukannya mungkin ya? Waduh, apa yang kupikirkan? Seperti orang yang tidak punya kerjaan saja.


Aku lihat rol rekamannya masih ada setengah lagi. Kira-kira masih sekitar lima hingga enam jam.lagi. Waktu saat ini telah meninjukkan pukul tujuh pagi. Sementara perkuliahan akan dimulai pukul sembilan. Lanjut apa tidak untuk mendengar rekaman ini? Saat hati berkata untuk terus melanjutkan, namun berutku berkata lain. Dia meminta untuk segera diisi.


Akhirnya aku segera bergerak untuk membersihkan diri. Setelah itu mencari sesuatu yang bisa kumakan sebagai pengganjal perut di pagi hari. Masih terbayang oleh gendang di telinga ini, akan kata-kata manis yang diucapkannya di saat aku tak ada. Padahal, di saat aku tepat berada di depan matanya, dia sama sekali tidak berani mengatakan apa-apa, seperti yang sudah aku bilang, dia gadis yang sangat pemalu.


Kembali kuperhatikan waktu yang menunjukkan kekuasaan mentari yang terus merangkak menuju singgasana tempatnya bertahta. Aku hanya bisa memandangi fotonya, ternyata kami belum memiliki foto berdua sama sekali, setelah dua bulan kami bersama.


...Cinta, kembali alunan nadamu membuatku hanyut di saat kita yakin melangkah untuk bersama....


...Di saat bunga-bunga tengah bermekaran dengan indahnya, namun duri selalu tak lupa akan tugasnya sebagai pemberi luka...


...Namun, tak akan kubiarkan kelopak indahmu terus gugur karena aku tak akan segan mematahkan duri yang menjadi pemisah di antara kita, yang tega membuatmu layu...


...Cinta, izinkan aku untuk kembali memupukimu meski saat ini kamu hadir menjadi tangkai baru yang belum menampakkan pucuk akan mekaran indah yang akan menjadi mahkota di antara kita...



...Gerbang Depan kampus kami.....


Aku tuju tempat itu, tempat dimana baru saja dia menyanyikan alunan nada yang seketika membuat jantungku ambiiaar setelah sekian lama memcoba bertahan untuk kokoh menghadapi masalah ini.


Di sini aku terduduk, membelai bayangannya yang pernah singgah sendirian dalam kebingungan mencariku yang dengan bodohnya tidak mengatakan bahwa sebuah kemalangan, yang tidak bisa kutinggalkan.



Ini adalah Gedung Rektorat Universitas Andalas, tempatku menempa ilmu saat ini. Apakah ada yang pernah ke sini? Atau melihat bangunan seperti ini? Otornya pernah berkata, bahwa masa kecilnya pernah menonton serial power ranger, markas zordon mirip sekali dengan ini.


__ADS_1


Inilah pemandangan yang kami lihat di saat duduk di sini. Menatap kota ini dari ketinggian, diujungnya diisi pemandangan horizon laut sekian juta kilometer. Kampus ini berjajar di antara rangkaian perbukitan, yang berakhir di kampus politeknik. Menurutku, pemandangan ini sangat indah, entah bagaimana menurut readers.


Melihat pemandangan ini sendirian, hatiku merasa kelabu karena sepi. Akhirnya aku memilih kembali ke gedung perkuliahan yang telah ditetapkan untuk hari ini.


Aku coba duduk di bangku-bangku yang disediakan di sepanjang koridor di kampus ini. Kembali ku pasang hetset untuk mencoba memdengarkan kelanjutan rekaman blackbox ponsel milik Yukita, yang berhasil diretas oleh Stevan.


Saat baru akan memulai mendengarkan, ternyata kawan-kawan mulai berdatangan dan menyapa. Akhirnya aku mengurungkan niat ini sementara waktu. Namum, target untuk segera menyelesaikan penyelidikan ini harus segera diselesaikan.


Kembali ke aktivitas perkuliahan, dimana hari ini entah kesambet setan apa, Anggi duduk di sebelahku. Di sebelahnya lagi, Mili duduk di bangku samping Anggi. Perkuliahan diikuti oleh bisikan di antara dua makhluk teman baik Yukita, entah sedang membahas masalah apa.


Akhirnya perkuliahan selesai, dan aku beranikan diri untuk ikut campur dengan bisikkan mereka. Aku merasa cukup terganggu akibat aktivitas mesuh-mesuh gak jelas dari mereka itu.


"Bisa nggak ya? Bisik-bisik tidak menggangu orang di sebelahnya?"


Lalu dua sahabat minus satu genk rusuh ini saling bertatapan. Mungkin terkejut akan reaksi yang kuberi begitu arogan dan sangat frontal bagi mereka.


"Maaf Kel.. Hari ini kami mau ajak kamu untuk menemani kami ke rumah Yuki nanti pulang sekolah?"


Ada dua mata kuliah yang harus kami tempuh hari ini, dan setelah itu kami bisa bebas agak lebih awal. Besok adalah week end, dan hari ini jadwal terakhir untuk minggu ini. Aku memastikan akan segera membawa laki-laki kurang ajar itu ke penjara. Tapi aku ingin membalasnya dulu dengan kedua tangan dan kakiku. Rasanya tak afdhol sebelum membalas itu dengan tanganku sendiri.


Aku bertiga, menuju ke rumah Yukita langsung usai kuliah terakhir. Mili dibonceng oleh Anggi, sementara aku bawa motor sendiri. Kira-kira bagaimana tanggapannya ya melihat teman dekatnya tiba-tiba berubah menjadi anak berkelakuan imut?


Mili dan Anggi singgah ke toko buah, mungkin merasa sungkan bila tidak membawa apa-apa untuk menemui kawan baik mereka. Sementara aku menuju minimarket mencari sesuatu di dalam freezer eskrim. Mencari sesuatu yang paling cocok bagi gadis kecil itu.


Tak lama kami sampai tepat di halaman rumah sederhana keluarga Yukita. Alangkah terkejutnya kami mendengar suara gadis itu tengah bertengger di atas pohon mangga yang buahnya terlihat masih belum matang itu.


"Aa...Aa...." teriaknya dari atas.


Bukankah kakinya masih belum kuat? Kenapa dia sudah naik ke atas pohon? Bagaimana caranya dia bisa sampai di cabang yang cukup tinggi? Sementara Anggi dan Mili terkekeh melihat aksi hebat kawan mereka yang katanya sakit itu.

__ADS_1


"Bagaimana cara kamu bisa sampai ke atas?" tanyaku. Dibalas hanya dengan cengiran sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya, dan tangannya tengah berpegang pada bagian lain.


"Hati-hati! Nanti kamu malah jatuh...!" masih asik dengan teriakan ala mak-mak yang bukan seorang wanita. Hal ini membuat duo sahabat Yukita terkekeh melihatku yang terus heboh semenjak kami sampai.


"Sumpah.. gue baru lihat lo cerewet kayak emak-emak ternyata.." kelakar Anggi masih dalam kekehannya.


"Iya Ang, aku juga baru lihat ternyata dia punya jiwa emak-emak juga," timpal Mili.


"Apa karena sifat Yuki yang autocopy ke Akel kali ya?" tambahan candanya, membuatku malu sendiri.



Langsung aku ikut memanjat naik untuk menyusul dia. "Hey, anak nakal? Ayo turun dulu!"


Kembali dengan senyuman jahil itu menghiasi bibirnya sehingga membuat aku secara refleks mencubit pipinya karena gemas.


Dia mengelus pipinya yang tadi aku tarik. "Gimana Aa? Asik kan duduk di sini?"


"Siapa yang ada di rumah?" tanyaku sangat heran kenapa dia sampai lolos nongkrong di atas pohon seperti ini. Dia hanya menggeleng, membuatku mengerti akan jawabannya. Tidak ada orang yang mengawasinya,. pantas saja bisa lolos begitu saja.


"Woooii Nyet.. lihat ke sini!" teriak Anggi yang ternyata tengah membidik kami berdua yang tengah berada di atas pohon ini. Entah berapa kali jepretan yang diambil oleh makhluk kurang ajar ini, seenaknya membidik kami dengan kamera ponselnya.


"Sayang, ayo kita turun yuk.. Kamu ingat mereka nggak?"


Lalu dia menunjuk arah Anggi, "Yang itu abang ganteng," setelah itu berganti menunjuk Mili, "Yang itu kakak cantik.. pacar Aa ya?" celetuknya, langsung aku lirik Mili dia mendengar itu dan salah tingkah..



...Pemandangan Sebagian Kecil dari kampus ini...

__ADS_1



...Perpustakaan Pusat tempat kami bertemu kembali...


__ADS_2