Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
Sesion 2 Bab 27 Cuti (PoV Akel/Harry)


__ADS_3

Rasanya tiba-tiba langit seakan runtuh. Aku tak menyangka hasilnya ternyata bisa seburuk itu. Kenapa tidak dari dulu? Mulut ini pun tak bisa menjelaskan semua dengan baik padanya. Hah! Payah! Lemah!


“Kenapa Yuki menangis?” tiba-tiba Anggi muncul entah dari mana.


“Bukan urusan lu!” ku mengira-ngira dimana posisi Yuki saat ini.


“Heh? Ada apa antara kalian? Kenapa Yuki gue lihat nangis?” sekarang suaranya lebih keras lagi, kulihat Anggi menatapku dengan nanar. Aku tahu, sebenarnya dia juga menyukai Yukita.


“Lalu urusan lu apa?”


“Gue biarin lu dekat sama Yuki, karena gue anggap lu orang baik. Tapi ternyata lu sama aja dengan si brengsek itu.” Walah, ni orang. Jelas aku sedang kalut malah nyamai-nyamain aku dengan si brengsek itu.


“Kalo lu tidak tahu apa-apa, lu jangan ikutan. Ini urusan kami berdua!” tiba-tiba dia menarik kerah bajuku. Ni anak kecil? Mentang-mentang posturnya lebih besar gitu? Main hanger aja? Tak terima donk..


“Lu hanya anak kecil! Jangan sok tahu!” dari balik pintu, ternyata Yukita memperhatikan kami. Aku pergi dulu, semoga semuanya baik-baik saja. Ya hanya bisa berkata dalam hati, sangat kusesalkan itu.


Stress, sampai di rumah kuhempaskan tubuh di atas kasur. Sial.. semua terbalik dari apa yang kupikirkan! Lalu harus bagaimana?


“A’ kenapa teh?” Ternyata tanpa kusadari Hady sudah duduk di kasur.


“Dari tadi Aa’ bolak-balik kayak setrikaan. Mikirnya panjang pisan?”


“Aaah, kamu? keluar.. keluar...!” kudorong dia keluar dari kamar.


“Jangan-jangan Aa’ lagi patah hati yah?” dia tertawa lalu meninggalkanku.


Dasar anak-anak! Bikin makin stress aja dia! kembali berpikir, harus bagaimana.. apakah sebelum berangkat besok kujelaskan? Atau ada cara yang lain? Pusing aaahh!! Dirga.. Dirga..!!


Langsung kutunggu dia mengangkat teleponnya.


“Halooo, Bro? Ada apa? Ganggu gue kencan aja!”


“Aah, masih kencan aja lu? Gue pusing banget nih!”


“Kenapa lagi?”


“Nanti lah! Gue nggak mau ganggu acara lu.”


“Oke, bentar lagi gue antar Putri balik. Abis tu gue ke rumah lu. “


Setengah jam kemudian Dirga sudah masuk ke kamarku


“Kenapa Bro? Parah banget kelihatannya.”


“Entah lah Ga. Pusing gue! Semuanya di luar yang gue perkirakan!”


“Apanya yang di luar perkiraan?”


“Tadi udah gue bilang ke dia. gue adalah Harry, Harry yang ternyata dia cari hingga sampai ke sini.”


“Lalu...?”


“Dia marah. Marah besar! Menangis! Gue langsung hilang akal lihat dia nangis gitu!”


“Apa semuanya sudah lu ceritakan?”


“Belum sempat, belum selesai gue cerita dia sudah lari. Bahkan, dia tidak mau mendengar gue.”


Kugaruk kepala dengan kesal, ini benar-benar di luar bayangan “aaahh” padahal dalam benak, hasilnya tidak seburuk ini.


“Coba lu telepon dia sekarang!”


“Gue tak yakin saat ini dia mau bicara dengan gue.”


“Ya udah! Chat aja!”


“Buat apa?”


“Buat jelasin semua!”


“Jelasin apa? Betapa hancurnya hati gue saat ini?”


Tiba-tiba Dirga menoyor kepalaku. “Aaah, sahabat gue ini bucin parah dalam percintaan. Percuma otak encer, kalau sudah menyangkut cinta ilmunya cetek banget!” kudiam mendengar penjelasannya.


“Sekarang ambil hape lu! Ketik semua yang lu lakuin selama ini untuk dia!”


“Tapi, gue tidak mau dia malah menjadi malu. Mending besok saja gue jelaskan sebelum berangkat ke Semarang.”


“Aaah, gue punya ide. Lebih baik lu cuti saja satu semester ini di sana. kuliah dulu di sini?”


“Hah? Terus gue ngga ketemu dengan dia gitu?” dia menganguk dengan senyuman licik.


“Ini buat apa?”


“Mengetes perasaan dia ke lu Bro. Biasanya rindu bisa mengobati semua luka Ry!” ini masih belum bisa kucerna dalam benak.

__ADS_1


“Kalau cuti, harus diurus juga kan, gue juga tetap harus ke sana juga!”


“Minta tolong dengan teman lu yang di sana aja?”


“Teman? Siapa teman gue ya di sana?”


“Jangan bilang lu nggak punya teman di sana?”


“Oooh, ada...Remon. tapi dia anak politeknik.”


“Apakah jarak kampusnya jauh?”


“Masih dalam satu kawasan sih.”


“Ya udah, minta tolong dengannya saja?!”


Tapi, jika memang begitu aku akan cukup lama tak berjumpa dengannya? Sanggup kah bila tidak melihat senyumnya dalam sehari? Tapi jika malah melihat tangisnya, hatiku lebih hancur.


“Apa yang harus gue bilang ke dia Ga?”


“Ceritakanlah semuanya yang lu alami!”


“Tapi jika gue ceritakan itu, membuat harga diri gue sebagai laki-laki jatuh Ga!”


“Aahhh... lu itu kebanyakan mikir! Ini semua hasil pikiran lu! Menunggu waktu yang tepat terus? Hasilnya bagini kan? Makanya! Jangan terlalu banyak mikir! Aksi yang lebih penting Bro!” lalu dia lihat jam dinding,


“Walah? Gila? Udah tengah malam! Gue balik dulu! Nanti nyokap tidak bukain pintu kalau kelamaan balik?”


“Oh, ya.. makasih Ga.. makasih atas semua masukannya.” Dia hanya mengacungkan jempol, dan kuantar dia keluar. Dia memasang jaket, dan melesat dengan cepat dengan ninjanya.


***


Apa yang harus aku katakan?


Yukita...tadi itu hanya...


Aah...bukan..bukan..delete..


Yukita...aku bukan maksud....


Ahh.. masa langsung ke inti? Hemmm..


Yukita, maafkan selama ini.


Bilang apa lagi ya?


Eeh, ubah..ngga enak banget bacanya


Aku bukan tak ingin..


Ganti lagi, ganti lagi!


Bukannya aku tak ingin menceritakannya


Bahkan sejak pertama berjumpa waktu pendaftaran ulang denganmu, langsung ingin kunyatakan


Anehnya kamu langsung hilang


Aku masih teringat kamu bilang kuliah di politeknik


Tahukah kamu? Aku sudah mencarimu hingga ke sana


Dan kenyataan yang kudapat, kamu bukan mahasiswa sana


Jujur, awalnya aku sangat membencimu


Tahukah kamu? Rasa campur aduk saat mengetahui kita satu kelas


Tapi, ternyata rasa cintaku mengalahkan rasa benci


Hingga saat ini, tak bergeser sedikitpun rasa yang kumiliki padamu


Banyak faktor yang membuatku tak bisa mengatakannya


Yang perlu kamu tahu, aku bahagia..ternyata kamu juga masih mencintaiku


Mengejarku hingga kota ini, seperti aku mencarimu hingga ke sana


Apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya dengan senang hati


Untuk terus mencintaiku, atau pun membenciku karena itu


Bukan maksudku untuk mengungkap kembali


Aku tahu lelaki sejati tidak akan mengungkit masa lalu

__ADS_1


Tanpa kusadari selama memilih kalimat yang menurutku paling pas, ternyata sudah hampir pagi. Mungkin dia masih tidur, belum ada satu pun pesanku yang dibacanya. Usai sholat subuh, langsung ku tidur dengan lelap.


“Harry...!! Harry...!” suara Mama masuk ke dalam kamarku. “Harry.. bukankah hari ini kamu berangkat lagi?”


“Ma, masih ngantuk...” kubenamkan kepala di bawah bantal.


Mama membuang bantalku dan menepuk tubuhku yang sudah layu gara-gara tidak tidur semalaman.


“Jadi kamu ngga minat lanjut perjalanan nih? Itu yang kemarin sendirian gimana?” aku tak menyahut,


“Hary... ayo bangun!” aku benar-benar mengantuk


“Yaudah ya, Mama sudah bangunin. Nanti jangan bilang Mama tidak bangunin kamu!” lalu dalam setengah sadar Mama keluar dan tidak memanggilku lagi.


Aku bangun dengan sendirinya setelah tenaga benar-benar pulih. Kulihat jam dinding menunjukkan waktu pukul sebelas. Aku mau ngapain ya? Hah, yang penting mandi dulu biar seger. Segera kumandi, dan menuju meja makan. Melihat tudung saji, kira-kira apa yang dimasak Mama hari ini..


“Ma? Apa tidak masak? Biasanya kalau ada aku Mama masak tiap pagi.”


“Oh, habisnya tadi Mama pikir kamu mau berangkat dan makan bareng rombongan wae, ya udah mama tidak masak.”


“Ohh, iya? Jam segini?” Duh sial, pasti bisnya sudah jalan. Pasti mereka bingung karena aku tidak datang juga. Moga ada kabar. Segera aku cek pesan, ternyata hanya pesan grub yang mengatakan mereka akan berangkat.


Ada foto kondisi dan posisi mereka dalam bus. Kok Yukita tidak ada? Di mana dia duduk? Atau lagi malas ikut foto? Aku cek pesanku pada Yukita, sudah dibaca tapi tidak dibalas.


Lalu aku yang tertinggal sendiri ini harus bagaimana? Akan merasakan kesepian tak berujung hingga waktu yang aku sendiri tak mampu bayangkan.


Beberapa hari kemudian Mama mulai heran, aku tidak bergerak sama sekali untuk packing kembali.


“Hary, apa udah bosen kuliah di sana? Mamah tidak suka ya kalau kamu kuliah Cuma buat main-main?”


“Mah, aku mau cuti dulu di sana. mau lanjutin kuliah di sini dulu agak satu atau dua semester gimana Mah?”


“Waduh, pindah lagi toh? Terus cuti di sana siapa yang ngurusin?”


“Rencana minta tolong wae Mah, sama temen satu kostan.”


“Coba tanyain dulu gih? Dia bisa menolong urus apa engga? Kalau sudah jelas, baru Mamah izinkan lanjut lagi di sini!” Mama mengamatiku.


“Malah melongo?” habis, aku tidak pernah melihat Mama sekeras ini sebelumnya.


“Iya Mah, Iya... nanti aku hubungi dia langsung.”


“Mamah mau ke pasar dulu. Nanti bilang ke Mamah gimana hasilnya yah?!”


“Iya Mah.” Haduh, kena omel juga. Langsung kubuka kontak Remon..


“Halo, assalamualaikum kawan?”


“Walaikumsalam, Mon. Ini saya boleh minta tolong ngga ya?”


“Butuh pertolongan apa kira-kira kawan? Selagi awak bisa, insya Allah awak bantu.”


“Minta tolong ngurusin administrasi cuti saya?”


“Cuti? Ada apa? Apa ada masalah di sana?”


“Oooh, enggak. Hanya ingin melanjutkan kuliah di sini dulu.”


“Kuliah? Kuliah lagi di sana?”


“Oh, sebelumnya saya kuliah di sini.”


“Jurusan apa?”


“Elektro sih.”


“Subhanallah, pantas saja Kawan tetangga kamarku ini pintar sekali.”


“Aah, jangan terlalu memuji gitu. Biasa aja. Bisa kan minta bantuannya?”


“Oooh, insya Allah akan aku bantu. Maunya berapa semester cuti?”


“Coba satu semester ini dulu. Nanti kalau lanjut atau tidak aku kabari lagi.”


“Oooh, baiklah kawan. Insya Allah akan kubantu. Sebagai manusia kita harus saling membantu bukan? Kamu sudah banyak membantuku Kawan.”


“Iya, makasi Bro sebelumnya.”


“Sama-sama kawan.”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh.”


Begitulah, teman sebelah kamar. Orangnya selalu berpikir positif. Sehingga jadi malu pada diri sendiri yang terlalu banyak berprasangka. Lalu saat Mama pulang kusampaikan ada teman yang mau membantu. Baru Mama, mengizinkaku kembali ke kampus lama.

__ADS_1




__ADS_2