Cinta dalam Hati

Cinta dalam Hati
S3-7


__ADS_3

"Aa' itu apa?" pekiknya menunjuk ke arahku.


"Apa?" Dia terus menunjuk ke arahku.


"Iiih, Aa ... Masa punyaku ditaroh sembarang tempat?" Yukita mengambil perlengkapan pribadinya yang mungkin tercecer saat dikemas di atas kasur.


Aku kira dia lihat yang aneh-aneh, tapi nggak mungkin. Masih terkurung dengan aman. Aku menyugar rambut, agar kembali rapi. Lalu kurangkul mengajaknya keluar dari kamar. Hanya bisa mengacak rambutnya karena terlalu gemas dengannya.


Kurangkul pinggangnya saat berjalan. Menikmati panorama sekitar kota ini dengan suhu yang sejuk, cukup menghangatkan karena kami lupa membawa jaket. Terbiasa cuaca kota Padang yang hangat.


Kemana-mana, kami lewati dengan berjalan kaki. Trip perjalanan pertama ialah Ngarai Sianok.




Kami pandangi lukisan nyata ciptaan Tuhan ini. Merangkulnya dari belakang, dan dia menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Apa kamu pernah turun ke bawah sana Sayang?"


Dia menggeleng, "Bahkan Yuki jarang main ke sini. Ini untuk pertama kali Yuki menginap di sini." Karena merasa gemas, dia sudah menjadi istriku, aku cium pipi kanannya.


"Ekheeemmm," terdengar deheman dari seorang ibu yang menjadi pengunjung juga. Dari wajahnya tampak tak suka akan kemesraan kami."


Yukita menarik pipiku karena kesal, dan berjalan cepat meninggalkan ibu itu. "Kenapa kabur? Kita ini suami istri lho?"


"Iya, tapi mereka kan ga tau A', jadi jangan aneh-aneh!" sungutnya.


"Salah sendiri kenapa ajak keluar. Aa maunya kita main di dalam kamar aja kok. Malah diajak keliling-keliling begini."


"Lho? Bukannya buat jalan-jalan?"


"Kita ini lagi honey moon Sayang. Kamu pernah nonton orang lagi honey moon itu mau apa coba?"


"Jalan-jalan Kan? Nanti kalau ada duit, kita ke Bali yuk A?" Kembali dia menikmati angin sepoi-sepoi di udara kota yang sejuk ini.


"Nah, kemana lagi kita Aa?"


"Hmmm, sekarang udah mau malam. Kita nikmati suasana di Jam Gadang saja." Aku genggam tangan dan berjalan beriringan. Orang-orang memperhatikan kami dengan tatapan aneh. Yukita menyadarinya, hanya mengeluarkan cengiran merasa tidak enak hati.



Saat ini kami menikmati atraksi air menari di taman ini. Memang bukan hal baru bagiku, tapi tetap saja terlihat indah. Apalagi kali ini menikmatinya bersama dia yang saat ini sudah menjadi istriku. Dia sangat terpukau melihat gerakan-gerakan indah mengikuti alunan musik klasik. Ini adalah pemandangan baru baginya.

__ADS_1


"Aa, Yuki lapar. Kita makan yuk?"


Kulihat jam di tangan, memang sudah lewat waktu makan. Tapi aku sedang menyiapkan kejutan untuknya. Tepat pulul delapan malam.


"Ya udah, kita balik dulu yuk? Bersih-bersih dulu!" kuulurkan tanganku untuk menyambutnya.


"Iya," dia hanya patuh dan kami menuju kamar.


"Aku duluan mandi!" ucapku.


"Ya, ucapnya kembali mengintip ke arah luar jendela. Mandi super kilat cukup dan setelah itu, kusuruh dia masuk untuk mandi.


"Kamu mandi dulu ya! Boleh berendam lama-lama dalam bathtub. Aa udah siapkan airnya!" ucapku memastikan dia telah masuk ke dalam kamar mandi.


Lalu kusiapkan pakaian yang sengaja kubawa untuk kejutan ini.


...Aa' udah cakep belum?...



Beberapa orang dari hotel membantuku menyiapkan kejutan yang akan kuberi. Mungkin kata orang terlalu mainstreeam. Tapi bagiku ini sesuatu yang sulit untuk kulakukan sendiri. Yukita lebih suka saat aku tidak menggunakan kacamata, kali ini kugantung dulu walau sejenak.



Begini sudah cukup belum ya? Di dalam kantong jas sudah kusiapkan sebuah hadiah dari uang yang telah kutabung dari beasiswa yang kudapat selama kuliah. Tidak apa kan? Baru bisa memberi dari uang beasiswa? Setelah ini aku akan memberikan segalanya untuk dia dari jerih payah keringatku sendiri.


"A'... Aa???" Lalu kuhidupkan lilin satu persatu. Wajahnya terlihat heran. "Kenapa tidak pakai lampu saja?"


...ceklik...


Lampu dihidupkannya. Matanya membesar dan tertawa melihat penampilanku saat ini.



"Aa buat kejutaaan? Aa jadi ganteng banget kalau begini." Ditarik kedua belah pipiku.


"Kamu suka nggak?" Dia hanya tersenyum memamerkan gigi dan lesung pipinya. Aku tarik untuk duduk di bangku yang disiapkan. Lampu kembali aku padamkan. Yukita terlihat bingung, hanya berteman cahaya lilin dia melirik ke sana ke mari.


"Kenapa? Kok wajahnya seperti itu?"


"I-iya, Yuki takut gelap."


Ku raih jemarinya di ujung jariku. "Jangan takut! Sekarang aku adalah suamimu. Tidak ada lagi setan menjadi orang ketiga."

__ADS_1


"Hahaha, Aa ni malah ngelawak."


"Abis, kayak ditemani hantu saja. Ya udah, ayo makan!"


Dia masih merenung melihat makanan yang hanya terdiri dari sepotong ikan salmon itu. "Tenang saja, nanti ada penutup yang kamu suka. Malam ini kita harus makan yang banyak!"


"Ini mah kurang A'!"


"Abisin dulu, nanti akan ada menu lain."


"Oh, ya udah." Mulutnya langsung komat kamit seperti membaca basmallah. Lalu memuliai makan dengan cepat.


"Pelan-pelan!" ucapku yang hanya memperhatikan gerakan makannya.


"Yuki lapar banget tauk! Ini udah telat banget. Punya Yuki abis. Mana yang lain?" tanyanya yang sudah fokus pada makanan di piringku.


"Kamu mau?" Dia mengangguk. "Ayo geser sini! Biar Aa suapin!"


Dengan patuh menggeser kursinya mendekat denganku. Aku potongkan daging ikan itu sesuap demi sesuap. Dia makan dengan lahap. Ternyata sudah habis juga.


"Abis Yang ..." Keningnya berkerut.


"Yuki masih lapaaar!!!' ucapnya dengan buas. "Masa makanan cuma segini sih Aa? Nggak cukup!"


"Iya ... iya ... sabar!" Lalu kupencet tombol yang sudah disiapkan untuk memanggil pelayan hotel yang sudah menunggu di luar.


Lalu pintu dibuka dari luar mendorong trolli makanan ke tempat kami duduk. Kali ini menu yang dihidangkan adalah sejenis pasta. Lalu pelayan hotel berdiri menepi.


Yukita memainkan pasta itu berulang-ulang? "Ini aja Aa? Nggak ada yang lain?"


"Makan aja! Nanti kalau nggak suka makanan di sini, kita cari makan di luar saja. Tapi nyarinya mulai besok. Sekarang udah malam."


Akhirnya, dia memakan makanan itu sambil mulut tertaut ke depan. Makanan itu tidak habis, dan terakhir hidangan penutup. Dia mendapat sesuatu yang paling disukainya. Es krim durian, namun kelas sultan. Kelas sultan membuat porsinya tidak memuaskan hatinya.


"Terlalu sedikit!" sungutnya. Ujung-ujungnya aku menyesal membuat kejutan seperti ini. Padahal aku sudah tahu bagaimana porsi makannya akhir-akhir ini. Setelah pelayan hotel pergi, ujung-ujungnya kami tambah makan mie cup seduh agar dia benar-benar merasa kenyang.


"Seharusnya Aa ngajak Yuki ke sebelah aja tadi!" ucapnya sembari menyeruput mie instan itu. Di sebelah hotel ini terdapat warung ayam dengan logo bapak-bapak kumisan tengah tersenyum.


"Iya, Aa juga nyesel bikin kejutan-kejutan segala. Mending kayak biasa saja."


Jas sudah aku lempar jauh, dasi entah kemana terbangnya. Yang ada saat ini hanya perasaan kesal karena surprise yang aku beri ternyata gagal total. Yukita telah menyelesaikan makan mie-nya. Sementara aku tak menikmati makanan itu berasa kecewa pada diri sendiri.


Yukita seperti berjongkok memungut sesuatu.

__ADS_1


"Aa ini apa?"


*bersambung*


__ADS_2