
Jas sudah aku lempar jauh, dasi entah kemana terbangnya. Yang ada saat ini hanya perasaan kesal karena surprise yang aku beri ternyata gagal total. Yukita telah menyelesaikan makan mie-nya. Sementara aku tak menikmati makanan itu berasa kecewa pada diri sendiri.
Yukita seperti berjongkok memungut sesuatu.
"Aa ini apa?" Mengangkat sebuah kotak bewarna hitam.
Sepertinya itu terlupa karena perasaanku yang tiba-tiba menjadi kesal sendiri. Dia mendekat padaku dengan wajah serius.
"Aa, mungkin ini tercecer sama pegawai-pegawai hotel tadi ya?" tanyanya mengadu padaku.
"Kamu coba membelakangiku dulu!"
"Buat apa?"
"Jangan banyak tanya! Buruan gih hadap ke sana." ucapku.
Dia membelakangiku dan segera kubuka kotak itu. Sebuah kalung yang dikatakan sederhana bagi para pria kaya raya, namun ini cukup mewah bagi kemampuan kantongku. Aku berusaha memberi dia dengan segala sesuatu yang memang hasil jerih payahku sendiri. Kalung itu kupasangkan pada lehernya.
Dia terlihat senang dan kakinya digoyangkan. Membalikan kembali badanya melihat kalung itu dengan wajah cerah. "Cantik sekali Aa." ucapnya.
"Surprise!!!" ucapku. "Coba kamu peluk aku. Biasanya aku yang meluk kan?"
Dia tampak sedikit ragu, mukanya merona. "I-iya. Tapi Yuki malu."
"Kenapa malu? Aku ini suami lho? Setiap menyenangkan hati suami adalah pahala lho?"
"Oh iya, Sholat Isya kita belum kan?" Dia mengalihkan pembicaraan.
"Astaghfirullah. Terlambat. Ayo kita sholat berjamaah dulu!" ucapku langsung masuk kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
💖
Sholat Isya yang sangat terlambat telah kami laksanakan berjamaah. Setelah itu Yukita langsung sibuk dengan ponselnya duduk di atas kasur. Ponselnya masih belum berganti. Benda itu termihat sudah sangat lusuh dan usang. Rencana setelah ini untuk menyenangkan hatinya dengan memberikan hape baru.
"Sibuk amat? Lagi ngapain Sayang?" tanyaku juga langsung naik di atas kasur, duduk memeluknya.
"Ini lagi nyari informasi." ucapnya masih sibuk membaca.
"Informasi apa?"
"Pernikahan."
Jawaban spontannya membuatku tergelak. "Nyari yang bagaimana?"
"Ini tentang hubungan suami istri." jawabnya cuek tanpa malu-malu membuatku semakin terkekeh karena itu.
"Ooh eeh ... i-ini semacam apa ya?" Wajahnya tampak mulau sedikit ragu dan malu.
"Kamu mau mencobanya nggak Sayang?"
Kali ini wajahnya semakin merah merona. Membuatku semakin semangat untuk menggodanya. "Ayo lepaskan dulu hapenya!" Ponselnya dengan segera diletakkan di atas nakas. "Istri pinter!"
Kulepas ikatan rambutnya. Aku ambil sisir, lalu kusisir rambut lurusnya yang tebal. "Rambut kamu bagus Sayang!" Kucium rambut itu. Beralih ke keningnya.
"Aa pengen denger, coba bilang lagi jika kamu mencintaiku!"
"Kan udah tadi?"
"Aa pengen denger ucapan itu setiap saat. Aa seneng dengernya. Menyenangkan hati suami itu ibadah lho?"
__ADS_1
"Itu lagi." Memanyunkan bibirnya. "Yuki sayang sama Aa. Cinta." ucapnya tiba-tiba dengan wajah terharu memelukku. Menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kalo cinta, kenapa mau nangis begitu?" tanyaku membelai rambutnya yang melebihi bahu.
"Yuki ngga tau, Aa kayak banyak apa ya istilahny. Hmmm, usaha ... sabar banget ni ... Yuki yang lupa sama Aa. Hmm, oh ya ... berkorban."
"Dih? Berkorban? Bukannya itu kayak lebaran haji? Emangnya aku kambing?" candaku.
"Ih, bukan itu!" sungutnya.
"Ayo sini, Aa pengen lihat kamu kayak apa cintanya kepadaku." Aku tarik lagi posisinya agar duduk tegal lurus di hadapanku. "Coba sini kamu lihat aku!" Kepalanya ditengadahkan memperhatikanku dengan paksa.
"Menurutmu Aa ini gimana?"
"Aku dengar dari orang-orang Aa itu menyebalkan." ucapnya dengan polos, tidak memedulikan perasaanku.
"Dih, kok gitu?" Dia hanya mengedikkan bahu. "Kalau menurut kamu sendiri Aa gimana?"
"Menurut Yuki, Aa adalah orang paling baik setelah Ayah dan Ibu." Dia meraba kalung yang baru saja terpasang di lehernya. "Aa memberi ini juga. Yuki nggak pernah dibelikan ini sama Ayah dan Ibu."
"Nanti bakalan banyak lagi yang mau Aa kasih ke kamu. Tapi tunggu Aa kerja dulu. Mau bersabar kan?" Dia mengangguk.
"Nah, kita mulai ya?"
"Mulai?" Dia masih bingung dan heran.
Aku tak menunggu reaksinya lagi. Kubuka satu persatu kancing bajuku, membuat wajahnya membulat. Kutarik tangannya untuk langsung menyentuh kulit dadaku. Terasa tangannya mulai bergetar. Mukanya merah padam.
*bersambung*
__ADS_1